Damai Sejahtera (Yohanes 16:31-33)

Damai Sejahtera (Yohanes 16:31-33)

Kata “damai” menjadi begitu terbiasa di telinga kita. Hampir di setiap ibadah, persekutuan, atau pertemuan orang Kristen kita mendengar kata “shalom.” Kata yang berarti “damai” ini merujuk pada keutuhan hidup di dalam Allah.

Akrab mendengar bukan berarti mengalami. Mengerti artinya bukan berarti memahami maknanya. Apakah keunikan damai sejahtera Kristiani? Di dalam dunia yang penuh dengan penderitaan dan pertikaian, mungkinkah ditemukan damai sejahtera yang sejati?

Damai di dalam Kristus

Berbeda dengan Teologi Kemakmuran yang terlalu optimis dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup, Alkitab bersifat jauh lebih realistis. Maksudnya, Alkitab jujur terhadap realita. Apa adanya. Termasuk pada saat Alkitab membicarakan tentang persoalan dan kegagalan orang-orang Kristen.

Beragam kesulitan tetap menjadi bagian dari kehidupan orang percaya. Dari teks yang kita baca, murid-murid Tuhan Yesus bergumul dengan iman mereka. Mereka tidak mampu mengerti perkataan Tuhan Yesus (16:17-18). Ini adalah hal wajar dalam pemuridan (misalnya 2:19-22; 4:31-33; 14:8-9). 

Bahkan pada saat mereka mampu mengerti dan mengimani perkataan Tuhan Yesus (16:29-31), persoalan tidak langsung sirna. Tuhan Yesus secara jujur dan terang-terangan memberitahukan kegagalan yang akan mereka hadapi. Iman mereka memang tidak akan hilang. Hanya saja, keberanian mereka akan sirna. Dengan kata lain, apa yang mampu mereka mengerti dan imani belum tentu mereka mampu menjalaninya.

Di tengah beragam kesulitan inilah Tuhan Yesus membicarakan tentang damai sejahtera (16:33). Damai bukan berarti tidak ada masalah. Damai berarti kehidupan yang tetap utuh walaupun di tengah kegagalan dan kesengsaraan. Kedamaian yang Ia berikan tidak sama dengan yang dunia berikan (14:27).

Kunci untuk memahami paradoks di atas adalah kehidupan yang berada di dalam Kristus. Dalam teks Yunani terdapat sebuah kontras yang paralel di ayat 33, yaitu antara “di dalam Aku kalian memiliki damai” (en emoi eirēnēn echēte) dengan “di dalam dunia kalian memiliki kesengsaraan” (en tō kosmō thlipsin echete). Karena orang-orang Kristen berada di dalam Kristus sekaligus di dalam dunia, mereka bisa memiliki kedamaian sekaligus kesengsaraan pada saat yang sama.

Kedamaian yang Kristus berikan bukan dicapai melalui pemusnahan semua kesengsaraan. Untuk sementara waktu, kesengsaraan tidak diambil dari dunia (15:18-19; 16:33). Untuk sementara waktu, kita pun tidak diambil dari dunia (17:15). Yang penting adalah apakah seseorang di dalam Kristus. Di dalam Dia ada damai sejahtera.

Selama kita masih hidup di dunia yang penuh dengan dosa dan penderitaan ini, kita akan selalu bergumul dengan kesulitan dan kesengsaraan. Berita baiknya, penderitaan tidak akan mengalahkan kita. Bukan karena kita siapa kita atau apa yang kita lakukan, melainkan karena siapa Kristus dan apa yang Ia janjikan bagi kita.

Janji yang bisa dipercaya

Tidak semua janji bisa dan layak untuk dipercayai. Sebagian orang mudah mengucapkan janji tetapi tidak serius menepatinya. Sebagian yang lain membuat janji dan berusaha sungguh-sungguh untuk menepatinya, namun mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mewujudkannya.

Tidak demikian halnya dengan Tuhan Yesus. Janji-Nya untuk memberikan damai sejahtera layak dan sepatutnya dipercayai. Ada tiga alasan mengapa janji-Nya bisa dipercaya.

Pertama, Ia mengetahui hari esok (ayat 32a). Pengetahuan-Nya ini bersifat pasti (18:4). Ia tahu persis bahwa kegagalan murid-murid untuk menyertai Dia di tengah penderitaan merupakan sesuatu yang “akan datang dan sudah tiba sekarang.” Ungkapan ini beberapa kali muncul di Injil Yohanes untuk menunjukkan kepastian dan kesegeraan (4:23; 5:25; 16:32a). Perpaduan antara masa kini dan masa yang akan datang ada pada ungkapan ini.

Murid-murid sebelumnya sudah mengakui bahwa Tuhan Yesus mengetahui segala sesuatu (16:30a; juga 21:17). Namun, Ia bukan sekadar mengetahui apa yang akan terjadi. Ia bukan hanya tidak dapat dikagetkan oleh masa depan. Semua yang akan terjadi itu justru menggenapi rencana Allah.

Dalam konteks Alkitab, ungkapan “kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri” (ayat 32a) merujuk pada sebuah nubuat di Zakaria 13:7 “Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-Ku, terhadap orang yang paling karib kepada-Ku!, demikianlah firman TUHAN semesta alam. ‘Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai! Aku akan mengenakan tangan-Ku terhadap yang lemah” (bdk. Mrk 14:27-28). Yesus adalah gembala yang dibunuh itu (bdk. Yoh 10:11, 17-18), sedangkan murid-murid-Nya adalah “yang lemah” (versi Inggris “yang kecil”). Jadi, bukan hanya kematian Yesus Kristus yang dinubuatkan tetapi juga kelemahan murid-murid-Nya menghadapi peristiwa itu.

Kedua, Ia mengalami penyertaan ilahi yang ajaib (ayat 32b). Apa yang harus dijalani Yesus Kristus di kayu salib adalah hal yang sama sekali tidak mudah. Kelelahan, kesakitan, penghinaan, dan olokan Dia tanggung. Yang lebih menyakitkan, Dia mengalami semuanya sendirian. Tidak ada murid-murid yang menyertai dan menyemangati Dia. Dari perspektif kuno pada waktu itu, kesendirian dipandang sebagai sebuah penderitaan yang besar. Ditinggalkan oleh para pengikut atau orang yang dekat merupakan sebuah aib yang besar.

Apakah Yesus Kristus benar-benar sendirian? Ternyata tidak. Dia tidak sendirian. Bapa-Nya beserta dengan Dia (ayat 32b).

Kesatuan yang intim antara Bapa dan Anak memang sangat ditekankan dalam Injil Yohanes. Beberapa kali Yesus mengatakan bahwa Bapa menyertai Dia (8:16, 29; 16:32). Ia bahkan mengutarakan secara eksplisit bahwa Ia dan Bapa adalah satu (10:30).

Penyertaan yang sama dijanjikan kepada kita. Dalam doa-Nya sebelum penangkapan, Tuhan Yesus memohon agar di mana Dia dan Bapa berada, di situ pula murid-murid-Nya berada (17:20-24). Janji ini telah Dia penuhi. Pada saat murid-murid sedang mengalami ketakutan sesudah peristiwa penyaliban Yesus, Ia mendatangi mereka dan memberikan damai sejahtera (20:19, 21, 26). Sampai sekarang pun Ia terus-menerus menyertai kita melalui Roh-Nya yang kudus di dalam diri kita (14:16-17).

Ketiga, Ia telah mengalahkan dunia (ayat 33). Disertai seseorang bukanlah jaminan kemenangan. Semua tergantung pada seberapa kuat orang yang menyertai kita tersebut. Disertai oleh Yesus Kristus sudah pasti berarti kemenangan, sebab Ia sendiri sudah mengalahkan dunia.

Kita perlu menggarisbawahi di sini bahwa Tuhan Yesus “mengalahkan dunia,” bukan hanya “tidak terkalahkan oleh dunia.” Jika Ia hanya tidak terkalahkan, maka poin teologis yang disampaikan mirip dengan filsafat Stoa. Dalam filsafat ini diajarkan perlunya bertahan melawan semua godaan dan penderitaan di dalam dunia. Melalui disiplin pikiran dan diri yang kuat, para pengikut Stoa berusaha menolak untuk dikendalikan lingkungan. Namun, bukan ini yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Dia bukan hanya membicarakan tentang kesucian-Nya (tidak kalah oleh godaan) atau keberanian-Nya (tidak kalah oleh penderitaan). Ia membicarakan tentang kemenangan-Nya.

Kemenangan Kristus atas dunia sebaiknya dipahami dalam konteks peperangan melawan penguasa dunia ini. Melalui kematian-Nya di atas kayu salib, Kristus akan menghakimi dan melemparkan penguasa dunia, yaitu Iblis (12:31-32). Walaupun para pemimpin Yahudi dan tentara Romawi sebagai perwakilan dari penguasa dunia akan datang untuk menangkap-Nya, mereka tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Nya (14:30).

Yang menarik adalah penggunaan bentuk kata kerja lampau di 16:33. Pada saat Yesus Kristus mengucapkan kalimat ini, Dia belum ditangkap, apalagi disalibkan. Namun, dengan keyakinan penuh Dia berkata: “Aku telah mengalahkan dunia.” Sekali lagi, ini berfungsi sebagai penekanan. Di mata Allah, “akan datang dan sudah tiba sekarang” adalah sama saja. Ia menguasai masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

Kemenangan yang sama diberikan kepada kita. Dalam tulisan Yohanes yang lain juga disinggung tentang kekalahan dunia. Bukan hanya oleh Yesus Kristus, melainkan juga oleh para pengikut-Nya. Bagaimana kita dapat mengalahkan dunia? Ada tiga rahasia kemenangan atas dunia yang diajarkan oleh Yohanes di suratnya yang pertama:

Iman (1 Yoh 5:4-5 “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”)

Firman Allah (1 Yoh 2:14b “Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat”)

Roh Kudus (1 Yoh 4:4 “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia”)

Peperangan sudah dimenangkan oleh Kristus Yesus secara mutlak di atas kayu salib. Pertempuran kecil memang masih berlangsung, tetapi hal itu tidak usah merisaukan kita, apalagi merampas damai sejahtera kita. Kristus pun sudah memberikan rahasia kemenangan bagi kita. Tidak ada alasan untuk kalah melawan penderitaan. Tidak ada alasan untuk menyerah dalam pergumulan melawan dosa. Dia menang. Kita pun memang di dalam Dia. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :