Apakah Terafim itu?

Apakah Terafim itu?

Berbicara tentang ‘terafim’ seringkali diidentikkan dengan kisah pencurian terafim yang dilakukan Rahel, istri Yakub (Kej. 31:19-35), padahal dalam Perjanjian Lama istilah ‘terafim’ muncul beberapa kali. Dalam kitab Hakim-hakim, terafim termasuk dalam salah satu kumpulan isi kuil Mikha  (Hakim. 17:5; 18:14,17,18,20). Istri Daud yang juga adalah anak perempuan Saul, Mikhal, menyelamatkan Daud yang dikejar-kejar oleh Saul dengan cara melarikannya lewat tangga dan menggantikan Daud dengan sebuah terafim yang diletakkan di tempat tidur, seolah-olah Daud sedang tidur (1 Sam 19:13-16). Samuel juga mengibaratkan dosa Saul sebagai bentuk pendurhakaan dan kedegilan yang nilainya sama dengan penyembahan berhala dan terafim (1 Sam 15:23).  Pada jaman reformasi yang dilakukan raja Yosia, terafim termasuk salah satu berhala yang dihapuskan oleh Yosia (2 Raja 23:24). Para nabi juga memberitakan berita tentang bahayanya terafim (Yeh. 21:21; Hosea 3:4; Zak. 10:2).

Sebenarnya apakah terafim itu dan apakah kegunaannya sehingga Rahel mau mencurinya dan berbohong demi terafim itu?

Istilah Terafim

Alkitab memakai istilah terapim untuk merujuk pada kata ‘terafim’ ini. Beberapa terjemahan Alkitab berbahasa Inggris menerjemahkan kata ‘terafim’ ini tidak secara seragam, misalnya NIV, NASB seringkali menerjemahkannya dengan ‘household gods’ atau sekedar ‘idols’, KJV ‘images’ sedangkan ASV lebih konsisten menerjemahkannya dengan ‘teraphim.’

Dalam kemunculannya, kata  terapim selalu berbentuk jamak. Para sarjana Alkitab sendiri cukup bingung dengan usaha untuk memahami asal usul istilah tersebut dan kata yang tepat untuk menerjemahkan ‘terafim’ tersebut. Hal ini terbukti melalui cara para penerjemah Septuaginta yang justru hanya men-transliterasi-kan kata ini dan bukannya menerjemahkannya. Kesulitan untuk menelusuri asal usul kata ini semakin bertambah karena istilah ini hanya muncul di Alkitab.

Setidaknya ada 4 kemungkinan asal usul kata ini menurut para sarjana:

  1. Kata terapim berasal dari akar kata trp berdasarkan akar kata bahasa Semit yang tidak pernah muncul di Alkitab.
  2. Kata terapim berasal dari akar kata ptr yang dalam bahasa Ibrani Alkitab berarti ‘menafsirkan (mimpi)’ (Kej. 40:8,16,22; 41:8,12,15). Menurut Labuschagne, bentuk asli dari kata terafim ini adalah petarim tetapi melalui proses metatesis (perubahan 2 fonem dalam satu kata), kata petarim ini berubah menjadi terapim.
  3. Kata terapim berhubungan dengan kata dalam bahasa Het, tarpis, yang merujuk pada roh yang sifatnya melindungi ataupun berhati dengki. Tetapi dalam Alkitab sendiri tidak ada rujukan pada terafim sebagai roh jahat.
  4. Kata terapim berasal dari kata kerja rapa’ yang artinya ‘menyembuhkan‘. Hal ini semakin didukung oleh kenyataan bahwa di dunia kuno saat itu, salah satu fungsi dewa adalah menyembuhkan penyakit.

Kesulitan untuk menemukan asal usul kata ini sama sulitnya dengan usaha untuk menemukan gambaran atau natur dari terafim ini. Tidak ada gambaran secara gamblang bentuk  terafim ini. Namun dari beberapa referensi ayat alkitab yang memunculkan kata ini ada beberapa hal yang dapat digambarkan dari terafim ini.

Pertama, terafim adalah sebuah benda konkrit. Terafim dapat ‘dibuat’ (Hakim. 17:5) dan ‘dibuang/dihancurkan’ (2 Raja 23:24).

Kedua, terafim memiliki ukuran. Dari kisah dalam Kej. 31 dan 1 Sam 19, setidaknya ada gambaran tidak langsung tentang ukuran terafim. Kej. 31:34 mengatakan bahwa Rahel mengambil terafim ayahnya dan memasukkan ke pelana untanya. Jika Rahel dapat menyembunyikan terafim tersebut di bawah pelana untanya, maka ukuran terafim tersebut berarti cukup kecil, sekitar 30-35 cm. Tetapi terafim milik Mikhal dalam 1 Samuel 19:11-17 pasti cukup besar dan panjang karena terafim tersebut dipergunakan untuk menggambarkan Daud yang sedang tidur.

Ketiga, terafim mempunyai bentuk, dengan wujud patung. Tentang bentuknya, tidak ada ayat Alkitab yang secara eksplisit maupun implisit menggambarkan bentuk terafim ini. Walaupun dilihat dari ukurannya yang mencakup besar maupun kecil, maka belum dapat dipastikan apakah bentuknya juga berbeda. Jika membayangkan kisah dalam 1 Sam 19:11-17, maka ada kemungkinan terafim tersebut berbentuk tubuh manusia sehingga Mikhal hanya perlu menambahkan bagian semacam rambut palsunya (1 Sam 19:13).  

Fungsi Terafim

Perbedaan ukuran dan bentuk terafim setidaknya menggiring pada kesimpulan bahwa terafim bukan menggambarkan 1 benda spesifik tertentu. Setidaknya istilah terafim merupakan istilah umum pada jaman kuno Alkitab yang merujuk pada fungsi umum benda tersebut. Dari referensi ayat Alkitab yang ada, maka ada beberapa fungsi terafim.

Pertama, terafim dipakai orang jaman Alkitab sebagai dewa keluarga.  Hal ini nampak dalam ucapan Laban untuk menyebutkan terafim ‘mengapa engkau mencuri dewa-dewaku?‘ (Kej. 31:19b,30) dan Yakub membalas pertanyaan Laban dengan menyebut terafim sebagai ‘dewa-dewamu’ (31:32). Dalam jaman hakim-hakim pula ada seorang bernama Mikha yang mempunyai kuil keluarga yang di dalamnya juga terdapat terafim (Hak. 17:5). Selain dalam 1 Sam. 19:13,16, LXX menyebut terafim sebagai kenotapia yang secara literal berarti ‘empty tombs.’ Ada kemungkinan terafim adalah semacam warisan turun temurun dari leluhur yang telah mati kepada keturunannya yang masih hidup.  

Kedua, terafim dipakai orang jaman Alkitab sebagai alat untuk meramal masa depan. Hal ini dapat dilihat dari kemunculan ayat-ayat yang menampilkan permusuhan antara Allah Israel dan terafim itu sendiri. Dari permusuhan yang ada, terafim digambarkan sebagai suatu alat untuk memperoleh petunjuk (1 Sam. 15:23; 2 Raja 23:24; Yeh. 21:21; Hosea 3:4; Zak. 10:2) tentang sesuatu yang tidak diketahui.   Dalam 2 Raja 23:24 terafim disejajarkan dengan para pemanggil arwah, pemanggil roh peramal, berhala, dewa kejijikan. Raja Babel juga memakai terafim untuk berkonsultasi tentang ekspedisi militernya (Yeh. 21:21). Tidak digambarkan secara pasti bagaimana bentuk konsultasi yang dilakukan oleh raja Babel dengan terafim; kemungkinan dengan menggunakan panah dan hati binatang. Zakharia juga mengatakan bahwa ‘apa yang dikatakan terafim adalah jahat’ (10:2) berarti terafim memang dipakai oleh orang-orang jaman itu untuk menyatakan sesuatu.

Kesimpulan: istilah ‘terafim’ tidak merujuk pada suatu spesifikasi bentuk dewa tertentu melainkan merupakan sebuah istilah yang merujuk pada dewa keluarga ataupun dewa yang fungsinya untuk meramal masa depan. 

Alasan Rahel Mencuri Terafim Laban, Ayahnya

Kejadian 31 tidak memberikan penjelasan secara tegas alasan Rahel mencuri terafim ayahnya. Tidak adanya informasi tentang alasan pencurian terafim yang dilakukan oleh Rahel menimbulkan beragam interpretasi karena Rahel sebagai pencuri dan Laban sebagai pemilik terafim itu terkesan sangat berusaha mempertahankan keberadaan terafim itu. Rahel menyimpan terafim ayahnya di bawah pelana untanya (31:34) dan ketika Laban hendak memeriksa Rahel, Rahel mengaku kepada ayahnya dengan mengatakan bahwa dia sedang mendapat haid sehingga tidak mampu beranjak dari untanya. Beberapa tulisan dalam Midrash (Bereishit Rabba 74:32; Aggadat Bereishit 52:1; Pirkei de Rebbi Eliezer 35) berusaha menghubungkan tindakan pencurian Rahel tersebut dengan akibat yang diterimanya (dia mati setelah melahirkan Benyamin) karena sumpah yang diucapkan Yakub (Kej. 31:32). 

Sarjana-sarajana Alkitab berusaha untuk menafsirkan makna di balik tindakan Rahel yang mencuri dan mempertahankan terafim ayahnya.

  1. Sejarawan Yahudi, Josephus (Antiquities. Book I. 19.9.311), mengatakan bahwa tujuan Rahel mencuri terafim ayahnya adalah agar suatu saat, jika ayahnya marah karena seluruh keluarganya dibawa oleh Yakub, maka Rahel akan mendapatkan pengampunan dari murka ayahnya.
  2. Rashi (Rabbi Solomon bar Isaac of Troyes -1040-1105) menyatakan bahwa tindakan Rahel mencuri terafim ayahnya adalah untuk tujuan moneteistik, yaitu menjauhkan ayahnya dari tindakan penyembahan para dewa-dewa berhala itu.
  3. Rashbam (Rabbi Samuel ben Meir – 1085-174) menghubungkan keberadaan terafim sebagai alat untuk meramal atau menenung. Dengan demikian tindakan Rahel mencuri terafim itu berhubungan dengan usahanya untuk mencegah supaya terafim itu tidak menyatakan kepada Laban alasan sesungguhnya Yakub membawa mereka pergi.
  4. Ibn Ezra mengatakan bahwa tujuan pencurian terafim oleh Rahel tersebut adalah agar Laban tidak dapat berkonsultasi dengan terafim tentang pelarian Yakub dan keluarganya sehingga Laban tidak dapat mengejar mereka.
  5. Mieke Bal mengatakan bahwa tindakan pencurian terafim oleh Rahel bertujuan untuk melengkapi kemerdekaan/kebebasan Yakub dari Laban dengan cara menambahkan harta kekayaan dari rumah ayahnya. Menurut Bal, kepemilikan terhadap terafim yang adalah dewa keluarga Laban berarti kepemilikan terhadap harta benda ayahnya, termasuk anak-anaknya.
  6. Cyrus H. Gordon mengatakan bahwa kepemilikan terafim berarti kepemilikan tampuk kepemimpinan dalam sebuah keluarga. Gordon mendasarkan pandangannya ini dengan membandingkan kisah Yakub dan Laban dengan catatan dalam lempengan Nuzu. Gordon menjelaskannya sebagai berikut:

Kelihatannya Laban tidak mempunyai anak laki-laki ketika Yakub kawin dengan Lea. Kondisi ini menjadikan Yakub sebagai anak angkat Laban. Jika suatu saat Laban akhirnya mempunyai anak laki-laki, maka anak laki-lakinya dan Yakub harus saling membagi harta warisan Laban, namun anak laki-laki Laban–lah yang berhak atas dewa keluarga Laban, bukan Yakub. Selain itu Yakub hanya diperbolehkan kawin dengan anak-anak perempuan Laban, bukan dengan wanita lain karena jika Yakub mengawini perempuan lain selain anak perempuan Laban, maka Yakub akan kehilangan harta waris Laban (bdg. Kej. 31:50).

Memang tidak ada indikasi jika Laban mempunyai anak laki-laki ketika dia pertama kali berjumpa dengan Yakub (Kej. 29). Kemungkinan Laban baru mempunyai anak laki-laki antara rentang waktu 20 tahun sesudah pertemuannya dengan Yakub (Kej. 31:41) dan Alkitab baru menyebut perihal anak laki-laki Laban pada Kej. 31:1. Dengan adanya anak laki-laki Laban, maka kemarahan Laban atas hilangnya terafimnya dapat dipahami (Kej. 31:30) dengan asumsi bahwa Yakub tahu bahwa dia tidak berhak lagi atas dewa keluarga Laban karena Laban sudah mempunyai anak laki-laki kandung.

Dari perbandingan ini, Gordon melihat bahwa tindakan Rahel mencuri terafim ayahnya bukan semanta-mata untuk kepentingannya, melainkan kepentingan suaminya (walaupun suaminya tidak mengetahui hal itu).

  1. Moshe Greenberg menyatakan bahwa tujuan pencurian terafim oleh Rahel itu bukan untuk kepentingan orang lain, melainkan untuk kepentingan keselamatannya sendiri. Greenberg mengembangkan pandangan Josephus (Antiquities. Book 18.9. 5.344) yang menyatakan bahwa merupakan tradisi orang Mesopotamia untuk membawa dewa keluarga mereka kemanapun mereka pergi, apalagi jika bepergian ke negeri lainnya. Menurutnya, jika memang alasan pencurian yang dilakukan Rahel bersifat spesifik dan pribadi, maka mengapa pada bagian lainnya (Kej. 25:2-4) Yakub meminta dewa-dewa asing yang dibawa oleh anggota keluarganya? Hal ini justru menunjukkan bahwa anggota keluarga Yakub, yang ikut serta kembali ke tanah kelahiran Yakub, juga membawa serta dewa-dewa mereka masing-masing. Jadi tidak ada yang istimewa pada tindakan Rahel mencuri terafim ayahnya, selain sekedar alasan keselamatan pribadi dan keluarganya.
  2. Ktziah Spanier mengajukan pandangan lainnya, yaitu bahwa tindakan Rahel mencuri terafim ayahnya berhubungan dengan usahanya untuk tetap menjadi bagian yang utama dalam keluarga Yakub.

Gambaran keluarga Yakub diramaikan dengan pertikaian kedua kakak beradik yang juga adalah 2 istri yakub, Lea dan Rahel. Rahel adalah istri favorit Yakub (Kej. 29:18,30), namun Allah membuat Rahel mandUl sementara Lea yang kurang dicintai Yakub mempunyai banyak anak (Kej. 29:31).  Cara Lea menamai anak-anaknya (Kej. 29:32-35 ) menggambarkan pengharapan agar dicintai Yakub karena memberikan banyak anak. Karena takut kehilangan cinta Yakub, Rahel memberikan budaknya untuk tidur dengan Yakub dan memberikan anak untuknya. Dan dari cara Rahel memberi nama anak-anak Bilha dapat dilihat bentuk persaingannya dengan Lea. Dan ketika Lea melahirkan anak lelaki terakhirnya, Zebulon, Lea mengatakan, “Allah telah memberikan hadiah yang indah kepadaku; sekali ini suamiku akan tinggal bersama-sama (Ibrani: ‘mengutamakan’) dengan aku, karena aku telah melahirkan enam orang anak laki-laki baginya “ (Kej. 30:20). Akhirnya Allah membuka kandungan Rahel sehingga Rahel melahirkan seorang anak laki-laki, Yusuf (Kej. 30:22-24).  

Kelahiran Yusuf menjadi puncak persaingan ini karena bagian ini seolah-olah muncul sebagai pemicu kepulangan Yakub ke tahan kelahirannya (Kej. 30:25). Untuk tetap mempertahankan posisinya sebagai istri favorit sekaligus mempertahankan anaknya sebagai anak favorit pula, Rahel mencuri terafim ayahnya karena terafim adalah lambang otoritas.  

  1. Hermann Gunkel menyatakan bahwa Rahel mencuri terafim ayahnya karena dia percaya bahwa dengan membawa terafim ayahnya, kekayaan keluarganya akan diwariskan kepadanya. Laban akan lebih rela kehilangan kekayaannya daripada kehilangan dewa keluarga yang diwariskan ayahnya.

Bagikan artikel ini :