Eksposisi 1 Korintus 14:20-25

Eksposisi 1 Korintus 14:20-25

Bagian ini merupakan argumen Paulus terakhir untuk menunjukkan keutamaan nubuat dibandingkan bahasa roh. Sesudah bagian ini Paulus baru memberikan nasihat-nasihat praktis tentang penggunaan beragam karunia roh yang benar di dalam ibadah.

Struktur bagian ini dapat diterangkan sebagai berikut. Ayat 20 merupakan nasihat Paulus. Ayat 21 berfungsi sebagai dasar Alkitabiah bagi nasihat itu. Dari teks ini Paulus lalu menarik aplikasi di ayat 22 beserta dengan penjelasannya di ayat 23-25.

Nasihat: menjadi dewasa dalam pemikiran (ayat 20)

Menafsirkan sebuah metafora tidak selalu mudah. Sebuah metafora mengandung arti berbeda-beda sesuai dengan konteks penggunaannya. Di ayat ini kita menemukan metafora “anak-anak” digunakan dalam arti yang berbeda. Perbedaan ini diisyaratkan melalui penggunaan kata Yunani yang berbeda pula: anak-anak yang pertama adalah paidia (kata benda, dari kata dasar paidion), sedangkan yang kedua adalah nēpiazete (kata kerja, dari kata dasar nēpiazō; berkaitan dengan kata benda nēpios). Hampir semua versi Inggris mencoba mempertahankan perbedaan di atas dengan memberikan dua terjemahan berbeda: “anak-anak” (children) dan “menjadi bayi-bayi” (be infants).

Penggunaan metafora “anak-anak” di ayat 20a (“janganlah menjadi anak-anak dalam pemikiranmu”) dimaksudkan untuk menasihati jemaat Korintus agar tidak bersikap kekanak-kanakan dalam hal pemikiran. Hal ini tidak berbeda dengan teguran Paulus kepada mereka bahwa mereka masih seperti bayi yang tidak siap menerima makanan yang keras (3:1-2).

Dalam kaitan dengan penggunaan bahasa roh di 14:20a, poin kekanak-kekanakan yang ingin ditekankan adalah kecenderungan untuk berpusat pada diri sendiri (egosentris) dan pertunjukan/permainan. Sama seperti anak-anak yang seringkali tidak mau peduli dengan situasi maupun perasaan orang lain, demikian pula sebagian jemaat Korintus yang menggilai bahasa roh dan menggunakannya secara sembarangan dalam ibadah bersama. Sama seperti anak-anak yang hanya mempedulikan apa yang menarik (bukan apa yang berguna), demikian pula jemaat Korintus yang menyombongkan bahasa roh tanpa mau membangun orang lain.

Penggunaan metafora “anak’anak” di ayat 20b (lit. “jadilah bayi-bayi dalam kejahatan”) lebih menyoroti kenaifan (innocence) anak kecil. Anak-anak batita memang tidak luput dari kesalahan. Beberapa tindakan mereka mungkin merugikan orang lain. Walaupun demikian, mereka melakukan itu bukan karena pengaruh dunia yang jahat. Natur mereka memang tercemar oleh dosa sejak dari kandungan (Kej 8:21; Mzm 51:7; 58:4), tetapi kesalahan mereka bukan seperti kejahatan orang dewasa yang muncul dari pikiran yang jahat dan hati yang dipenuhi iri hati. Kita pun tidak jarang tersenyum dan memaklumi kesalahan anak kecil. Dalam kalimat yang lebih pendek, kesalahan anak kecil lebih banyak bersumber dari ketidaktahuan.

Tidak demikian halnya dengan “kejahatan” jemaat Korintus. Mereka sudah dewasa dan mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Mereka sepatutnya paham bahwa menyombongkan karunia bahasa roh dan tidak peduli dengan orang lain adalah sebuah kekeliruan fatal. Sikap mereka menyuburkan ladang perpecahan dan iri hati. Karunia roh yang seharusnya dimaksudkan untuk membangun orang lain ternyata telah berdampak sebaliknya.

Dasar Alkitab bagi nasihat (ayat 21)

Pada ayat ini Paulus mengutip Yesaya 28:11-12 secara agak bebas dan mengaplikasikannya sesuai dengan situasi ibadah di Korintus. Dalam konteks Yesaya pada zaman dahulu, nubuat-nubuat nabi dianggap terlalu sederhana, tidak masuk akal, dan hanya cocok untuk bayi yang baru disapih (28:9-10). Anggapan yang merendahkan ini mungkin dikaitkan dengan Yesaya 28:10 dan 13 yang dalam Bahasa Ibrani terdengar seperti ocehan bayi (ṣaw lāṣāw, ṣaw lāsāw, qaw lāqāw, qaw lāqāw, zĕ’ĕr šām, zĕ’ĕr šām). Apa yang jelas ternyata dianggap seperti omongan bayi yang tak karuan. Bangsa Israel telah menganggap diri mereka dewasa dan bijaksana, namun pada kenyataannya mereka tidak mau mengerti bahasa nabi yang sederhana.

Sebagai respon terhadap penolakan ini, Allah mengirim bangsa kafir untuk menawan mereka. Bangsa kafir ini akan berkata-kata dalam bahasa yang tidak mereka mengerti sama sekali (28:11-12). Bangsa Israel telah menolak firman Tuhan dalam bahasa yang mereka dapat pahami, karena itu Allah menegur mereka melalui bahasa-bahasa yang tidak mereka pahami. Mereka akan menjadi seperti bayi yang baru disapih dan tidak mengerti apapun yang dikatakan oleh para penjajah mereka. Kekacauan linguistik ini menjadi bukti ketidakpercayaan mereka dan tanda penghukuman ilahi atas mereka.

Melalui kutipan ini Paulus ingin mendaratkan tiga poin penting. Pertama, penggunaan bahasa roh tanpa penafsiran akan menempatkan jemaat lain seperti orang Israel di negeri asing. Mereka merasa seperti tamu dan tidak bisa merasa kerasan. Kedua, jemaat yang suka pamer bahasa roh dalam ibadah disamakan dengan bangsa Israel yang sok dewasa dan berhikmat serta tidak mau mendengarkan perkataan-perkataan yang bisa dimengerti. Ketiga, penggunaan bahasa roh tanpa penafsiran juga membawa dampak negatif bagi orang-orang yang non-Kristen. Mereka tidak dapat mengerti apa yang disampaikan, sehingga ketidakpercayaan mereka semakin diteguhkan dan mereka semakin dekat dengan penghukuman Allah. Poin terakhir ini akan diuraikan lebih lanjut dalam bagian di bawah ini.

Aplikasi dari teks Alkitab (ayat 22-25)

Berdasarkan kutipan dari Yesaya 28:11-12 di atas, Paulus menyatakan bahwa bahasa roh adalah tanda bagi orang yang tidak percaya, sedangkan nubuat adalah tanda bagi orang yang percaya (ayat 22). Pernyataan ini telah menimbulkan kebingungan dan banyak perdebatan. Jika bahasa roh adalah tanda untuk orang yang tidak percaya, mengapa Paulus justru mendorong penggunaan nubuat pada saat ada orang-orang non-Kristen di dalam ibadah? Apa arti “tanda” dalam pernyataan ini?

Dari sekian banyak usulan penafsiran, yang terbaik adalah memahami tanda di ayat ini secara berbeda, sama seperti kata “anak-anak” di ayat 20 juga mengandung rujukan yang berlainan.

Bahasa roh sebagai tanda bagi orang-orang yang tidak percaya mengandung makna yang negatif (ayat 22a, 23). Bahasa-bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran ini tidak akan mempertobatkan mereka. Mereka tidak mampu menangkap pesan teologis di balik bahasa roh.

Sebaliknya, sikap mereka terhadap kekristenan akan semakin parah. Ayat 24 menyatakan bahwa mereka akan menganggap orang-orang Kristen sebagai orang-orang gila (mainesthai). Ungkapan ini tidak perlu dibatasi pada kegilaan dalam ritual agama-gama misteri Romawi kuno. Kata mainesthai mengandung arti yang luas (bdk. Yoh 10:20; Kis 12:15; 26:24-25). Seorang pemimpin gereja yang bernama Origen (abad ke-4 M) pernah menyinggung tentang Celsus, salah seorang penentang kekristenan, yang menganggap ibadah Kristen dipenuhi dengan kata-kata yang tidak jelas dan tidak masuk akal serta mirip jampi-jampi tukang sihir. Rujukan ini dikaitkan dengan praktek penggunaan bahasa roh yang sembarangan di aliran tertentu di abad permulaan.

Jika situasi di atas yang terjadi, ketidakpercayaan orang-orang luar akan semakin diteguhkan. Jika terus-menerus berlangsung, penghukuman ilahi atas mereka juga akan semakin dekat. Sama seperti bahasa penjajah dahulu merupakan tanda ketidakpercayaan bangsa Israel dan hukuman Allah atas mereka, demikianlah akan terjadi pada orang-orang luar yang hadir dalam ibadah Kristen yang diwarnai oleh penggunaan bahasa roh secara sembarangan tanpa disertai penafsiran. Dengan kata lain, bahasa roh adalah tanda ketidakpercayaan dan hukuman Allah.

Nubuat sebagai tanda bagi orang-orang yang percaya mengandung makna yang positif (ayat 22b, 24-25). Melalui pesan ilahi yang disampaikan secara jelas dalam nubuat, orang-orang yang tidak percaya pada akhirnya bisa menjadi percaya. Nubuat membuat orang luar mengalami perasaan kekaguman bahwa Allah sungguh-sungguh hadir di tengah ibadah.

Nubuat yang dimaksud di sini bukanlah prediksi masa depan. Jika nubuat dalam konteks ini berbicara tentang hal-hal yang masih akan terjadi di kemudian hari, maka hal itu tidak akan langsung meyakinkan orang-orang luar terhadap kehadiran Allah pada saat itu juga.

Nubuat di sini berhubungan dengan pengungkapan hal-hal yang tersembunyi, yaitu apa yang ada di dalam hati manusia. Pengungkapan semacam ini hanya bisa dilakukan oleh Allah. Tidak ada manusia yang dapat mengenal kedalaman hati orang lain.

Paulus sangat mungkin sedang membicarakan tentang nubuat yang berisi proklamasi injil Yesus Kristus dan pengungkapan dosa yang tersembunyi. Kata “diyakinkan” (elenchetai) dan “diselidiki” (anakrinetai) di ayat 24 dalam mayoritas versi Inggris secara tepat diterjemahkan “didakwa/dituduh” (convicted/reproved; kontra NIV) dan “dihakimi/diminta pertanggungjawaban” (called to account/judged). Semua perkataan dalam nubuat tepat mengenai dan membongkar kebusukan hati orang-orang berdosa. Selain itu, gestur “sujud menyembah” (LAI:TB, ayat 25 pesōn epi prosōpon proskynēsei tō theō) secara hurufiah menggambarkan seseorang yang menyembah Allah sambil meletakkan wajahnya di tanah. Ini menandakan ketidaklayakan di hadapan Allah.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penyampaian injil Yesus Kristus jauh lebih penting daripada pertunjukan bahasa roh yang tidak karuan (tidak disertai penafsirannya). Hal-hal yang anti-rasional dalam ibadah harus dihindari, karena tidak memberi manfaat positif bagi orang lain. Kegemaran banyak gereja terhadap tumbang dalam roh atau pengalaman ekstasi lainnya merupakan bukti nyata bahwa gereja-gereja sekarang tidak berbeda dengan jemaat Korintus yang menggilai bahasa roh. Bukankah seharusnya injil Yesus Kristus yang benar – kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke surga – yang lebih sering diberitakan? Bukankah khotbah yang Alkitabiah – sesuai dengan maksud penulis Alkitab, berfokus pada teks, dan mendalam – yang lebih dijadikan fokus dalam ibadah? Bukankah khotbah yang benar - tentang dosa dan kesucian hidup - yang lebih sering diperdengarkan daripada hiburan kosong tentang kemakmuran, mujizat, dan kesuksesan?

Betapa gereja-gereja sekarang sudah melenceng dari kebenaran! Betapa ibadah-ibadah sekarang yang terlihat begitu hebat ternyata hanyalah perlawanan secara publik terhadap firman Allah! Sudah waktunya bagi para pemimpin gereja untuk bersujud dan memohon pengampunan Allah. Soli Deo Gloria. 

Bagikan artikel ini :