Nama Anak-anak Yakub

Nama Anak-anak Yakub

Perkawinan Yakub dengan 2 kakak beradik, Lea dan Rahel, menjadi sebuah cerita panjang yang cukup menarik untuk dikisahkan. Cinta Yakub yang mendalam diarahkan kepada Rahel dan karena cinta itu pulalah Yakub rela bekerja di rumah Laban (paman Yakub sekaligus ayah Lea dan Rahel) selama 7 tahun (Kej. 29:18). Cinta kepada Rahel itu pulalah yang mengakibatkan 7 tahun yang harus dijalani Yakub bekerja di Laban seperti beberapa hari saja (ay. 20).

Namun ketika tiba saatnya bagi Yakub untuk menagih janjinya mengawini Rahel, Laban malah memberikan Lea dengan alasan bahwa dalam budaya masyarakat yang dia anut, seorang adik tidak boleh menikah lebih dahulu melangkahi kakaknya (Kej. 29:26). Maka Laban memberikan syarat kepada Yakub untuk mendapatkan Rahel, yaitu bahwa Yakub harus menjalani tujuh hari perkawinannya dengan Lea, baru dia akan mendapatkan Rahel. Tidak hanya demikian, untuk mendapatkan Rahel kali ini Yakub harus bekerja tujuh tahun lagi kepada Laban. Totalnya, Yakub bekerja 14 tahun untuk mendapatkan Rahel. Hal ini menggambarkan cinta yakub yang sangat mendalam terhadap Rahel.

Yakub mendapatkan 2 istri, yaitu Lea dan Rahel. Alkitab secara jelas menyebutkan bahwa Yakub lebih mencintai Rahel daripada Lea (Kej. 29:30). Tidak jelas penyebab cinta besar Yakub terhadap Rahel, hanya saja sebelum kemunculan pernyataan Alkitab tentang cinta Yakub terhadap Rahel (Kej. 29:18), Alkitab menyatakan ‘Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya’ (ay. 17). Cinta Yakub yang besar terhadap Rahel inilah yang selanjutnya menyebabkan lika-liku kisah rumah tangga mereka begitu penuh dengan intrik-intrik. Dan Allah digambarkan  seakan memahami kondisi Lea yang tidak atau kurang dicintai oleh Yakub dengan cara membuka kandungan Lea dan pada saat yang sama menutup kandungan Rahel (ay. 31).

Berikut akan dipaparkan nama-nama anak lelaki Yakub yang dilahirkan dari Lea dan Rahel beserta budak-budak mereka, yaitu Zilpa, budak Lea dan Bilha, budak Rahel. Nama anak-anak Yakub yang dilahirkan oleh 4 perempuan itu menggambarkan semangat persaingan di antara Lea dan Rahel.

RUBEN (Kej. 29:32)

Ruben adalah anak pertama Yakub yang dilahirkan oleh Lea. Lea sendiri yang memberi nama anak pertamanya Ruben. Alkitab mengatakan alasan Lea memberi nama anaknya Ruben karena kata Lea ‘sesungguhnya Tuhan telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang aku akan dicintai oleh suamiku’. Setidaknya ada 3 penafsiran besar terhadap nama Ruben. Pertama, nama Ruben diambil dari kata raa beonyi yang artinya ‘dia (laki-laki, merujuk kepada Tuhan) melihat kesengsaraanku’ seperti ucapan Lea di ayat. 32. Kedua, nama Ruben berasal dari kata yeehabani yang artinya ‘dia (laki-laki, merujuk kepada Yakub) akan mencintaiku’ yang juga merupakan ucapan Lea di ay. 32. Ketiga, nama Ruben berasal dari kata ra'a ben yang artinya ‘Lihat, anak laki-laki’. Pada arti yang ketiga inilah banyak para sarjana memahami arti nama Ruben. Nama Ruben merupakan bentuk penegasan (affirmasi) Lea terhadap kondisi yang sangat dipahaminya. Lea tahu bahwa Yakub suaminya kurang menyayanginya. Dia menyimpulkan bahwa dengan kehadiran seorang anak laki-laki (bukan perempuan) menandakan Tuhan yang sangat memperhatikan dia dan sekaligus dengan kehadiran seorang anak laki-laki Yakub akan berpaling mencintai dia. Hal ini tidak mengherankan karena dalam budaya patriarki, keberadaan anak laki-laki jauh lebih berharga dibanding anak perempuan.

Dibanding 3 kelahiran  anak Lea selanjutnya (Simeon, Lewi dan Yehuda), penamaan Ruben memiliki keistimewaan, yaitu nama Ruben disebut terlebih dahulu, barulah Lea memberikan ulasan atas penamaan tersebut. Sedangkan pada penamaan Simeon, Lewi dan Yehuda, Lea menyebutkan ulasannya terlebih dahulu, barulah dia menyebutkan nama anaknya (bdg. ay. 33-35).

SIMEON (Kej. 29:33)

Nama Simeon diambil dari salah satu akar kata dari kata-kata yang muncul dari mulut Lea setelah melahirkan anak laki-laki keduanya, yaitu yang shama yang artinya ‘dia (laki-laki, merujuk kepada Tuhan) telah mendengar’. Dalam memberi nama anak laki-laki keduanya, Lea berfokus bukan pada kondisi yang tidak menyenangkan yang dia alami (tidak dicintai suaminya), tetapi pada bagaimana Tuhan mengatasi situasi buruk yang dia alami. Ternyata kelahiran Ruben sebagai anak sulung Yakub dan Lea tidak mengubah kondisi Yakub untuk berpaling mencintai Lea.

LEWI (Kej. 29:34)

Lea tidak berhenti sampai di Simeon. Walau Yakub tidak mencintai Lea, Yakub masih terus tidur dengan Lea hingga akhirnya Lea melahirkan anak laki-laki ketiganya yang diberi nama Lewi. Nama Lewi diambil dari kata yillaweh, yang artinya ‘dia (laki-laki, merujuk kepada Yakub) akan lebih erat’ kepadaku. Pemberian nama Lewi merupakan pengharapan yang ada di pikiran Lea bahwa dengan kelahiran anak ketiganya, Yakub akan terus mendekat kepadanya.

YEHUDA (Kej. 29:35)

Kali ini Lea tidak menggambarkan keluhan situasi perkawinannya dengan Yakub. Lea hanya berkata ‘Sekali ini aku akan bersyukur kepada Tuhan’. Dan tidak heran kondisinya yang  'odeh (aku akan bersyukur) menjadi alasan dia menamai anak keempatnya dengan akar kata yang sama dengan ‘bersyukur’. Tidak dijelaskan kenapa dia bersyukur, entah karena dia melahirkan untuk keempat kalinya seorang anak laki-laki (sedangkan Rahel bahkan tidak mempunyai seorang anakpun) atau karena kondisi perkawinannya yang membaik (Yakub akhirnya mencintai Lea juga?). Namun kemungkinan yang paling mendekati konteks keseluruhan adalah Lea bersyukur sekali lagi, dia bisa memiliki dan sekaligus memberikan seorang anak laki-laki keempat buat Yakub.

Alkitab mengakhiri ay. 35 ini dengan menyatakan bahwa setelah melahirkan Yehuda, Lea tidak melahirkan anak lagi. Entah memang kandungannya berhenti atau karena Yakub tidak lagi mau tidur dengan Lea. Namun jika melihat Kej. 30:16-17, berhentinya Lea melahirkan anak disebabkan karena Yakub tidak (mau) tidur lagi dengan Lea. 

DAN (Kej. 30:6)

Setelah sekian lama, Alkitab baru memberikan gambaran perasaan Rahel terhadap kakaknya, Lea, yang telah memberikan 4 anak laki-laki kepada suami mereka, Yakub. Rahel dikatakan ‘cemburu’ terhadap Lea. Dia menuntut Yakub untuk memberikan anak juga kepadanya hingga akhirnya permintaan Lea mengakibatkan kemarahan Yakub. Tidak berhenti sampai di sana, Rahel memberikan Bilha, budaknya, untuk tidur dan memperoleh keturunan dengan Yakub. Budaya tidur dengan budak hingga akhirnya memperoleh anak, namun anak yang lahir bukan dipandang sebagai anak dari budak yang melahirkan, melainkan anak dari nyonya dari si pemilik budak, merupakan budaya yang umum berlaku pada masa masyarakat  para bapak leluhur. Bukankah Abraham dan Sara juga mempraktekkan budaya serupa ketika Sara merasa dia tidak akan mampu memberikan anak buat Abraham hingga diberikan budaknya, Hagar, untuk tidur dengan Abraham? Solusi ini juga diambil oleh Rahel, yaitu dengan menyuruh Bilha, budak yang dihadiahkan ayahnya kepadanya, untuk tidur dengan suaminya. Dari tindakan tersebut, Bilha melahirkan seorang anak laki-laki, dan Rahel-lah (bukan Bilha) yang memberi nama buat anak yang lahir dari rahim Bilha dengan nama Dan. Nama Dan berasal dari ucapan Rahel dananni, ‘dia (laki-laki, merujuk pada Tuhan) telah memberikan keadilan kepadaku’. Atau lebih tepatnya ‘dia (laki-laki, merujuk pada Tuhan) telah menjadi hakim atas aku’. Sebagai hakim yang memberikan keadilan buat Rahel, Tuhan telah mendengar permohonan Rahel dan memberikan anak laki-laki buat Rahel.

NAFTALI

Kali kedua Bilha tidur dengan Yakub, Bilha kembali mengandung dan selanjutnya melahirkan anak laki-laki lagi. Kembali Rahel menamakan anak itu dengan Naftali, karena dia mengatakan, ”Aku telah sangat hebat bergulat (naptule elohim niptalti) dengan kakakku..”. Kemunculan kata elohim pada kata tersebut memberikan penegasan bahwa Rahel menyadari bahwa sebenarnya dia juga sedang bergulat melawan Allah (dan dia menang melalui Bilha yang dapat melahirkan anak baginya) dan kemenangan tersebut dapat dipahami sebagai kemenangannya melawan kakaknya, saingan utamanya.

GAD (Kej. 30:11)

Alkitab secara jelas menampilkan persaingan yang terjadi antara Lea dan Rahel, bukan hanya di antara mereka sendiri, tetapi melibatkan budak-budak perempuan mereka. Kali ini ketika Lea tahu bahwa dia tidak mengandung karena Yakub tidak lagi tidur dengannya, Lea memberikan budak perempuannya, Zilpa untuk tidur dengan Yakub. Ketika hal itu terjadi, Zilpa mengandung dan akhirnya melahirkan anak laki-laki yang dinamakan Gad yang artinya ‘mujur’ karena Lea mengatakan sebelumnya ba gad ‘kemujuran telah tiba’ atau bagad ‘dengan kemujuran’. 

ASYER (Kej. 30:13)

Tidak berhenti sampai di sana, Zilpa juga tidur untuk kedua kalinya dengan Yakub sehingga dia kembali mengandung dan melahirkan anak. Ketika anak kedua Zilpa lahir, Lea kembali memberi nama anak itu Asyer. Kata Asyer berarti ‘berbahagia’ atau ‘diberkati’ karena dalam konsep orang Israel kebahagiaan melambangkan berkat. Bahkan karena perasaan bahagia Lea, kata berbahagia atau diberkati muncul  2 kali….”aku berbahagia, perempuan-perempuan akan menyebutkan aku berbahagia.”

ISAKHAR (Kej. 30:18)

Melalui pertukaran buah dudaim yang didapat Ruben dan akhirnya menjadi penentu perjanjian antara Rahel dan Lea (Kej. 30:14-16), akhirnya Lea kembali bisa tidur dengan Yakub dan kembali mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lea menamai anak itu Isakhar yang berasal dari akar kata sakar, yang artinya upah atau hadiah. Lea merasa bahwa kelahiran Isakhar merupakan upah dari Allah atas kebaikan hatinya membiarkan Zilpa tidur dengan Yakub.

ZEBULON (Kej. 30:20)

Setelah kelahiran Isakhar, kembali Yakub tidur dengan Lea dan kembali mengandung dan kembali melahirkan seorang anak laki-laki. Lea menamakan anak itu Zebulon. Ada 2 kemungkinan asal pengambilan nama Zebulon: pertama,  berasal dari kata zebed, artinya hadiah yang berharga, sama seperti kata Lea “Allah telah memberikan hadiah yang indah kepadaku”. Kedua, berasal dari kata yizbeleni, yang artinya ‘menghormati atau menghargai’. Hal ini muncul ketika Lea mengatakan, “sekali ini suamiku akan tinggal bersama-sama dengan aku”. LAI menerjemahkan ‘tinggal bersama-sama’ untuk kata yizbeleni, yang artinya ‘menghormati atau menghargai’. Walaupun anak yang lahir dari budaknya Zilpa, dikategorikan sebagai anak Lea, namun Lea hanya menyebut enam orang anak laki-laki yang lahir langsung dari kandungannya (Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon), tidak termasuk Gad dan Asyer, anak Lea yang lahir dari kandungan Zilpa.

DINA (Kej. 30:21)

Anak terakhir yang dilahirkan Lea dari Yakub adalah Dina, seorang anak perempuan. Penghargaan orang kuno terhadap kelahiran dan keberadaan anak perempuan setidaknya digambarkan dari cara Alkitab menggambarkan tidak adanya reaksi Lea terhadap kelahiran Dina dan tidak adanya arti nama Dina. Hal ini merupakan representasi reaksi orang kuno terhadap anak perempuan. Dalam daftar keturunan anak-anak Yakub (Kel 1), nama Dina tidak muncul.  Nama Dinah sendiri berarti ‘menghakimi’ atau ‘memerintah’ (hampir mirip penamaan Dan, anak kelima Yakub dengan Bilha, budak Rahel).

YUSUF (Kej. 30:24)

Cara Alkitab menggambarkan bahwa keturunan itu merupakan berkat atau anugerah Allah nyata dalam Kej. 30: 22 “lalu ingatlah Allah kepada Rahel” sehingga Allah mendengarkan Rahel yang terus memohon keturunan dan akhirnya Allah pulalah yang membuka kandungan Rahel. Rahel mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan menamakannya Yusuf. Kata Yusuf memiliki 2 kemungkinan arti. Pertama, asaf, artinya ‘menghapus’, sama seperti yang diucapkan Rahel di ay. 23 “Allah telah menghapuskan (asaf) aibku”. Kedua, ysp yang artinya ‘menambahkan’ sama seperti ucapan Rahel di ayat. 24 “mudah-mudahan Tuhan menambahkan seorang anak laki-laki bagiku.” Para ahli berpendapat kemungkinan Rahel mempergunakan permainan kata-kata yang mengandung arti kenyataan pada masa kini “Allah telah menghapuskan aibku” dan harapan di masa depan “mudah-mudahan Tuhan menambahkan…”

BENYAMIN

Kelahiran Benyamin menjadi puncak dari rangkaian generasi Yakub. Ada beberapa hal yang menarik dari kisah kelahiran Benyamin dibanding saudara-saudara dan saudarinya yang lain:

  1. Kelahiran Benyamin yang merupakan anak laki-laki kedua Yakub dan Rahel tidak ditampilkan dalam rangkaian persaingan antara Lea dan Rahel. Cerita tentang kelahiran Benyamin benar-benar terpisah jauh dari rangkaian kelahiran terakhir anak-anak Yakub. Bahkan boleh dikatakan, kelahiran Benyamin cukup mengagetkan pembaca karena Kej. 35:16 tiba-tiba menceritakan tentang Rahel yang hendak bersalin. Bagian ini tidak ditampilkan seperti formula proses kelahiran, misalnya Yakub yang menghampiri Rahel, kemudian Rahel mengandung, dan lain-lain.
  2. Kelahiran Benyamin didahului oleh sakit yang sangat bagi Rahel ibunya, dan bahkan setelah melahirkan Benyamin, Rahel mati (Kej. 35:18-19).
  3. Benyamin merupakan satu-satunya anak Yakub yang lahir di Kanaan, setelah Yakub meninggalkan tanah kelahirannya di Mesopotamia (bdg. Kej. 31:18; 35:6). Anak-anak Yakub yang lain lahir di Mesopotamia.
  4. Dalam kondisi   Rahel    yang  kesakitan   menjelang   melahirkan,   kelahiran  Benyamin   seakan  menghibur  Rahel  karena  seakan  menjadi  jawaban akan pengharapan ucapan Rahel ketika melahirkan Yusuf,  ”mudah-mudah  Tuhan menambahkan  seorang  anak  laki-laki”.  Dan  rupanya  itu  yang  diharapkan Rahel  sebab bidan yang   membantu persalinan mengetahui  keinginan Rahel memiliki anak laki-laki (Kej. 35:17).
  5. Nama Benyamin  adalah  satu-satunya  anak  Yakub  yang  diberi  nama   oleh bapaknya sendiri, yaitu Yakub. Anak-anak Yakub  yang lain diberi nama  oleh ibu    mereka,  yaitu  Lea  dan  Rahel.   Walaupun   memang   sempat  sebelum kematiannya  Rahel  memberi  nama  kepada Benyamin, yaitu Ben-oni. Nama Ben-oni    arti   ‘anak   ratapan/duka’.   Yakub   mengganti     Ben-oni  menjadi Benyamin  yang  artinya  bisa ‘anak keberuntungan’ (Arab)  atau ‘anak tangan kanan’    (melambangkan   kekuatan   keberuntungan   dan  kesehatan’.  

Pada intinya   penamaan   dari  Ben-oni   menjadi   Benyamin   merupakan   bentuk kontras.   Entah  tidak   disebutkan   alasan  Yakub  mengganti  nama  Ben-oni menjadi Benyamin, namun jika  melihat arti  Ben-oni yang memiliki  konotasi buruk,  maka  kemungkinan  Yakub  menghindarkan pemahaman negatif dari nama Ben-oni  bagi anak  laki-lakinya.   Bagi Rahel, penamaan Ben-oni  dapat ditafsirkan  sebagai   bentuk  kekecewaan  Rahel  terhadap  proses  persalinan yang dihadapinya, yang digambarkan amat sulit.

Dari penjelasan-penjelasan tentang latar belakang penamaan anak-anak Yakub akan didapati bahwa nada persaingan memang menjadi alasan penamaan mereka. Dari pilih kasih Yakub terhadap Rahel dari Lea, kemandulan Rahel (dikontraskan dengan kesuburan Lea) memicu kemunculan nama-nama itu pula. Namun yang menarik  adalah, walaupun Yakub lebih mencintai Rahel daripada Lea sekaligus terhadap keturunan mereka, Lea dikuburkan berdampingan dengan Yakub, bukan Rahel yang berdampingan dengan Yakub (Kej. 49:29-31). Di kuburan yang sama, berdampingan pula kuburan Abraham-Sara, Ishak-Ribka  dan akhirnya Yakub dan Lea.

Terlepas dari semua intrik yang ada, yang melatarbelakangi kelahiran anak-anak Yakub, kedua belas anak laki-laki Yakub telah menjadi perwakilan bagi kedua belas suku bangsa Israel. Dari kedua belas suku Israel juga akhirnya memicu kemunculan angka 12 murid Yesus.

Dari kedua belas suku yang berasal dari anak-anak Yakub, ada beberapa suku yang menonjol dibanding lainnya. Suku Lewi, merupakan suku yang dipilih Tuhan untuk selanjutnya memegang tampuk keimaman umat Israel. Miriam, Musa dan Harun berasal dari keturunan suku Lewi (Kel. 6:15-19). Suku Benyamin, walau merupakan suku dari anak bungsu, dari sanalah keturunan raja pertama Israel, yaitu Saul, berasal (1 Samuel 9:21). Rasul Paulus pun berasal dari suku Benyamin (Filipi 3:5). Suku Yehuda merupakan salah satu yang paling menonjol dari kedua belas  suku Israel. Walaupun kisah yang ditampilkan Alkitab tentang suku Yehuda sangat tragis (Kej. 38), namun Tuhan justru memilih suku Yehuda sebagai penggenap garis keturunan Mesias (Kej. 49:10). Raja Daud, Salomo dan keturunannya merupakan keturunan suku Yehuda, termasuk di dalamnya Yusuf, ayah Tuhan Yesus (Matius 1). Suku dari garis keturunan Yusuf lebih terkenal dengan suku Efraim dan Manasye yang merupakan nama kedua anak Yusuf (Kej. 46:20; Yosua 14:4a). Walaupun Yusuf terkesan sebagai pribadi yang lebih menonjol sisi positifnya daripada Yehuda, dalam kedaulatanNya Tuhan tetap memilih Yehuda sebagai garis keturunan Mesias, bukan Yusuf.

 

Bagikan artikel ini :