Buah

Buah

Beberapa kata Ibrani dan Yunani diterjemahkan “buah”.

a. Harfiah

Munurut Taurat Musa pohon buah-buahan dianggap haram selama 3 tahun pertama seusai ditanam. Dianggap milik Tuhan pada thn ke-4, dan boleh dimakan buahnya barulah pada thn ke-5. Dengan demikian kesehatan pohon tidak diganggu oleh pemetikan buah terlalu cepat, Tuhan dihormati, penguasaan diri dilatih, dan mungkin juga orang diingatkan tentang masuknya dosa ke dalam dunia melalui makan buah terlarang. Nilai pohon buah-buahan demikian tinggi, sehingga untuk beberapa abad pohon itu dilindungi ketat juga dalam perang yang kejam (bdk. Ul. 20:19-20). Anak pernah disebut “buah kandungan” (mis Ul. 28:4; Mzm. 127:3).

b. Kiasan

Ada banyak kiasan mengenai buah. Buah Roh (Gal. 5:22); berbuah bagi Allah (Rm. 7:4) atau mati (Rm. 7:5); buah kekudusan (Rm. 6:22); buah nabi-nabi palsu (Mat. 7:16); buah Israel yang diibaratkan pohon anggur (Hos 10:1); “buah pada musimnya”, artinya kemakmuran yang sungguh (Mzm. 1:3; Yer 17:8); buah Injil (Rm. 1:13; Kol. 1:6), buah kebenaran (Fili 1:11; Yak 3:18); buah yang sesuai dengan pertobatan (Mat. 3:8; bdk. Am 6:12). “Perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa” dipertentangkan dengan buah terang (Ef. 5:9-11).

Pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua betas kali dalam Wahyu 22:2 melambangkan kehidupan yang berlimpah (bdk. Yoh 10:10); tapi sementara orang memandangnya “sakramen dari perjanjian perbuatan, yang dapat dibandingkan dengan roti dan anggur yang disediakan Melkisedek (Kej. 14:18) dan dengan Perjamuan Kudus dalam perjanjian anugerah (Mat. 26:29)” (Baker”s Dictionary of Theology, 1960, hlm 231).

Sumber: Ensiklopedia Alkitab Masa Kini (Software Sabda 4)

                                                            DTS

 

 

Bagikan artikel ini :