Mengenai Kebangkitan Orang Mati

Mengenai Kebangkitan Orang Mati

Segala sesuatu yang sampai sekarang diuraikan mengenai keselamatan kita, mendorong kita supaya mengangkat hati ke sorga agar kita mengasihi Kristus yang belum pernah kita lihat dan supaya karena percaya kepada-Nya, kita bersorakk-sorai dengan kegembiraan yang tak terperikan dan yang berseri, sampai kita mencapai tujuan iman kita, seperti kata Petrus (1Pet 1:8). Seseorang baru dapat dikatakan benar-benar maju dalam Injil, bila sudah biasa merenungkan terus-menerus kebangkitan yang penuh berkah itu.

Pentingnya perkara itu sendiri akan merangsang kerajinan kita. Bukannya tanpa alasan Paulus berkata bahwa kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka sia-sia dan berdustalah seluruh Injil (1 Kor. 15:13-15). Sebab dalam hal itu “maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” oleh karena kita yang menjadi sasaran kebencian dan penghinaan orang banyak ini, agaknya setiap jam terancam bahaya “sebagai domba-domba dalam pembantaian”. Maka kewajiban Injil akan jatuh, tidak hanya dalam satu hal tetapi dalam keseluruhannya, yang rangkumannya ialah penerimaan kita sebagai anak serta perwujudan keselamatan kita.

Oleh karena itu, marilah kita memberi perhatian pada perkara yang bukan main pentingnya ini. Biarpun pembicaraannya agak berkepanjangan, tetapi ketekunan kita tak akan mengendur. Saya telah mengundurkan tentang hal itu. Maksudnya agar pembaca, setelah menerima Kristus, Sumber keselamatan sempurna itu, belajar naik lebih tinggi dan mengetahui bahwa kepada-Nya dikenakan kebakaan dan kemuliaan sorgawi agar seluruh tubuh dibuat serupa dengan Kepalanya. Dan memang oleh Roh Kudus diri-Nya sering dijadikan contoh kebangkitan.

Memang sukar dipercaya bahwa tubuk-tubuh yang sudah membusuk sampai binasa akan bangkit lagi kalau sudah tiba waktunya. Maka meskipun sudah ditegaskan oleh banyak filsuf bahwa jiwa itu tidak mati, hanya sedikit orang yang menerima kebangkitan daging. Dan meskipun hal itu tidak dapat menjadi dalih, namun kenyataan itu mengingatkan kita bahwa kebangkitan itu adalah suatu hal yang tinggi, sehingga perasaan orang tidak dapat tertarik padanya. Maka Alkitab menyediakan dua pertimbangan yang bisa membantu iman agar mengatasi rintangan sebesar itu: yang satu terletak dalam kesamaan [kita] dengan Kristus, yang lain dalam kemahakuasaan Allah.                  

Setiap kali kita membicarakan tentang kebangkitan, hendaknya di mata hati kita muncul gambaran Kristus. Di dalam tabiat yang telah diambil-Nya dari kita, Dia telah menempuh jalan hidup yang fana ini sedemikian rupa hingga sekarang, setelah memperoleh hidup yang kekal, Dia menjadi jaminan hidup bagi kita untuk kebangkitan kelak. Kristus telah bangkit supaya kita menjadi teman-Nya dalam kehidupan yang akan datang. Dia oleh Bapa dibangunkan kembali karena Dia adalah Kepala dari Gereja, dan karena Dia dengan cara apapun tidak mau dipisahkan dari-Nya. Dia dibangunkan oleh kuasa Roh yang pekerjaan-Nya ialah menghidupkan kita bersama dengan Dia. Pokoknya, Dia dibangunkan supaya menjadi Kebangkitan dan Kehidupan. Seperti telah kami katakan, dalam cermin itu terlihat oleh kita bayangan hidup dari kebangkitan itu. Begitu pula bagi kita hendaknya itu menjadi landasan yang kokoh umtuk menopang hati kita, asal saja kita tidak bermurung atau bersedih hati karena kita masih harus menanti agak lama. Karena menentukan waktu-waktu semau kita bukanlah hak kita, maka kita harus menunggu dengan sabar sampai Allah berkenan mendirikan kerajaan-Nya.

Paulus mengajarkan dengan ringkas bahwa, seperti yang telah kami katakan, dalam membuktikan kebangkitan itu pikiran kita harus diarahkan pada kekuasaan Allah yang tak terhingga. “Dia akan mengubah tubuh kita yang hina ini”, katanya, “sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp. 3:21). Hendaklah kita ingat pula bahwa tak seorangpun benar-benar yakin akan kebangkitannya kelak, kecuali yang  mengaku kemuliaan kekuasaan Allah karena dihanyutkan rasa kangum.

Pikiran manusia sepantasnya tak putus-putusnya dipenuhi oleh renungan akan hal itu. Namun, kematian dinamakan orang akhir segala-galanya dan kebinasaan manusia seakan-akan segala ingatan akan kebangkitan dengan sengaja hendak dihapuskannya. Pada segala zaman, kebodohan yang dungu ini merajalela, bahkan Gereja pun diterobosnya; sebab orang Saduki telah berani menyatakan dengan terang-terangan bahwa tidak ada kebangkitan (Mat.12:18), malahan bahwa jiwa itu akan mati. Tetapi, supaya ketidaktahuan yang keterlaluan ini tidak memaafkan siapa pun, maka naluri yang wajar selalu menimbulkan gambaran kebangkitan dalam mata orang-orang yang tidak percaya. Sebab, apa gunanya ada kebiasaan penguburan yang suci dan yang tak terlanggar itu, kalau bukan untuk menjadi jaminan akan adanya kehidupan baru?

Dalam pada itu, iblis tidak hanya menumpukkan akal manusia supaya mereka menguburkan ingatan akan kebangkitan itu bersama dengan batang tubuh, tetapi ia telah mencoba pula merusak pokok ajaran ini dengan berbagai angan-angan agar pada akhirnya hilang. Saya tidak menyebut-nyebut lagi bahwa sudah pada zaman Paulus ia mulai menentangnya. Tetapi, tak lama kemudian muncul orang-orang Chiliast, yang membatasi Kerajaan Kristus sampai seribu tahun. Tetapi, rekaan itu terlalu kekanak-kanakan, sehingga tak perlu dan tak layak menyanggahnya. Mereka juga tidak disokong oleh Wahyu Yohanes, yang sudah pasti mereka pakai untuk membunga-bungai kesesatan mereka; karena angka “seribu” itu (Why. 20:4) bukanlah kebahagiaan Gereja yang kekal, melaikan mengenai berbagai kerusuhan yang masih akan dihadapi Gereja selama masih ada perjuangannya di bumi. Selanjtnya, seluruh Alkitab berseru bahwa keselamatan orang-orang yang ditolak, tidak bakal ada akhirnya.

Kepercayaan pada semua hal yang tidak terlihat oleh mata kita atau yang jauh melampaui pengertian kita, hendaknya kita ambil dari ucapan-ucapan Allah yang pasti, atau kita buang sama sekali. Oleh mereka yang menyatakan bahwa anak-anak Allah akan dapat menikmati warisan kehidupan yang akan datang selama seribu tahun, tidak dirasakan betapa besar penghinaan mereka terhadap Kristus dan Kerajaan-Nya. Sebab, seandainya mereka tidak diberi hidup kekal, Kristus sendiri pun- dan mereka akan menyerupai kemuliaan-Nya–tidak diterima dalam kemuliaan yang kekal; seandainya kebahagiaan mereka ada akhirnya, sementara pulalah sifat Kerajaan Kristus yang kepastiannya menjadi andalan kebahagiaan itu. Pendeknya, atau mereka sama sekali awam dalam perkara-perkara Allah, atau dengan kejahatan yang curang mereka mencoba menggoyahkan semesta karunia Allah dan kuasa Kristus. Sebab dalam penggenapan kedua hal ini terletak hanya dalam pembaharuan kehidupan kekal segenapnya, setelah dosa dihapuskan dan kematian ditelan.

Jiwa tidak mengalami kebangkitan karena tidak mati

Selain kegila-gilaan ini, masih ada dua lagi yang dimaksudkan oleh orang-orang yang terlalu besar rasa ingin tahunya. Ada yang mengira bahwa jiwa akan bangkit bersama tubuh, seolah-olah manusia seluruhnya binasa. Ada pula yang mengaku bahwa jiwa tidak bisa mati, tetapi mengira bahwa kepada jiwa itu akan dikenakan tubuh baru: dan dengan demikian mereka mengingkari kebangkitan daging.

Adalah suatu kesesatan yang keji bila roh, yang diciptakan menurut gambar Allah, dianggap sebagai hembusan napas yang dengan segera menghilang, yang hanya selama kehidupan fana ini menghidupkan tubuh; adalah suatu kesesatan yang keji bila Roh Kudus dibinasakan, dan akhirnya dari bagian kita yang paling mencerminkan keallahan dan yang memperlihatkan tanda-tanda kebakaan, karunia itu dirampas sehingga keadaan tubuh lebih baik dan lebih unggul dari keadaan jiwa.

Alkitab memberikan ajaran yang lain sama sekali: ia mengibaratkan dengan kemah yang, katanya, kita tinggalkan bila kita mati. Karena Alkitab menilai kita dengan memperhatikan unsur yang membedakan kita dari hewan yang tak berakal. Jika jiwa itu tidak lebih panjang umurnya dari tubuh, apakah kiranya yang menikmati kehadiran Allah bila sudah terpisah dari tubuh? Dan jika jiwa itu, setelah menanggalkan tubuh, tidak tetap menyimpan hakikatnya, dan tidak dapat mengandung kemuliaan yang penuh berkat, maka Kristus dulu agaknya tidak akan berkata kepada si perampok, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Marilah kita percaya pada kesaksian-kesaksian yang sejelas itu, dan tidak ragu-ragu mengikuti contoh Kristus, yaitu menyerahkan jiwa kita ke dalam tangan Allah pada saat kita mati (Luk. 23;46); atau sesuai dengan contoh Stefanus, memohon Kristus agar menerimanya (Kis. 7;59), Kristus yang bukan tanpa alasan dinamakan “Penggembala dan Pemelihara jiwa” yang setia (1 Ptr. 2:25).

Bertanya-tanya mengenai keadaan jiwa dalam waktu antara kematian dan kebangkitan kita, tidak boleh dan tidak berguna. Banyak orang menyiksa dirinya dengan mempersoalkan tempat apakah yang mereka duduki, dan apakah mereka sudah mengenap kemuliaan sorgawi atau tidak. Tetapi, adalah bodoh dan gegabah untuk menyelidiki perkara-perkara yang belum diketahui itu lebih jauh dari pada yang diizinkan Allah. Alkitab (Yoh. 12:32) berkata bahwa Kristus ada bersama mereka, dan menerima mereka di Firdaus tempat mereka terhibur; tetapi bahwa jiwa orang-orang yang ditolak menderita siksaan yang sesuai dengan yang sepantasnya mereka peroleh. Tetapi, Alkitab tidak maju lebih jauh. Maka guru atau sarjana manakah yang mampu menyatakan kepada kita apa yang disembunyikan Allah? Soal tempat, sama bodoh dengan sepelenya; karena kita tahu bahwa jiwa itu tidak mempunyai ukuran panjang dan lebar sebagaimana terdapat pada tubuh. Sementara itu, karena Alkitab di banyak bagiannya memerintahkan supaya kita dengan sabar menantikan kedatangan Kristus, dan sampai saat itulah Alkitab menangguhkan mahkota kemuliaan itu, maka sebaiknya kita menerima batas-batas yang ditetapkan oleh Allah bagi kita. Sehabis menempuh susah payah perjuangan, jiwa orang-orang yang saleh akan masuk ke tempat perhentian yang penuh kebahagiaan, sambil dengan kegembiraan penuh kesenangan menantikan nikmat kemuliaan yang telah dijanjikan. Dengan demikian semuanya dibuat menantikan sampai Kristus sang Penebus muncul.

Yang dibangkitkan ialah tubuh kita

Yang sama mengerikan ialah kesesatan orang-orang berkhayal bahwa jiwa itu tidak akan menerima tubuh yang mereka kenakan sekarang, tetapi akan diberi tubuh baru, yang berlainan. Walaupun sekarang di dalam diri kita ada banyak yang tidak layak bagi sorga, tetapi hal-hal itu tidak akan menghalangi kebangkitan. Dan tidak ada satu perkara pun yang lebih jelas perumusan di dalam Alkitab dari pada yang mengenai kebangkitan daging yang kita kenakan itu. “yang dapat binasa ini,” kata Paulus, “harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati” (1 Kor.15:54). Seandainya Allah menciptakan tubuh-tubuh baru, di manakan lalu perubahan sifat itu? seandainya kita harus diberi tubuh baru, maka di manakah persamaan antara Kepala dan angota-anggota-Nya? Kristus sudah bangkit: apakah Dia bangkit sambil menciptakan tubuh baru bagi diri-Nya? Tidak, tetapi seperti yang telah diramalkan-Nya, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Tubuh yang dapat mati yang dikenakan-Nya dulu, diterima-Nya kembali. Sebab memang tidak bakal besar manfaatnya binasakan dan diganti dengan tubuh baru. Hendaklah kita juga berpegang pada persekutuan yang telah diberikan oleh rasul (1 Kor. 15:12): bahwa kita bangkit, karena Kristus telah bangkuit. Sebab, tidak ada yang lebih masuk akal daripada anggapan bahwa daging kita, yang di dalamnya kita membawa kematian Kristus sendiri, tidak mendapat bagian dalam kebangkitan Kristus.

Kita harus puas dengan apa yang dikatakan Alkitab mengenai hal kebangkitan

Sekarang ini kami perlu berbicara sedikit tentang cara kebangkitan. Saya katakan “sedikit”, sebab Paulus menamakan suatu rahasia (1 Kor.15:51), dan menganjurkan supaya kita tahu diri dan mengendalikan nafsu kita untuk berfalsafah dengan cara yang terlalu bebas dan terlalu tajam. Pertama-tama harus dipegang teguh apa yang telah kami katakan, bahwa menurut substansinya kita akan bangkit dalam daging yang sama dengan yang kita kenakan sekarang, tetapi bahwa sifatnya akan berlainan. Demikian pula, yang dibangkitkan adalah daging Kristus yang sama dengan yang telah dikorbankan, namun daging itu mempunyai keunggulan karena karunia-karunia lain, seakan-akan daging yang sama sekali berlainan.

Tidak perlu ada jangka waktu antara kematian dan permulaan kehidupan kedua; sebab dalam "sesaat saja, dalam sekejap mata”, akan terdengar bunyi nafiri untuk membangkitkan mereka yang sudah mati dalam keadaan yang tidak dapat binasa, dan mengubah orang yang masih hidup secara mendadak hingga mencapai kemuliaan yang sama.

Dalam hal ini kita terlebih-lebih harus sederhana, jangan sampai kita tidak mengingat betapa kecilnya kita, sehingga kita terlalu berani membumbung ke atas sampai disilaukan oleh kilauan kemuliaan sorgawi. Kita merasa juga, bagaimana kita terangsang oleh keinginan yang melampaui batas untuk mengetahui lebih dari pada yang dibolehkan. Dari situlah sewaktu-waktu timbul pertanyaan-pertanyaan yang sia-sia dan yang merugikan.

Orang-orang yang haus akan pengetahuan yang hampa, menyelidiki berapa nanti perbedaan tingkat antara para nabi dan para rasul, dan juga antara para rasul dan para martir; beberapa derajat perbedaan antara perawan-perawan dan yang sudah kawin; pendeknya, tidak ada tersisa satu penjuru pun dari langit yang tak mereka usut-usut. Hendaklah kita menempuh jalan yang tersingkat, yaitu bahwa kita puas sekarang dengan memandang “dalam cermin” dan dengan “gambaran yang sama”, sampai “kita melihat muka dengan muka”. Sebab, di antara orang banyak, hanya sedikit yang memikirkan mana jalan yang menuju ke sorga; tetapi semuanya ingin mengetahui sebelum waktunya, bagaimana keadaannya disana. Hampir semuanya lamban dan malas turun ke dalam perjuangan, namun dalam khayal sudah mereka bayangkan kemenangan mereka.

Sumber : Institutio (Yohanes Calvin)

Bagikan artikel ini :