MASA PENUH KESEMPATAN

MASA PENUH KESEMPATAN

BAB 2  BERHALA SIAPAKAH YANG MENGHAMBAT?

 

Apabila kita ingin menjadi orangtua yang efektif bagi Kristus di dalam kehidupan anak-anak remaja kita, sangat penting bagi kita untuk bersikap jujur mengenai berhala-berhala kita sendiri – tempat-tempat di mana kita cenderung mengganti penyembahan dan pelayanan kepada Sang Pencipta dengan penyembahan dan pelayanan kepada ciptaan.

 

Mulailah dengan Hati Anda

Sungguh membuang waktu saja jika kita memikirkan strategi-strategi untuk menjadi orangtua bagi anak-anak remaja tanpa terlebih dahulu memeriksa diri kita sendiri. Jika hati kita dikendalikan oleh sesuatu yang bukan Allah, kita sama sekali tidak akan dapat melihat kesempatan emas untuk menjadi orangtua bagi remaja itu sebagai kesempatan. Sinisme budaya kita terhadap remaja bukan hanya mengungkapkan siapa remaja itu sebenarnya, melainkan juga mengungkapkan apa yang para orangtua layani.

Ada prinsip penting yang dinyatakan sangat jelas dalam Yehezkiel 14:4, yaitu apa yang mengontrol hati kita pasti mengontrol hidup kita. Berhala dalam hati kita akan selalu menjadi batu sandungan bagi diri kita sendiri.

Saya begitu yakin bahwa berhala-berhala kita telah menyebabkan kita melihat kesempatan sebagai suatu pencobaan dan membuat kita menyerang balik anak-anak remaja kita dengan kata-kata penghakiman, tuduhan, dan penghukuman yang pahit, bersikap kepada mereka tanpa toleransi dan kemarahan. Allah memanggil kita untuk mengasihi, menerima, mengampuni, dan melayani, namun seringkali kita hampir tidak bisa bersikap baik.

Mari kita lihat beberapa berhala yang cenderung dimiliki orangtua dan bagaimana berhala-berhala itu membentuk sikap kita kepada anak-anak remaja kita.

 

Berhala Rasa Nyaman

Orangtua yang menuntut kenyamanan, kemudahan, keteraturan, kedamaian, keleluasaan, ketenangan, dan keharmonisan tidak akan memiliki perlengkapan yang memadai untuk menghadapi peperangan ini. Mereka akan mulai melihat remaja mereka sebagai musuh. Mereka akan mulai berperang melawan anak-anak remaja dan bukan berperang bagi mereka, dan yang lebih buruk lagi, mereka cenderung melupakan natur yang sebenarnya dari peperangan ini serta identitas musuh yang sesungguhnya. Mereka akan bertindak berdasarkan kekecewaan karena keinginan mereka tidak tercapai, melakukan dan mengatakan hal-hal yang pantas disesali, dan mereka akan gagal menjadi orangtua yang efektif dan produktif pada momen-momen pelayanan yang strategis di mana Allah telah menempatkan mereka.

 

Berhala Rasa Ingin Dihormati

Apakah rasa hormat itu sesuatu yang baik? Tentu saja! Apakah itu hal yang harus ditanamkan orangtua kepada anak-anaknya? Ya! Tetapi hal itu tidak boleh menguasai hati kita karena akan membuat kita menganggap semua masalah sebagai perlawanan terhadap diri kita, padahal sebenarnya tidak demikian, dan kita akan kehilangan pemahaman akan peran kita sebagai wakil Allah, dan kita akan memperjuangkan serta menuntut hal-hal yang hanya dapat dikaruniakan oleh Allah.

 

Berhala Rasa Dihargai

Kami pernah menemani anak-anak kami tatkala mereka mimpi buruk, lari ke apotek untuk beli obat dengan berpiyama, membuat kue ultah berbentuk skateboard, membersihkan muntahan di karpet kamar tidur, mengalah dan memakai tabungan kami demi alat musik dan kawat gigi anak-anak kami, … Bukankah sudah waktunya kami mendapat sedikit penghargaan?

Banyak orangtua mengucapkan daftar seperti di atas dan mengakhirinya dengan kalimat dramatis itu. Kedengarannya seperti masuk akal, tidak berbahaya, dan sangat tepat. Anak-anak harus menghargai orangtua mereka. Tetapi dihargai bukanlah tujuan utama kita.

Apabila para orangtua telah melupakan hubungan vertikal mereka sendiri dengan Allah ketika mereka melayani anak-anak remaja mereka, jika mereka menganggap semua itu sebagai kontrak “melayani, dihargai” antara orangtua dan anak, mereka akan bergumul melawan banyak sekali kekecewaan dan kemarahan. Pada saat orangtua berharap anak mereka yang sudah semakin besar ini dapat menunjukkan penghargaan, anak-anak ini justru semakin kurang berterima kasih. Sekali lagi, setiap orangtua perlu bertanya kepada diri sendiri,”Siapa yang aku layani? Apa yang aku harapkan dan aku tuntut? Keinginan siapa yang memerintah – keinginan Allah atau keinginanku?

 

Berhala Kesuksesan

Diam-diam kita menginginkan anak-anak kita sebagai saksi nyata bahwa kita telah berhasil menjalankan tugas kita. Dan, ketika mereka gagal, kita bukannya merasa bersimpati atau berjuang demi mereka, melainkan memarahi dan melawan mereka, padahal di balik itu sebenarnya kita mengasihi diri kita sendiri dan kegagalan kita. Kita marah karena mereka telah mengambil sesuatu yang telah kita anggap sangat berharga, yaitu reputasi keberhasilan.

Begitu mudah kita melupakan kenyataan bahwa mereka bukan milik kita. Mereka dikaruniakan bukan untuk membawa kemuliaan bagi kita, melainkan bagi Dia. Kita hanyalah agen untuk menggenapkan rencana-Nya. Identitas kita berakar di dalam Dia dan panggilan-Nya atas kita, bukan di dalam diri anak-anak kita dan apa yang mereka capai. Penolakan terbesar yang seharusnya kita tangisi bukanlah penolakan mereka terhadap kita, melainkan terhadap Dia.

 

Berhala Kendali

Tujuan menjadi orangtua bukanlah mempertahankan kendali yang tidak boleh diganggu gugat atas anak-anak kita dengan maksud menjamin keselamatan mereka dan kewarasan kita. Hanya Allah yang mampu! Tujuan kita adalah menjadi alat Allah untuk menanamkan pada anak-anak kita pengendalian diri yang semakin dewasa melalui prinsip-prinsip Firman Allah dan mengizinkan mereka untuk mempraktikkan pilihan-pilihan, pengendalian diri, dan kemandirian yang semakin lama semakin luas.

Sangat penting bagi kita untuk mengingat kebenaran Injil:

1)  tidak ada situasi yang tidak “terkendali”, karena “segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus…” (Ef 1:22);

2)  Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan sebagaimana dijanjikan-Nya (Rm 8:28);

3)  tujuan kita menjadi orangtua adalah bekerja sedemikian rupa agar anak-anak kita menjadi serupa Kristus!

 

Kita tidak mungkin efektif bagi Kristus di dalam kehidupan anak-anak remaja kita, apabila hati kita dikendalikan oleh keinginan untuk merasa nyaman, dihormati, dihargai, sukses, dan memiliki kendali. Kita akan sangat menginginkan agar anak-anak memenuhi harapan kita dan bukannya kita yang melayani kebutuhan rohani mereka. Kita bukannya memandang momen-momen pergumulan sebagai kesempatan yang Allah berikan, kita akan memandangnya sebagai pengganggu yang membuat kita frustasi, dan kita pun menumpuk kamarahan terhadap anak-anak yang seharusnya kita layani.

 

ringkasan bab 2, Bagian 1: MEMBERSIHKAN SERPIHAN

dari buku MASA PENUH KESEMPATAN – Paul David Tripp

 

☺bersambung☺

Bagikan artikel ini :