Eksposisi 1 Korintus 13:1-3

Eksposisi 1 Korintus 13:1-3

Pembahasan tentang kasih di pasal 13 mungkin menimbulkan kesan bahwa Paulus sedang berganti topik dari karunia rohani menjadi kasih. Bagaimanapun, kesan ini akan hilang apabila kita memberi perhatian yang lebih teliti kepada teks. Pemunculan beberapa jenis karunia – bahasa roh, nubuat, dan pengetahuan - di pasal 13 membuktikan bahwa Paulus tidak sedang beralih ke topik baru. Sebaliknya, ia sedang menguraikan apa yang ia maksud dengan ‘jalan yang lebih utama’ di 12:31, yaitu kasih. Pemunculan kata ‘kasih’ di awal pasal 14 semakin menguatkan dugaan bahwa ada keterkaitan yang erat antara karunia rohani dan kasih.

Gaya penulisan seperti di pasal 13 ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama digressio. Dalam gaya sastra ini, seorang penulis menyinggung tentang topik lain yang sekilas sedikit melenceng dari topik utama, namun topik baru ini justru berguna untuk memperjelas atau mengilustrasikan poin yang ingin disampaikan di topik utama. Gaya ini sebelumnya sudah kita pelajari di pasal 9 pada waktu Paulus memaparkan ketidakmauannya menerima tunjangan hidup dari jemaat sebagai ilustrasi konkrit bagi poin teologis yang ia ajarkan di pasal 8, yaitu ‘bebas untuk tidak menggunakan kebebasan atau hak kita demi kepentingan orang lain’ (8:9-13).

Tujuan Paulus mengupas keutamaan kasih di 13:1-3 bukan untuk membandingkan antara karunia rohani dan kasih, seolah-olah yang pertama kurang dipentingkan. Dua hal ini – karunia rohani dan kasih – bukan dua pilihan yang harus dipilih salah satu. Sebaliknya, Paulus ingin menunjukkan bahwa penggunaan karunia rohani yang benar harus bersumber dari kasih. Sebuah karunia rohani mungkin berpotensi memberikan manfaat lebih banyak dan lebih langsung kepada jemaat daripada jenis karunia yang lain. Tetapi, jika karunia yang lebih bermanfaat itu dipraktekkan tanpa kasih, hal itu menjadi kurang bernilai. Jadi, fokus di 13:1-3 bukan pada jenis karunia rohani, melainkan dasar penggunaannya.

Untuk mendaratkan poin di atas secara lebih persuasif, Paulus menggunakan kalimat pengandaian. Masing-masing bagian diawali dengan rangkaian karunia rohani atau kemampuan spiritual tertentu yang tampak spektakuler, lalu diakhiri dengan pernyataan kesia-siaan apabila semua itu tidak dilakukan berdasarkan kasih. Apa yang diandaikan di 13:1-3 dalam taraf tertentu merefleksikan kehidupan dan pelayanan Paulus, karea itu ia sengaja menggunakan kata ganti orang pertama tunggal “aku” di ayat 1-3. Jika ini benar, maka ‘menunjukkan’ di 12:31 bukan hanya ‘mengajarkan’, melainkan memberikan contoh konkrit. Jadi, ia bersikap kritis terhadap karunia-karunia rohani bukan karena ia tidak memiliki semua itu dan iri kepada orang lain. Ia tidak kekurangan suatu karunia pun. Tanggapan kritis dari orang yang memiliki apa yang dikritisi akan menjadi sebuah strategi persuasi yang kuat.

 

Penguasaan semua bahasa – kasih = bunyi yang tanpa arti (ayat 1)

 

Berbeda dengan strategi sebelumnya ketika Paulus menempatkan karunia bahasa roh pada deretan terakhir (12:8-10, 28-30), kali ini ia sengaja meletakkan di bagian awal. Perubahan strategi ini tidak berarti perubahan penilaian terhadap karunia ini. Ia justru memindahkan karunia bahasa roh pada tingkat utama untuk sementara waktu (ayat 1a), sesudah itu ia segera memberikan tanggapan negatif apabila karunia itu tidak dipraktekkan berdasarkan kasih (ayat 1b). Ini adalah sebuah retorika yang indah: seolah-olah ditinggikan tetapi dihempaskan ke bawah untuk menunjukkan kontras yang ironis.

Apakah yang dimaksud dengan ‘semua bahasa manusia dan bahasa malaikat’ di ayat ini? Walaupun para penafsir yakin ungkapan tersebut berhubungan dengan bahasa roh, tetapi mereka belum sepakat tentang maksud Paulus di balik ungkapan itu. Secara khusus mereka memperdebatkan arti ‘bahasa malaikat’. Sebagian menganggap hal ini hanya sekadar ungkapan hiperbola untuk menegaskan poin yang ingin disampaikan. Sebagian yang lain meyakini bahwa para malaikat di surga memang memiliki bahasa tertentu (2 Kor 12:1-4). Beberapa catatan kuno dalam tradisi Yahudi dan Yunani menyinggung tentang bahasa-bahasa khusus yang diucapkan oleh para malaikat. Yang lain menduga bahwa sebagian jemaat Korintus telah meyakini kalau mereka mampu berbahasa roh dalam arti ‘bahasa malaikat’. Dalam hal ini sebuah pilihan yang pasti sulit untuk diambil. Walaupun demikian, kesulitan ini tidak mengaburkan apa yang ingin disampaikan Paulus di sini. Inti yang mau ditekankan adalah sifat spektakuler dari bahasa roh, entah itu berupa bahasa-bahasa manusia (Kis 2:1-11; bdk. 1 Kor 14:10-11) maupun bahasa-bahasa surgawi yang tidak terpahami oleh manusia (1 Kor 14:2, 13-14).

Berbeda dengan jemaat Korintus yang sangat menggilai bahasa roh dan menjadikan itu sebagai salah satu sumber kesombongan dan perselisihan, Paulus memilih untuk menilai sebuah karunia rohani dalam kaitan dengan kasih. Walaupun ia mampu berbahasa roh (1 Kor 14:15, 18) dan mungkin pernah mendengarkan bahasa malaikat (2 Kor 12:1-4), namun apabila ia tidak memiliki kasih, ia sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (13:1b). Dalam teks Yunani terdapat kata gegona (‘aku telah menjadi’). Bentuk perfek menyiratkan dampak atau hasil yang permanen, sedangkan kata ganti ‘aku’ mengindikasikan bahwa yang sedang dipersoalkan adalah diri Paulus, bukan karunia bahasa rohnya. Penekanan pada diri Paulus ini juga terlihat di ayat 2-3 (ayat 2 ‘aku sama sekali tidak berguna’; ayat 3 ‘sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku’). Dengan kata lain, semua karunia rohani adalah baik, karena berasal dari Allah (12:4-7, 11). Bagaimanapun tidak semua secara otomatis memberi dampak yang baik bagi kita, terutama pada waktu kita menggunakannya tanpa kasih.

Penggunaan bahasa roh tanpa disertai kasih akan menjadikan kita gong yang berkumandang (chalkos ēchōn) dan canang yang gemerincing (kymbalon alalazon). Dua metafora ini telah dipahami secara berbeda oleh para penafsir. Ada yang mengaitkannya dengan suasana ritual ibadah untuk dewa Dionisius dan Sibele, para orator yang tidak mampu menjawab pertanyaan atau meladeni pendebat mereka, maupun sistem resonansi atau amplifikasi akustik di teater kuno. Berdasarkan pemunculan alat-alat musik dan nafiri di 14:7-8, inti dari metafora ini mungkin terletak pada bunyi-bunyian yang keras tetapi tanpa makna. Penambahan kata ēchōn (berkumandang) dan alalazon (gemerincing) yang menyiratkan suara yang ramai turut mendukung penafsiran ini. Walaupun demikian, bagi jemaat Korintus yang sudah terbiasa melihat perayaan ritual kafir di jalan-jalan atau kuil-kuil berhala, metafora di 13:1 sangat mungkin akan mengarahkan pikiran mereka ke sana. Artinya, sama seperti kemeriahan dan keriuhan ibadah kafir adalah sia-sia karena tidak ada Allah dan Tuhan selain Bapa dan Kristus (8:6), demikian pula gong dan canang yang dibunyikan tanpa makna. Begitu juga dengan bahasa roh yang diucapkan tanpa kasih!

 

Pengetahuan tentang hal-hal ilahi dan iman yang besar – kasih = tidak ada artinya (ayat 2)

 

Ayat ini dikelompokkan menjadi dua bagian: karunia-karunia yang berhubungan dengan pemahaman hal-hal ilahi (nubuat, penguakan misteri, pengetahuan, lihat 14:6) dan karunia iman (keyakinan untuk memindahkan gunung). Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Paulus dalam taraf tertentu mempunyai semua ini. Ia adalah nabi yang menyampaikan nubuat/perintah ilahi kepada jemaat (14:37, bdk. 14:32). Walaupun ia mengakui bahwa ia tidak memahami semua rahasia ilahi (13:9; lihat juga Rom 11:33-35), namun tidak dapat disangkal bahwa ia mengetahui misteri-misteri ilahi tertentu (2:1, 9-10; 15:51), karena Allah mempercayakan hal itu kepadanya (4:1). Ia bukan hanya memiliki pengetahuan, melainkan juga mampu menilai sebuah pengetahuan (8:1) dan memiliki pikiran Kristus (2:16). Dalam hal ini Paulus tidak hanya menyinggung tentang apa yang ia sudah miliki, tetapi juga potensi maksimal dari kelompok karunia ini: mengetahui semua (panta) misteri dan seluruh  (pasan) pengetahuan (13:2a).

Kelompok karunia yang lain adalah iman (13:2b). Berdasarkan pemunculan ungkapan ‘iman yang memindahkan gunung’ di berbagai tempat, baik dalam bagian Alkitab yang lain (Mat 17:19-20; 21:21; Mar 11:22-24; Luk 17:6) maupun tulisan-tulisan Yahudi (b. Ber. 64a; b. Sanh. 24a), kita sebaiknya memahami ungkapan ini sebagai sebuah peribahasa populer yang berhubungan dengan sesuatu yang terlihat mustahil tetapi mampu dilakukan dengan cara yang bersifat mujizat. Paulus tidak pernah memindahkan gunung, tetapi ia mampu melakukan berbagai tanda ajaib di depan jemaat Korintus (2 Kor 12:12). Kisah Para Rasul juga berkali-kali mencatat bebagai mujizat yang Allah lakukan melalui Paulus. Sama seperti sebelumnya, Paulus di bagian ini juga memikirkan potensi maksimal dari karunia iman: memiliki semua (pasan) iman untuk memindahkan gunung.

Apa yang terjadi apabila semua karunia rohani yang spektakuler ini tidak disertai dengan kasih? Paulus menjawab: “aku sama sekali tidak berguna” (LAI:TB). Dalam teks Yunani makna yang diekspresikan lebih kuat, yaitu “aku adalah bukan siapa-siapa” (versi Inggris “I am nothing”). Sekali lagi, fokus Paulus bukan pada karunia rohani, tetapi dirinya sendiri. Pemunculan kata outhen (‘bukan siapa-siapa’) sangat kontras dengan tiga kali pemunculan kata panta/pasan (‘segala’) di ayat ini: walaupun kita mengetahui dan memiliki segala sesuatu, tetapi tanpa kasih kita adalah bukan siapa-siapa. Kepemilikan karunia rohani seringkali direspon oleh pemujaan dari banyak orang, tetapi di mata Allah, orang yang menggunakan karunia itu tanpa kasih tetap bukan siapa-siapa.

 

Demonstrasi kasih yang spektakuler – kasih = tidak bermanfaat (ayat 3)

 

Apa yang dituliskan Paulus di bagian ini mengandung makna yang lebih kuat daripada di dua ayat sebelumnya. Di bagian ini Paulus menyebutkan dua tindakan yang secara umum dipahami sebagai demonstrasi kasih yang besar. Namun, ia justru membuka peluang bahwa dua tindakan itu dilakukan tanpa kasih.

Tindakan pertama adalah “membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku” (psōmisō panta ta hyparchonta mou). Kata yang sedikit sulit untuk ditafsirkan di bagian ini adalah psōmisō (LAI:TB ‘membagi-bagikan’). Secara hurufiah kata ini berarti “memberikan” atau “membagikan”. Obyek langsung atau tidak langsung dari pemberian ini harus ditentukan oleh konteks. Banyak versi Inggris mengaitkan kata ini dengan memberi makan orang miskin (KJV/ASV/NASB) atau sekadar memberikan sesuatu kepada orang miskin (NIV/NLT).

Dua pertimbangan berikut ini mendukung terjemahan ‘memberi makan orang-orang miskin’: (1) kata dasar psōmisō muncul di Roma 12:20 dengan arti ‘memberi makan’; (2) jika memberi/membagikan harta di 1 Korintus 13:3a termasuk salah satu karunia rohani (bdk. 12:28; Rom 12:8), maka obyek tidak langsung dari pemberian ini kemungkinan besar adalah orang-orang yang tidak mampu atau membutuhkan.

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa tindakan di 13:3a merupakan hal yang luar biasa. Tindakan ini ditujukan pada orang-orang miskin yang memang sangat membutuhkan. Selain itu, yang dibagikan adalah ‘segala’ (panta) yang dimiliki. Dalam ukuran tradisi mana pun, pemberian sebesar ini pasti dikategorikan sangat dermawan (menurut tradisi Yahudi adalah 1/5 dari harta seseorang sudah dianggap murah hati). Kita tahu bersama bahwa orang muda yang kaya yang ingin mengikuti Yesus gagal memenuhi tantangan dari Yesus untuk menjual seluruh hartanya dan dibagikan pada orang miskin (Mar 12:17-22). Jemaat Korintus yang kaya pun gagal. Mereka justru menghina orang-orang miskin yang tidak bisa makan (1 Kor 11:30).

Tindakan kedua yang sekilas menyiratkan kasih adalah menyerahkan tubuh untuk dibakar (paradō to sōma mou hina kauchēsōmai). Bagian ini jelas menyiratkan peningkatan makna dibandingkan ayat 3a. Yang dikorbankan kali ini bukan lagi semua harta, tetapi tubuh.

Ayat 3b diterjemahkan secara berlainan dalam berbagi versi. Sebagian menerjemahkan “untuk dibakar” (KJV/ASV/NASB/RSV/NIV/ESV), sebagian lagi “untuk memegahkan diri” (NRSV/NLT). Inti persoalan terletak pada salinan-salinan kuno: ada yang memakai kauchēsōmai (‘untuk memegahkan diri’), ada pula yang kauthēsomai (‘untuk dibakar’). Bukti-bukti eksternal (dari usia dan kualitas manuskrip) mengarah pada kauchēsōmai. Perubahan dari kauchēsōmai ke kauthēsomai mungkin dilakukan pada saat kematian sebagai martyr dengan cara dibakar hidup-hidup telah menjadi sesuatu yang umum di kalangan orang-orang Kristen tertentu.

Jika bacaan ‘untuk memegahkan diri’ (kauchēsōmai) diterima, maka kemegahan di sini harus dipahami sebagai sesuatu yang netral. Jika kauchēsōmai di sini pada dirinya sendiri sdah negatif, maka tambahan ‘jika aku tidak mempunyai kasih’ (13:3b) menjadi tidak diperlukan. Di tempat lain Paulus juga mengaitkan penderitaan dalam pelayanan dengan kemegahan, yang satu secara negatif (2 Kor 11:23-29), yang lain secara positif (2 Kor 12:10). Kemegahan dalam penderitaan secara positif berarti merujuk pada perasaan sukacita karena diperkenankan Allah untuk menderita bagi Dia (bdk. Mat 5:10-12; Flp 1:29-30; 1 Pet 2:19; Ibr 11:35b-40).

Paulus sendiri dalam taraf tertentu sudah menunjukkan demonstrasi kasih yang besar. Ia rela melepaskan hak untuk menerima tunjangan hidup (9:18). Ia sering dihina dan direndahkan orang (4:9). Beragam penderitaan dan kesusahan sudah ia alami dalam pelayanan (2 Kor 11:23-29), bahkan yang sempat membuat ia putus asa (2 Kor 1:8-9). Bahaya maut pun berulang kali menghadang dia (15:30-32). Semua ini dia lakukan karena ia mengasihi jemaat Korintus (16:24; 2 Kor 2:4; 11:11; 12;15).

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa ukuran pemberian dan pengorbanan bukan terletak pada jumlah yang diberikan/dikorbankan maupun perasaan si pemberi. Allah melihat ke dalam hati. Bisa saja semua demonstrasi ini tidak bersumber dari kasih yang tulus. Sebagian orang memberi karena terpaksa. Yang lain berani berkorban karena menginginkan pamrih dari orang yang ditolong atau pahala dari Allah. Semua ini tidak muncul dari hati yang mengasihi. Bukankah demonstrasi ‘kasih’ demi mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri sebenarnya adalah sebuah egoisme?

Nah, mereka yang membagi-bagikan sesuatu atau berkorban bagi orang lain tetapi tanpa kasih justru tidak akan mendapat manfaat apa-apa dari tindakan tersebut. Paulus mengatakan: “sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku” (ouden ōpheloumai). Kalimat ini sangat mengagetkan, namun mengandung pengajaran rohani yang indah. Jikalau kita melakukan sesuatu untuk orang lain atau Allah dengan motivasi untuk mendapatkan sesuatu dari tindakan itu, kita justru tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebaliknya, apabila kita melakukan berdasarkan kasih – keinginan untuk memberikan manfaat atau faedah bagi orang lain (13:4-7; 14:6) – kita juga akan mendapatkan faedah dari tindakan itu. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :