AREOPAGUS

AREOPAGUS

Berasal dari kata Yunani “Areios pagos” yang berarti ‘bukit Ares’, dewa perang Yunani.

 

1.        Suatu bukit kecil di sebelah barat laut Akropolis di Atena (Kis. 17:22).

 

2.        Sidang Areopagus, disebut demikian karena bukit Ares merupakan tempat pertemuannya yang asli. Pada zaman PB kecuali untuk memeriksa perkara pembunuhan, Sidang itu mengadakan pertemuannya di Serambi Raja (stoa basileios) di pasar Atena, dan mungkin di sini Paulus di sidang (Kis. 17:19), bukan di atas bukit Areopagus. Sidang Areopagus merupakan lembaga paling tua di Atena, berasal dari zaman legenda, dan kendati kuasa-kuasanya telah dibatasi Sidang itu masih besar wibawanya, khususnya dalam perkara moral dan agama. Karena itu adalah wajar bahwa seorang ‘pemberita ajaran dewa-dewa asing’ (Kis. 17:18) akan dibawa di hadapannya.

 

Pidato Paulus pada saat itu (Kis. 17:22-31) berpokok pada pengetahuan yang benar tentang Allah. Dengan mengambil sebagai titik tolaknya sebuah tulisan di atas mezbah ‘Kepada Allah yang tidak dikenal’. Ia berkata bahwa ia datang untuk memberitakan kepada mereka Allah  —  yang menurut pengakuan mereka sendiri  —  mereka tidak mengenal-Nya. Allah yang benar adalah Pencipta dan Tuhan atas langit dan bumi, Ia tidak diam dalam kuil-kuil buatan manusia, Ia tidak tergantung pada korban yang dibawa ciptaan-Nya, tapi Ia memberikan kepada mereka hidup dan segala sesuatu yang mereka perlukan. Pencipta segala sesuatu adalah juga Pencipta manusia, dan dengan demikian pidato dilanjutkan dengan membicarakan hubungan manusia dengan Allah. Manusia sama dan satu seutuhnya; daerah-daerah tempat tinggalnya serta musim-musim setiap tahun telah ditentukan untuk kepentingannya. Tujuan Allah ialah agar manusia mencari Dia dan diharapkan menemukan Dia, lebih-lebih karena manusia adalah ciptaan-Nya. Sementara susunan kata dan kutipan-kutipan dalam ceramah ini bersifat Yunani, namun tekanan yang diberikannya adalah sepenuhnya alkitabiah. Pada akhir ceramahnya Paulus menghimbau pendengarnya untuk bertobat dan tunduk pada pengetahuan akan Allah, yang bukan saja Pencipta alam semesta tapi juga Hakim segala makhluk. Jaminan tentang penghakiman yang akan datang itu ialah kebangkitan dari antara orang mati oleh Orang yang diberi kuasa untuk memikul hukuman itu. Ketika Sidang Areopagus mendengar kebangkitan orang mati, mereka membebaskan Paulus sebagai orang yang tidak layak untuk diperhatikan secara serius.

Sumber: Ensiklopedia Alkitab Masa Kini (Software Sabda 4)

DTS

Bagikan artikel ini :