Kekejian

Kekejian

(Im. 11; 1Raj. 11:5; Dan. 9:27; 11:31; 12:11; Mat. 24:15; Mrk. 13:14; Why. 17:5)

 

Siapa pun atau apa pun yang melawan Allah dan rencana-Nya bagi cara hidup yang benar, termasuk makan makanan yang haram, melakukan akvitivas seksual yang dilarang, atau menyembah dewa-dewa, dianggap “keji.” Istilah tersebut merupakan istilah yang sering digunakan dalam kaitan dengan musuh-musuh Israel dan praktik penyembahan berhala mereka dan itu juga digunakan bagi orang Israel siapa pun yang melakukan ibadah kepada Allah dengan jiwa yang salah. Contohnya, penulis kitab Amsal 26:25 mengatakan bahwa orang bodoh memiliki “tujuh kekejian ada dalam hatinya.”

Daniel menggunakan istilah “kekejian pembinasaan” mungkin merujuk pada penajisan Bait Allah oleh Antiokhus Epifanes yang membangun mezbah kepada Zeus di sana dan mempersembahkan binatang-binatang haram termasuk babi. Yesus menggunakan istilah “kekejian” untuk menandakan permulaan zaman Mesianik. Di dalam kitab Wahyu, Yohanes melihat tulisan pada dahi wanita pelacur Babel: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.”

 

Sumber:

Tischler, Nancy Marie Patterson. All Things in the Bible. Westport: Greenwood Press, 2006

 

 

Refleksi:

Ketika kita memperhatikan ayat-ayat yang disebutkan di atas, kita belajar bahwa di hadapan Allah, kekejian menyangkut unsur rohani maupun jasmani. Ketika seseorang melawan Allah dan kehendak-Nya termasuk menyembah ilah-ilah lain di luar Allah, itu disebut sebagai suatu kekejian. Di dalam hal praktik sekalipun, membinasakan orang juga termasuk kekejian. Apakah berarti ketika kita sudah menyembah Allah, tindakan kita otomatis pasti murni? Belum tentu. Di bagian penjelasan di atas, Alkitab mengajar kita bahwa tatkala kita menyembah Allah dengan jiwa yang salah pun, itu termasuk kekejian di hadapan-Nya. Allah jijik melihat segala yang keji karena itu bertentangan dengan natur-Nya yang Mahakudus.

Bukankah kita sering kali beribadah bahkan melayani Allah pun tidak dengan motivasi yang murni di hadapan-Nya? Kita melayani Allah berapi-api, tetapi dengan motivasi agar kita dipuji oleh manusia sebagai orang yang saleh. Kita terlalu banyak mengobral kata-kata “rohani”, tetapi tidak pernah kita amini, imani, dan hidupi. Hal-hal tersebut bukan memuliakan-Nya, tetapi kekejian di hadapan-Nya. Ingatlah. Allah kita adalah Allah yang kudus yang menghendaki umat-Nya hidup kudus (1Ptr. 1:15-16). Hidup kudus ditandai dengan kita menghidupi suatu hidup yang berbeda dari filsafat dan praktik hidup duniawi. Kehidupan kudus itu dimulai dari hati kita yang telah dimurnikan oleh Roh Kudus. Biarlah kita meneladani kerinduan Dr. John Calvin, “Cor meum tibi offero Domine prompte et sincere.” (“Aku mempersembahkan kepada-Mu, hatiku, Tuhan, dengan tepat dan murni.”) Amin. Soli Deo Gloria.

 

DTS

Bagikan artikel ini :