ADAM (Bagian 2)

ADAM (Bagian 2)

              II. Dalam PB

Nama Adam muncul 9 kali, 8 kali mengacu kepada manusia pertama (Luk. 3:38; Rm. 5:14; 1Kor. 15:22,45; 1Tim. 2:13,14; Yud. 1:14) dan satu kali mengacu kepada Kristus (1Kor. 15:45). Namun, dalam beberapa kejadian, ada acuan kepada Adam, manusia pertama itu, kendati tidak disebut (Mat. 19:4-8; Mrk. 10:6-8; Rm. 5:12,15,16,17, 19). Beberapa kesimpulan diambil berdasarkan petunjuk-petunjuk berikut.

a.           Adam digambarkan sebagai manusia pertama (1Kor. 15:45, 47). Asalnya yg unik tanpa bapak atau ibu diperkenalkan guna menarik perhatian kepada fakta, bahwa apabila semua orang lain pada genealogi manusia dikatakan adalah anak atau keturunan dari nenek moyang dalam setiap garis ihwal terkait, maka Adam dikatakan adalah anak Allah (Luk. 3:38). Adam tidak datang melalui keturunan manusia.

b. Adam memulai dan mengembangkan hubungan unik bagi keturunan manusia. Hal itu dapat dipadankan dengan hubungan Kristus sebagai Adam akhir dengan orang-orang yg sudah ditebus. Pada kedua hubungan yg unik inilah didasarkan sejarah perjalanan keturunan umat manusia (1Kor 15:45-49; Rm. 5:12-19). Tidak ada orang satu pun sebelum Adam, karena dialah orang pertama. Tidak ada Adam satu pun antara Adam dan Kristus, karena Kristus adalah Manusia kedua. Tidak ada Adam satu pun sesudah Kristus, karena Ia adalah Adam akhir. Karena itu, Adam adalah gambaran dari Dia yg akan datang, yakni Kristus.

c. Oleh Adam dosa dan maut masuk ke dalam dunia. Ungkapan yg terus terang mengenai ‘pelanggaran Adam’ dalam Roma 5:14, membuat jelas bahwa ‘satu orang’ yg disebut dalam Rm. 5:12 adalah Adam, dan yg disebut dosa di situ adalah dosanya yg pertama.

d. Dalam Adam, semua orang berdosa dan mati. Karena ketidaktaatan Adam seorang, maka semua orang menjadi orang berdosa (Rm. 5:19), melalui penghakiman atas pelanggaran yg satu itu, hukuman tertimpa atas segenap umat manusia (Rm. 5:16, 18) dan maut berkuasa atas segenap umat manusia (Rm. 5:15, 17; 1Kor. 15:22).

e. Persekutuan dan keterhisaban dengan Adam dalam dosanya, hukumannya dan kematiannya adalah pola persekutuan dengan Kristus oleh dan melalui mana orang-orang percaya terhisab beroleh keadilan, pembenaran dan hidup (Rm. 5:15-19; 1Kor. 15:22, 45, 49). Dalam hukum yg dibuat Allah, solidaritas keterhisaban dengan Adam meletakkan dasar bagi kasih karunia yg berlimpah-limpah berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yg kekal (Rm. 5:21).

f. PB menguatkan kesejatian nilai historis dari pernyataan-pernyataan yg tercantum dalam bab-bab permulaan Kej yg berkenaan dengan Adam. Dalam 1Kor. 15:45,47 disajikan hunjukan kepada Kej. 2:7, dalam Yud. 1:14 kepada Kej. 5:3-18 (bdk. 1Taw. 1:1-3), dalam 1Tim.2:13 kepada Kej. 2:20-23, dalam 1Tim.2:14 kepada Kej. 1; 2; 3; 4; 5; 6;  13, dalam Mat. 19:4; Mrk.10:6 kepada Kej. 1:27, dalam Mat. 19:5,6; Mrk.10:7,8 (bdk. Ef. 5:31) kepada Kej. 2:24, dan dalam Rm. 5:12-19; 1Kor. 15:22 kepada Kej. 2:17; 3:19. Hunjukan yg sifatnya mengurai dan meresapi ini, kadang-kadang berterus terang dan kadang-kadang secara halus menunjukkan betapa PB membenarkan kesejatian nilai historic dari Adam dan kejadian-kejadian mengenai dirinya, juga membenarkan keaslian catatan resmi yg disajikan oleh bab-bab permulaan Kitab Kej. Karena itu tidaklah mungkin mempertahankan doktrin yg diajarkan Tuhan Yesus dan para rasul berdasarkan kebenaran fakta-fakta historis ini, tapi sekaligus mengingkari bahwa kejadian-kejadian itu sendiri mempunyai nilai sejarah yg sejati. Justru tidak dapat dipisahkan ajaran tentang iman dan praktik, dari kejadian dalam sejarah dengan mana ajaran itu terpaut, sehingga makna doktrin dan praktiknya dapat diyakini, kendati sifat historis dari kejadian-kejadian itu tidak. Di sinilah letak pentingnya kesaksian PB menghormati Adam.

Sumber:

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini (program SABDA 4).

DTS

Bagikan artikel ini :