ANALISA HISTORIS-KULTURAL

ANALISA HISTORIS-KULTURAL

             Sesudah mempelajari analisa konteks, kosa kata, dan tata bahasa, sekarang kita perlu menyinggung tentang analisa historis-kultural. Analisa ini juga tidak terelakkan, karena terdapat jurang sejarah dan budaya yang sangat besar antara situasi hidup pada zaman Alkitab dan kehidupan modern. Para penulis Alkitab memang menulis untuk orang-orang pada zaman mereka yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang sama. Dalam banyak kasus para penulis Alkitab merasa tidak perlu menambahkan penjelasan khusus, karena mereka mengasumsikan para pembaca mereka sudah mengetahui hal itu. Bagi kita sebagai pembaca modern, keuntungan semacam itu tidak kita miliki. Kita memerlukan informasi tambahan dari kitab-kitab kuno di luar Alkitab maupun berbagai penemuan arkheologi. Inilah yang membuat penafsiran Alkitab terkesan sangat akademis dan hanya bisa dipahami oleh mereka yang terlatih dengan pengetahuan historis-kultural kuno. Bagi pembaca awal Alkitab, tingkat kesulitan yang mereka hadapi tidak sebesar yang kita alami sekarang.

Sebelum tahun 1980-an penyelidikan latar belakang Alkitab hanya dilakukan apabila kita ingin mengetahui sesuatu yang tidak terlalu jelas di dalam teks. Sebagai contoh, mengapa gembala yang baik justru berada di depan domba-dombanya dan bukan di belakang untuk menjaga mereka (Yoh 10:4)? Mengapa Sara memberikan Hagar kepada suaminya sendiri (Kej 16:1-3)? Mengapa Lot menawarkan anak perempuannya untuk diperkosa demi melindungi tamu-tamu asing yang ada di rumahnya (Kej 19:7-8)?

Kini penelitian biblika sudah semakin berkembang. Penyelidikan tentang latar belakang historis-kultural tidak lagi dilakukan secara sporadis. Melalui pendekatan sosial-ilmiah (social-sceintific criticism) para teolog berusaha merekonstruksi matriks sosial pada zaman Alkitab dan mendekatinya melalui teori-teori dalam sosiologi modern. Mereka meneliti kesenjangan sosial dan konflik-konflik di dalamnya.

Alat-alat apa saja yang dibutuhkan dalam analisa ini? Yang paling mudah kita dapatkan adalah ensiklopedia Alkitab. Ada banyak nama tempat, orang, dan istilah kuno yang diuraikan secara umum tetapi cukup bermanfaat. Kita tinggal mencari berdasarkan kata masuk yang tepat, misalnya pernikahan, penggembalaan, dsb.

Sumber lain yang tidak kalah pentingnya adalah rangkuman sejarah kuno. Untuk memahami Perjanjian Baru, kita perlu mengetahui bagaimana situasi historis pada masa intertestamental (400 tahun antara akhir Perjanjian Lama dan permulaan Perjanjian Baru). Beberapa buku sudah ditulis untuk membantu pembaca Alkitan yang awam dalam memahami situasi pada zaman Alkitab. Di samping buku sejarah, kita juga memerlukan buku-buku tentang kebiasaan dan adat istiadat kuno pada zaman Alkitab.

Bagi yang ingin menyelidiki secara lebih mendalam, membaca rangkuman sejarah saja tidaklah cukup. Kita perlu mengakses kitab-kitab itu secara langsung, misalnya Kitab 2 Makabe, tulisan Yosefus, dsb. Dengan membaca sumber-sumber utama kita akan mendapatkan banyak informasi tambahan yang biasanya diabaikan dalam buku-buku rangkuman.

Bagikan artikel ini :