Konteks Alkitab

Konteks Alkitab

(lanjutan)                Secara khusus kita perlu memperhatikan apa yang disebut ‘kesalahan etimologis’ (kesalahan yang berhubungan dengan asal-usul kata). Seorang pengkhotbah kadangkala terlalu berpatokan pada asal-usul kata pada periode klasik tanpa mempedulikan perubahan arti maupun makna yang dialami oleh kata itu. Sebagai contoh, banyak pengkhotbah menafsirkan kata ekklēsia sebagai ‘dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang’ (mungkin terinspirasi dari 1 Pet 2:9). Walaupun secara etimologis kata ekklēsia mungkin berasal dari kata ‘ek’ = keluar dan ‘kaleō’ = memanggil, tetapi dalam periode Koine arti semacam ini sudah tidak dikenali lagi. Kata ekklēsia berarti ‘kumpulan orang’, tanpa mempersoalkan bagaimana proses orang-orang itu berkumpul (dipanggil atau berkumpul sendiri). Kata ini bahkan tidak selalu merujuk pada kumpulan orang percaya (Kis 19:32).

Keempat, arti sebuah kata modern yang berasal dari bahasa Ibrani atau Yunani tidak selalu mencerminkan arti yang sama pada jaman dahulu. Sebagaimana kita ketahui, banyak kata modern berasal dari bahasa Ibrani atau Yunani, misalnya ‘biologi’ = bios (kehidupan) dan logos (perkataan atau ajaran), ‘psikologi’ = psychē (jiwa) dan logos (perkataan atau ajaran). Pada saat kita menemukan suatu kata dalam Alkitab, kita tidak boleh dipengaruhi oleh arti kata itu dalam dunia modern. Mengabaikan hal ini akan mengakibatkan penafsiran yang anakronistik (menafsirkan masa lalu berdasarkan masa yang lebih kemudian).

Kesalahan ini semacam ini sering terjadi. Misalnya, suatu kali seorang pengkhotbah menafsirkan ‘Injil adalah kekuatan Allah’ (Rom 1:16). Karena kata ‘kekuatan’ di sini adalah dynamis dan kata modern ‘dinamit’ berasal dari dynamis, ia menafsirkan kekuatan di sini sebagai ‘kuasa yang meledakkan’. Ia lupa bahwa pada jaman dulu kata dynamis tidak pernah digunakan untuk alat peledak.

Kelima, arti kata kadangkala juga berbeda dari seorang penulis ke penulis yang lain. Sebagai contoh, kata ‘dipanggil’ dalam tulisan Paulus hampir semua merujuk pada apa yang disebut ‘panggilan efektif’. Panggilan ini bukan hanya sekadar pemberitaan atau tawaran Injil. Panggilan ini sudah pasti berhasil, karena didasarkan pada pilihan dan penentuan Allah sebelumnya (Rom 8:29-30). Dalam kitab lain, kata yang sama bisa berarti hanya sekadar  ‘tawaran’ (Mat 22:14 “Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih”).

Contoh lain yang cukup sering disalahmengertikan adalah ungkapan ‘penuh Roh Kudus’. Paulus dan Lukas sama-sama menggunakan ungkapan ini, namun penekanan yang mereka ingin tampilkan tidak sama. Lukas lebih melihat ‘penuh Roh Kudus’ dalam konteks pemberian kuasa (empowering, Luk 1:15-17; Kis 1:8), karena itu pengalaman ini dapat terjadi beberapa kali (Kis 2:1-11; 4:31). Di tempat lain, Paulus membicarakan ‘penuh Roh Kudus’ dalam konteks kontrol Roh Kudus atas hidup kita (Ef 5:18), sehingga pengalaman ini terjadi terus-menerus dalam hidup kita. Dua penulis ini tidak bertentangan. Mereka hanya menyoroti dua aspek yang berbeda dari karya Roh Kudus.

Keenam, apabila suatu kata hanya muncul sekali dalam Alkitab – fenomena seperti ini biasa disebut hapax legomena – kita harus mencari padanan arti kata itu dalam tulisan-tulisan di luar Alkitab. Ada dua  pedoman penting yang perlu diperhatikan dalam hal ini: (1) tulisan-tulisan itu sebisa mungkin berasal dari periode yang sama dengan Alkitab; (2) harus sesuai dengan konteks khusus pemunculan kata itu.

Sebagai contoh, kata ‘berjuang’ di Roma 7:23 (antistrateuō) hanya muncul sekali di seluruh Alkitab. Kata ini hampir selalu muncul dalam konteks peperangan. Dalam Roma 7:23 antistrateuō bahkan dikaitkan dengan istilah peperangan yang lain, yaitu aichmalōtizō (LAI:TB ‘menjadi tawaban’). Semua variabel ini bermanfaat dalam memahami kekuatan makna yang ingin disampaikan Paulus: ‘hukum lain’ bukan sekadar menggoda, namun menyerang dan berusaha menawan kedagingan kita.

Ketujuh, pandangan populer tentang suatu kata tidak selalu benar. Penafsir Alkitab yang tidak menguasai bahasa asli biasanya tergoda untuk memakai pandangan populer tanpa menyelidiki kebenaran dari pandangan itu. Ada banyak contoh tentang hal ini, tetapi kita hanya perlu membahas dua di antaranya.

 

--- bersambung ---       

Bagikan artikel ini :