Hermeneutika untuk awam

Hermeneutika untuk awam

Salah satu karakteristik Alkitab adalah kejelasan (clarity). Sifat ini merujuk pada kecukupan Alkitab untuk dimengerti pikiran yang sederhana. Allah bukan hanya memberikan firman-Nya yang tertulis kepada mahasiswa teologi atau hamba Tuhan. Semua orang percaya juga dapat mendapatkan manfaat darinya. Sebuah pepatah terkenal menggambarkan Alkitab sebagai sebuah kolam yang dapat dijadikan tempat bermain anak kecil, tetapi sekaligus tempat yang bisa membuat gajah tenggelam. Jadi, semua dapat membaca dan mengerti Alkitab dalam taraf tertentu.

Pernyataan di atas tidak berarti bahwa kita boleh secara sembarangan dan subyektif menafsirkan Alkitab menurut apa yang kita pandang benar. Penafsiran yang salah adalah sebuah kesalahan, tidak peduli yang dikutip adalah Alkitab. Tidak semua orang yang mengutip Alkitab adalah alkitabiah. Iblis juga mengutip Alkitab pada saat mencobai Tuhan Yesus (Mat 4). Beberapa orang yang sesat juga menggunakan kitab suci, tetapi mereka memutarbalikkan kebenaran di dalamnya (2 Pet 3:16). Berbagai bidat Kristen pun tidak lupa menggunakan Alkitab, namun mereka menafsirkannya secara sembarangan.

Dalam seri kali ini kita akan belajar tentang cara menafsirkan Alkitab. Ilmu ini biasanya disebut hermeneutika. Istilah ini dimabil dari bahasa dan tradisi Yunani kuno. Pada jaman dahulu dipercayai Dewa tertinggi, yaitu Dewa Zeus atau Jupiter, memiliki seorang penerjemah, yaitu Dewa Hermes. Dia yang bertugas menerima, menafsirkan, dan menyampaikan perkataan Zeus kepada manusia. Karena itu, ilmu tafsir modern disebut hermeneutika.

Kebutuhan terhadap hermeneutika didasarkan pada doktrin kita bahwa Alkitab adalah karya ilahi dan insani. Allah bukanlah kitab yang turun dari sorga, walaupun Akitab diilhamkan (lit. “dinafaskan”) oleh Allah (2 Tim 3:16). Alkitab adalah perkataan Allah yang ditulis oleh manusia di dalam konteks sejarah yang khusus. Tanpa mengetahui bahasa, konteks sosial, geografi, historis, dan literatur, kita tidak mungkin dapat memahami Alkitab dengan baik. Jadi, keyakinan kita terhadap hakekat Alkitab sebagai karya ilahi dan insani, mengharuskan kita untuk mempelajari dengan cara-cara tertentu yang sesuai dengan pemikiran penulis pada jaman dahulu.

Kita pasti pernah mengamati bahwa tingkat kedalaman penafsiran hamba-hamba Tuhan sangat beragam. Walaupun sebagian besar dari mereka pasti pernah belajar hermeneutika di sekolah tinggi teologi (beberapa bahkan diajar oleh dosen yang sama dan mengambil jumlah sks yang sama), hasil penafsiran mereka berlainan: yang satu lebih mendalam daripada yang lain. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Hermeneutika memiliki tiga sisi: sains, seni, dan tindakan spiritual. Sebagai sebuah sains, hermeneutika memiliki prinsip dan prosedur tertentu yang berlaku secara universal dan harus diikuti. Tidak mungkin ada penafsiran yang baik tanpa memperhatikan semua hal yang bersifat normatif ini. Di samping itu, keakraban kita dengan beragam buku atau tafsiran yang berbobot juga turut memegang peranan penting dalam pembedaan hasil penafsiran.

Berdasarkan penjelasan di atas kita sekarang tahu mengapa hamba-hamba Tuhan dari kalangan tertentu yang tidak pernah belajar secara formal di sekolah tinggi teologi biasanya tidak bisa menafsirkan Alkitab secara tepat dan mendalam. Mereka cenderung hanya mengutip ayat Alkitab untuk membenarkan konsep teologis yang sudah mereka pegang sebelumnya. Karena itu, mereka hanya menggunakan ayat-ayat tertentu yang secara sekilas mendukung pandangan mereka.

Sebagai sebuah seni, hermeneutika sangat ditentukan oleh kreativitas dan pengalaman seseorang. Para ahli hermeneutika menyadari bahwa kedalaman penafsiran dipengaruhi oleh kemampuan seseorang untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan kreatif kepada teks. Tidak semua hal yang kita ingin ketahui jawabannya ada di dalam teks yang sedang kita teliti. Kita perlu berlatih terus untuk mencermati teks dan memikirkan pertanyaan-pertanyaan tertentu yang akan memperluas dan memperdalam pemahaman kita tentang teks itu.

Poin ini menuntut kita untuk membaca Alkitab dengan pelan dan pengertian. Penafsiran yang baik berasal dari pembacaan berulang-ulang atas teks yang sama. Kita perlu menandai hal-hal tertentu yang menurut kita agak janggal bagi pemikiran orang modern. Beberapa hal yang unik juga perlu diperhatikan. Sebagai contoh, mengapa Paulus perlu menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang mencari kesukaan Tuannya (Gal 1:10) pada saat ia sedang membicarakan tentang injil palsu di jemaat Galatia (Gal 1:6-9)? Dalam pembahasan selanjutnya kita akan belajar tentang beberapa pertanyaan dasar yang perlu diajukan pada saat meneliti sebuah teks. 

Sebagai sebuah tindakan spiritual, hermeneutika sangat ditentukan oleh iluminasi dari Roh Kudus. Sebagai penafsir kita harus benar-benar membangun kedekatan dengan Allah. Sebagaimana sudah disinggung dalam bagian sebelumnya, Roh Kudus memberikan penerangan kepada orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan. Kita perlu memohon pertolongan Allah dalam setiap penyelidikan Alkitab yang kita lakukan.

Kita juga harus memiliki pengetahuan yang komprehensif dan baik tentang seluruh Alkitab. Tidak ada yang boleh menggantikan nilai penting pembacaan Alkitab setiap hari. Tanpa menguasai isi Alkitab, kita tidak akan mampu menjadi penafsir yang baik. Ingat, Roh Kudus tidak memberikan wahyu baru kepada kita. Ia hanya mengingatkan kita tentang firman Tuhan.

 

Sesudah kita belajar konteks dekat (pada tingkatan perikop), sekarang kita akan belajar apa yang disebut dengan bagian besar (major section). Konteks ini merujuk pada kumpulan perikop yang memiliki topik pembahasan yang sama. Tidak setiap perikop berdiri sendiri. Kadangkala beberapa perikop sebenarnya merupakan kesatuan pemikiran. Pembagian ke dalam periko-perikop justru kadangkala mengaburkan keterkaitan antar perikop.

Bagaimana kita dapat mengetahui sebuah major section? Ada beberapa petunjuk yang bermanfaat. Pertama, selidi apakah pokok persoalan yang dibahas tetap sama. Kedua, perhatikan beberapa kosa kata penting yang digunakan: apakah kosa kata yang sama muncul di beberapa perikop secara konsisten? Ketiga, temukan beberapa indikasi sastra yang biasanya menunjukkan kelengkapan pemikiran, misalnya inclusio (bagian awal dan akhir sama) atau chiasme (ABB’A’).

Sebagai contoh, 1 Korintus 3:10-3:23 merupakan sebuah major section. Persoalan tentang pertikaian antara jemaat secara konsisten terus disinggung. Pengultusan pemimpin rohani (golongan Paulus, Apolos, Petrus, Krisus) bahkan membentuk sebuah inclusi (bdk. 1:12 dan 3:21-22). Beberapa kosa kata juga muncul berkali-kali secara konsisten, misalnya hikmat, salib, kebodohan, dsb.

Setelah menemukan batasan major section, tugas selanjutnya adalah mengidentifikasi pokok persoalan utama yang sedang dibahas. pokok persoalan ini harus mewakili dan berhubungan dengan semua perikop yang terkait. Misalnya, berdasarkan kosa kata penting yang sering muncul di 1 Korintus 1:10-3:23, kita dapat menafsirkan bahwa persoalan yang sedang dihadapi jemaat Korintus adalah perpecahan antara jemaat atas nama para pemimpin rohani dan bersumber dari konsep tentang hikmat-kebodohan yang keliru.

Langkah berikutnya adalah mempelajari fungsi dari masing-masing perikop bagi pembahasan pokok persoalan. Mengapa Paulus membutuhkan 3 pasal untuk menyelesaikan persoalan konflik ini? Bagaimana cara dia mendekati masalah ini? Apa yang dia bahas terlebih dahulu? Apa pembahasan selanjutnya? Mengapa ia mengatur perikop-perikop seperti ini?

Sebagai contoh, dalam 1 Korintus 1:10-3:23 Paulus memulai dengan memberitahukan sumber berita yang ia dengar (1:11). Penyebutan nama keluarga Kloe di sini bertujuan untuk tidak memperkeruh suasana (jemaat tidak menebak-nebak pihak mana yang melaporkan). Di samping itu, keluarga Kloe kemungkinan besar adalah orang yang terpandang dan dianggap netral dalam kasus pertikaian yang terjadi, sehingga laporannya tidak akan memperburuk keadaan. Di 1:14-17 Paulus secara eksplisit menolak pengultusan individu yang diarahkan pada dia secara khusus. Hal ini dimaksudkan agar jemaat tidak menganggap Paulus sedang mencari keuntungan di balik masalah yang terjadi.

Kita pasti pernah mengamati bahwa tingkat kedalaman penafsiran hamba-hamba Tuhan sangat beragam. Walaupun sebagian besar dari mereka pasti pernah belajar hermeneutika di sekolah tinggi teologi (beberapa bahkan diajar oleh dosen yang sama dan mengambil jumlah sks yang sama), hasil penafsiran mereka berlainan: yang satu lebih mendalam daripada yang lain. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Hermeneutika memiliki tiga sisi: sains, seni, dan tindakan spiritual. Sebagai sebuah sains, hermeneutika memiliki prinsip dan prosedur tertentu yang berlaku secara universal dan harus diikuti. Tidak mungkin ada penafsiran yang baik tanpa memperhatikan semua hal yang bersifat normatif ini. Di samping itu, keakraban kita dengan beragam buku atau tafsiran yang berbobot juga turut memegang peranan penting dalam pembedaan hasil penafsiran.

Berdasarkan penjelasan di atas kita sekarang tahu mengapa hamba-hamba Tuhan dari kalangan tertentu yang tidak pernah belajar secara formal di sekolah tinggi teologi biasanya tidak bisa menafsirkan Alkitab secara tepat dan mendalam. Mereka cenderung hanya mengutip ayat Alkitab untuk membenarkan konsep teologis yang sudah mereka pegang sebelumnya. Karena itu, mereka hanya menggunakan ayat-ayat tertentu yang secara sekilas mendukung pandangan mereka.

Sebagai sebuah seni, hermeneutika sangat ditentukan oleh kreativitas dan pengalaman seseorang. Para ahli hermeneutika menyadari bahwa kedalaman penafsiran dipengaruhi oleh kemampuan seseorang untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan kreatif kepada teks. Tidak semua hal yang kita ingin ketahui jawabannya ada di dalam teks yang sedang kita teliti. Kita perlu berlatih terus untuk mencermati teks dan memikirkan pertanyaan-pertanyaan tertentu yang akan memperluas dan memperdalam pemahaman kita tentang teks itu.

Poin ini menuntut kita untuk membaca Alkitab dengan pelan dan pengertian. Penafsiran yang baik berasal dari pembacaan berulang-ulang atas teks yang sama. Kita perlu menandai hal-hal tertentu yang menurut kita agak janggal bagi pemikiran orang modern. Beberapa hal yang unik juga perlu diperhatikan. Sebagai contoh, mengapa Paulus perlu menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang mencari kesukaan Tuannya (Gal 1:10) pada saat ia sedang membicarakan tentang injil palsu di jemaat Galatia (Gal 1:6-9)? Dalam pembahasan selanjutnya kita akan belajar tentang beberapa pertanyaan dasar yang perlu diajukan pada saat meneliti sebuah teks. 

Sebagai sebuah tindakan spiritual, hermeneutika sangat ditentukan oleh iluminasi dari Roh Kudus. Sebagai penafsir kita harus benar-benar membangun kedekatan dengan Allah. Sebagaimana sudah disinggung dalam bagian sebelumnya, Roh Kudus memberikan penerangan kepada orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan. Kita perlu memohon pertolongan Allah dalam setiap penyelidikan Alkitab yang kita lakukan.

Kita juga harus memiliki pengetahuan yang komprehensif dan baik tentang seluruh Alkitab. Tidak ada yang boleh menggantikan nilai penting pembacaan Alkitab setiap hari. Tanpa menguasai isi Alkitab, kita tidak akan mampu menjadi penafsir yang baik. Ingat, Roh Kudus tidak memberikan wahyu baru kepada kita. Ia hanya mengingatkan kita tentang firman Tuhan.

Kita pasti pernah mengamati bahwa tingkat kedalaman penafsiran hamba-hamba Tuhan sangat beragam. Walaupun sebagian besar dari mereka pasti pernah belajar hermeneutika di sekolah tinggi teologi (beberapa bahkan diajar oleh dosen yang sama dan mengambil jumlah sks yang sama), hasil penafsiran mereka berlainan: yang satu lebih mendalam daripada yang lain. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Hermeneutika memiliki tiga sisi: sains, seni, dan tindakan spiritual. Sebagai sebuah sains, hermeneutika memiliki prinsip dan prosedur tertentu yang berlaku secara universal dan harus diikuti. Tidak mungkin ada penafsiran yang baik tanpa memperhatikan semua hal yang bersifat normatif ini. Di samping itu, keakraban kita dengan beragam buku atau tafsiran yang berbobot juga turut memegang peranan penting dalam pembedaan hasil penafsiran.

Berdasarkan penjelasan di atas kita sekarang tahu mengapa hamba-hamba Tuhan dari kalangan tertentu yang tidak pernah belajar secara formal di sekolah tinggi teologi biasanya tidak bisa menafsirkan Alkitab secara tepat dan mendalam. Mereka cenderung hanya mengutip ayat Alkitab untuk membenarkan konsep teologis yang sudah mereka pegang sebelumnya. Karena itu, mereka hanya menggunakan ayat-ayat tertentu yang secara sekilas mendukung pandangan mereka.

Sebagai sebuah seni, hermeneutika sangat ditentukan oleh kreativitas dan pengalaman seseorang. Para ahli hermeneutika menyadari bahwa kedalaman penafsiran dipengaruhi oleh kemampuan seseorang untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan kreatif kepada teks. Tidak semua hal yang kita ingin ketahui jawabannya ada di dalam teks yang sedang kita teliti. Kita perlu berlatih terus untuk mencermati teks dan memikirkan pertanyaan-pertanyaan tertentu yang akan memperluas dan memperdalam pemahaman kita tentang teks itu.

Poin ini menuntut kita untuk membaca Alkitab dengan pelan dan pengertian. Penafsiran yang baik berasal dari pembacaan berulang-ulang atas teks yang sama. Kita perlu menandai hal-hal tertentu yang menurut kita agak janggal bagi pemikiran orang modern. Beberapa hal yang unik juga perlu diperhatikan. Sebagai contoh, mengapa Paulus perlu menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang mencari kesukaan Tuannya (Gal 1:10) pada saat ia sedang membicarakan tentang injil palsu di jemaat Galatia (Gal 1:6-9)? Dalam pembahasan selanjutnya kita akan belajar tentang beberapa pertanyaan dasar yang perlu diajukan pada saat meneliti sebuah teks. 

Sebagai sebuah tindakan spiritual, hermeneutika sangat ditentukan oleh iluminasi dari Roh Kudus. Sebagai penafsir kita harus benar-benar membangun kedekatan dengan Allah. Sebagaimana sudah disinggung dalam bagian sebelumnya, Roh Kudus memberikan penerangan kepada orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan. Kita perlu memohon pertolongan Allah dalam setiap penyelidikan Alkitab yang kita lakukan.

Kita juga harus memiliki pengetahuan yang komprehensif dan baik tentang seluruh Alkitab. Tidak ada yang boleh menggantikan nilai penting pembacaan Alkitab setiap hari. Tanpa menguasai isi Alkitab, kita tidak akan mampu menjadi penafsir yang baik. Ingat, Roh Kudus tidak memberikan wahyu baru kepada kita. Ia hanya mengingatkan kita tentang firman Tuhan.

Salah satu karakteristik Alkitab adalah kejelasan (clarity). Sifat ini merujuk pada kecukupan Alkitab untuk dimengerti pikiran yang sederhana. Allah bukan hanya memberikan firman-Nya yang tertulis kepada mahasiswa teologi atau hamba Tuhan. Semua orang percaya juga dapat mendapatkan manfaat darinya. Sebuah pepatah terkenal menggambarkan Alkitab sebagai sebuah kolam yang dapat dijadikan tempat bermain anak kecil, tetapi sekaligus tempat yang bisa membuat gajah tenggelam. Jadi, semua dapat membaca dan mengerti Alkitab dalam taraf tertentu.

Pernyataan di atas tidak berarti bahwa kita boleh secara sembarangan dan subyektif menafsirkan Alkitab menurut apa yang kita pandang benar. Penafsiran yang salah adalah sebuah kesalahan, tidak peduli yang dikutip adalah Alkitab. Tidak semua orang yang mengutip Alkitab adalah alkitabiah. Iblis juga mengutip Alkitab pada saat mencobai Tuhan Yesus (Mat 4). Beberapa orang yang sesat juga menggunakan kitab suci, tetapi mereka memutarbalikkan kebenaran di dalamnya (2 Pet 3:16). Berbagai bidat Kristen pun tidak lupa menggunakan Alkitab, namun mereka menafsirkannya secara sembarangan.

Dalam seri kali ini kita akan belajar tentang cara menafsirkan Alkitab. Ilmu ini biasanya disebut hermeneutika. Istilah ini dimabil dari bahasa dan tradisi Yunani kuno. Pada jaman dahulu dipercayai Dewa tertinggi, yaitu Dewa Zeus atau Jupiter, memiliki seorang penerjemah, yaitu Dewa Hermes. Dia yang bertugas menerima, menafsirkan, dan menyampaikan perkataan Zeus kepada manusia. Karena itu, ilmu tafsir modern disebut hermeneutika.

Kebutuhan terhadap hermeneutika didasarkan pada doktrin kita bahwa Alkitab adalah karya ilahi dan insani. Allah bukanlah kitab yang turun dari sorga, walaupun Akitab diilhamkan (lit. “dinafaskan”) oleh Allah (2 Tim 3:16). Alkitab adalah perkataan Allah yang ditulis oleh manusia di dalam konteks sejarah yang khusus. Tanpa mengetahui bahasa, konteks sosial, geografi, historis, dan literatur, kita tidak mungkin dapat memahami Alkitab dengan baik. Jadi, keyakinan kita terhadap hakekat Alkitab sebagai karya ilahi dan insani, mengharuskan kita untuk mempelajari dengan cara-cara tertentu yang sesuai dengan pemikiran penulis pada jaman dahulu

Tingkatan konteks

Suatu ketika seseorang memberitahu saya bahwa pendeta X mengajarkan sebuah ajaran yang salah. Tatkala mendengar berita ini saya tidak percaya, karena saya mengenal pemikiran pendeta X dengan cukup baik melalui buku-buku yang ia terbitkan. Dugaan saya ternyata benar. Orang yang memberitahukan informasi itu kepada saya ternyata hanya mencuplik beberapa kalimat dari sebuah buku tanpa memahami isi buku itu secara keseluruhan. Peristiwa ini memberikan sebuah pelajaran penting: mengetahui keseluruhan pemikiran seseorang melalui buku-buku yang ia tulis sangat membantu kita untuk memahami pemikirannya pada kasus tertentu yang lebih khusus.

Begitu pula dengan menafsirkan Alkitab. Misalnya, pada saat kita membaca kalimat/topik dalam surat Paulus, kita perlu memperhatikan bagaimana konsep Paulus tentang topik itu di surat-suratnya yang lain. Ini adalah salah satu contoh tentang tingkatan konteks dan pentingnya mengetahui hal itu dalam penafsiran.

Tingkatan yang paling sempit adalah konteks paragraf. Dalam berbagai terjemahan Alkitab modern, sebuah paragraf ditandai dengan permulaan kalimat yang agak menjorok ke tengah. Sebuah paragraf memiliki satu pokok pikiran, yang biasanya diungkapkan melalui satu kalimat inti dan beberapa kalimat penjelas. Pokok pikiran dalam sebuah paragraf bisa berupa penjelasan masalah, ilustrasi, jawaban, atau contoh.

Tugas seorang penafsir adalah mengidentifikasi kapan sebuah paragraf baru dimulai. Dalam naskah asli Alkitab maupun salinan-salinan kuno, pembagian pasal, paragraf, atau ayat belum ada. Sekarang kita terbantu dengan pembagian semacam itu dalam berbagai versi Alkitab modern. Cara paling mudah adalah membandingkan pembagian paragraf dalam beberapa versi Indonesia dan Inggris. Apabila semua penerjemah memberikan pembagian yang sama, tugas kita tinggal menyelidiki pokok pikiran dalam paragraf itu. Tuliskan masing-masing pokok pikiran tersebut dan cobalah untuk merangkainya menjadi sebuah kesatuan pemikiran. Untuk bagian Alkitab yang berbentuk cerita (narasi), pembagian paragraf biasanya dengan mudah dapat dideteksi. 

  Sebagai contoh, Yunus 3:1-10. Bagian ini terdiri dari 4 bagian besar: ayat 1-3a (ditandai dengan inclusio “firman TUHAN/Allah” di ayat 1 dan 3a), ayat 3b-4 (ketaatan Yunus kepada perintah Allah), ayat 5-9 (respon penduduk Niniwe), dan ayat 10 (respon TUHAN terhadap pertobatan penduduk Niniwe).

Contoh lain adalah Matius 5:17-20. Bagian ini pasti membentuk sebuah paragraf tersendiri. Ayat 17-20 terpisah dari bagian sebelumnya yang membahas tentang garam dan terang dunia (ayat 13-16). Ayat 17-20 juga dibedakan dari bagian sesudahnya yang sering dimulai dengan formula: “Kamu telah mendengar....tetapi Aku berkata kepadamu.....” Apakah fungsi dari ayat 17-20? Dalam konteks Matius 5:17-48, ayat 17-20 berfungsi sebagai pendahuluan yang menerangkan bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap Taurat: Yesus datang bukan hanya untuk menaati, melainkan untuk menggenapinya.

Sebagai tugas di rumah, cobalah baca Matius 6:19-24. Temukan beberapa petunjuk dalam teks yang meyakinkan kita bahwa ayat 19-24 merupakan satu paragraf!

Bagi orang modern, kebutuhan untuk menguasai prinsip penafsiran Alkitab merupakan hal yang tidak terelakkan. Antara para penulis Alkitab dan kita terbentang waktu yang sangat panjang. Mereka hidup dalam jaman yang berbeda dengan kita. Ada beberapa jurang (gaps) yang perlu dijembatani supaya kita dapat mengetahui maksud mula-mula penulis Alkitab.

Jurang pertama adalah bahasa. Hampir semua bagian Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani kuno. Beberapa bagian kecil dalam bahasa Aram (Ez 4:8-6:18; 7:12-26; Dan 2:4-7:28). Seluruh Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine, kecuali segelintir kata atau istilah pinjaman dari bahasa Aram atau Latin. Semua bahasa ini adalah bahasa-bahasa yang bisa dimengerti oleh para pembaca Alkitab yang mula-mula.

Sebagian besar orang Kristen modern tidak menguasai bahasa Ibrani maupun Yunani. Kita terbiasa membaca Alkitab dalam terjemahan modern. Walaupun ketersediaan beragam terjemahan Alkitab merupakan anugerah yang patut disyukuri, hal ini tetap tidak ideal. Walaupun para penerjemah yang berada di balik berbagai versi itu adalah orang-orang yang kompeten pada bidangnya, sebuah terjemahan tetap tidak selalu mampu mengungkapkan arti dan makna yang terdapat pada bahasa lain. Bagi sebagian kita yang ingin menyelidiki Alkitab secara mendalam dan mendetil, penguasaan bahasa asli Alkitab tetap diperlukan.

Jurang kedua adalah budaya dan sosial. Bahasa hanyalah salah satu elemen budaya yang memerlukan perhatian. Masih banyak elemen lain yang menuntut perhatian yang sama, misalnya adat istiadat, kebiasaan, hukum lisan, ritual tertentu, maupun cara berpikir. Tanpa memahami konteks sosial dan kultural masyarakat kuno kita akan mengalami kesulitan untuk menemukan maksud mula-mula dari penulis Alkitab. Para pembaca mula-mula memang hidup dalam konteks sosial budaya yang sama dengan penulis Alkitab, sehingga para penulis seringkali tidak merasa perlu untuk memberikan penjelasan tambahan atas beberapa hal yang berhubungan dengan budaya pada waktu itu.

Kita yang hidup di jaman modern tidak memiliki “hak istimewa” seperti itu. Beberapa ungkapan dalam Alkitab merupakan misteri bagi kita. Misalnya, mengapa kerudung kepala menjadi persoalan yang begitu serius (1 Kor 11:2-16)? Apa yang dimaksud dengan mereka yang letih lesu dan berbeban berat dalam ucapan Yesus di Matius 11:28? Mengapa Yesus, sebagai gembala yang baik, justru berjalan di depan domba-domba-Nya, seolah-olah Ia tidak memperhatikan mereka dengan waspada (Yoh 10:4)?

Kesulitan ini menjadi lebih parah apabila kita menyadari bahwa pemahaman kita sendiri juga dipengaruhi oleh budaya modern. Tanpa kita sadari kita cenderung memahami sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Hal ini harus dihindari dalam penafsiran Alkitab. Dalam menafsirkan Alkitab kita sedang membawa keluar arti yang sebenarnya dari dalam teks (exegese), bukan memasukkan arti yang asing ke dalam teks kuno (eisegese). Sebagai contoh, sebagian besar pembaca modern pasti menganggap Lot telah bertindak melewati batas pada saat ia menawarkan dua anak perempuannya untuk diperkosa penduduk Sodom dan Gomora demi menyelamatkan para tamunya (Kej 19:7-8). Jika kita mengetahui bahwa pada ajamn dahulu tindakan menerima tamu dianggap sebagai salah satu perbuatan yang paling mulia, kita bisa memaklumi mengapa Lot melakukan hal yang demikian.

Jurang yang ketiga adalah sejarah. Umat Allah tidak hidup di awan-awan. Mereka juga tidak hidup terisolasi dari orang-orang lain. Mereka ada di dalam dunia. Mereka menjadi saksi dan pelaku sejarah. Sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru umat Allah telah menjalani beragam peristiwa sejarah yang terus berganti. Pada saat para penulis Alkitab menyampaikan firman Allah, mereka juga mempertimbangkan semua faktor historis ini. Dalam beberapa hal mereka menyediakan tambahan keterangan yang bermanfaat, namun dalam banyak hal yang lain mereka mengasumsikan pembacanya untuk mengetahui sendiri.

Orang Kristen modern tidak serta-merta mengetahui perkembangan historis umat Allah. Kita perlu meneliti beberapa bagian Alkitab yang bermanfaat untuk merekonstruksi perkembangan sejarah tersebut, misalnya dari penciptaan (Kejadian), pembebasan dari Mesir (Keluaran-Ulangan), penaklukan tanah Kanaan (Yosua), masa hakim-hakim (Hakim-hakim, Ruth), permulaan masa kerajaan (1 Samuel), masa monarkhi (2 Samuel, 1-2 Raja-raja, 1-2 Tawarikh), pembuangan (Ester, Yeremia, Daniel), sampai kembali dari pembuangan di Babel (Ezra, Nehemia, Hagai, Maleakhi). Kita juga seyogyanya membaca tulisan-tulisan kuno di luar Alkitab supaya lebih mengetahui dinamika historis pada jaman Alkitab (2 Makabe, tulisan Yosefus, biografi kaisar Romawi)

Bagikan artikel ini :