10 Tulah di Mesir

10 Tulah di Mesir

Pemahaman Istilah ‘Tulah’

‘Sepuluh Tulah’ (Ten Plagues) merupakan istilah tradisional yang ditujukan pada 10 peristiwa hukuman yang dikenakan pada bangsa Mesir sebelum peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir; istilah ini bukan merupakan istilah yang diberikan oleh Alkitab. Kitab Keluaran utamanya, tidak memunculkan istilah yang konsisten untuk merujuk pada 10 ‘tulah’ yang diberikan kepada orang Mesir. Dalam Kel. 11:1 dikatakan: “...Aku akan mendatangkan satu tulah [g:n (nega’) lagi.....” yang dapat diartikan ‘penyakit, serangan atau tulah’ (bdg. Im. 13 dan 14). Sedangkan dalam Kel. 12:13 (juga 9:14) dikatakan: “....jadi tidak akan ada tulah @g<n<  (negep) kemusnahan..” yang dapat diartikan ‘wabah, penyakit, serangan, tulah‘ (bdg. Kel 30:12; Bil. 8:19; Yes. 8:14). Kel. 15:26 memahami tulah sebagai ‘penyakit’, 7:3 memahaminya sebagai ‘tanda-tanda dan mujizat-mujizat’ tAa (‘ot). Jika akhirnya ke-10 peristiwa tersebut lebih populer dengan sebutan ‘tulah’, hal ini disebabkan karena efeknya yang dapat mengakibatkan kematian, kesengsaraan baik kepada binatang dan manusia walaupun memang ada beberapa tulah yang tidak berhubungan dengan penyakit (tulah 7,8,9). 

Tujuan Pemberian Tulah-tulah

Dari pemaparan beberapa ayat dalam Alkitab, ada beberapa alasan Allah memberikan tulah kepada orang-orang Mesir :

untuk menunjukkan bahwa Dialah Tuhan (Kel. 7:4-5; ;12:12; 18:11)

untuk menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya Allah (Kel. 9:14)

untuk menunjukkan ciri khas natur-Nya, keunikan-Nya, imanensi-Nya, kekuatan dan kuasa-Nya (Kel. 8:6, 16; 9:14, 29)

untuk menunjukkan hubungan yang khusus antara Tuhan dan orang Israel (Kel. 10:1-12; 11:7)

untuk menunjukkan bahwa dewa-dewa orang Mesir (Kel. 12:12; Bil. 33:4) bukanlah allah dan mereka layak untuk dihukum karena ketidakberdayaan mereka

Tulah-tulah itu memang diberikan untuk mengalahkan konsep orang Mesir tentang dewa-dewa mereka yang berkuasa.

Bangsa Mesir adalah masyarakat politeistik, yaitu masyarakat yang mempunyai dan menyembah banyak dewa. Durant mengatakan, “We cannot understand the Egyptian, or man,  until we study his gods.” Bahkan mereka menganggap Firaun adalah seorang dewa, yaitu anak Amon-Ra, yang memerintah bukan hanya dengan hak-hak ilahi tetapi melalui kelahirannya yang ilahi. Di atas kepalanya ada mahkota berlambangkan falcon (simbol dewa Horus) dan lambang sukunya. Dahinya dihiasi dengan ular yang melambangkan kebijaksanaan dan kehidupan

Bangsa Mesir juga mendewakan singa, lembu, lembu betina, serigala, anjing, kucing, burung ibis, burung hering, burung falcon, kuda nil, buaya, ular kobra, ikan lumba-lumba, dan berbagai jenis ikan lainnya, pohon, termasuk juga binatang-binatang kecil, seperti katak, belalang dan berbagai serangga.   Setidaknya ada lebih dari 80 dewa orang Mesir.

Ikan-ikan yang hidup di sungai Nil dianggap sebagai sesuatu yang keramat sehingga dijaga oleh 2 dewi, yaitu Hator (dewi langit dan ratu surga yang juga melindungi ikan-ikan kecil) dan Neith (dewi perang jaman kuno yang melindungi ikan-ikan besar yang dianggap pula sebagai anak-anaknya).  Neith adalah dewi Mesir yang sangat berkuasa. Dia adalah saudara Isis dan pelindung dari Duamutef (dewa yang menjaga perut bagian dalam orang  mati). Selain itu Neith adalah ibu dari dewa sungai Nil, Sobek, yaitu dewa jahat dengan kepala berbentuk buaya. Kepada Sobek-lah Firaun mempersembahkan anak-anak laki-laki orang Ibrani yang dibuang ke sungai Nil (Kel. 1:22).

Apepi, dewa buaya sungai Nil yang lain, merupakan saingan utama dewa matahari Ra, dan kemungkinan adalah salah satu dari ular yang muncul di hadapan Firaun dan Musa dalam Kel. 7:10-12.

Sungai Nil juga dijaga oleh dewi Tauret, yaitu dewi badak sungai Nil serta dewa kehidupan sungai Nil, Nu.

Dengan peristiwa berubahnya sungai Nil menjadi darah, setidaknya ada 10 dewa orang Mesir (Khnum, Sati, Hapi, Osiris, Hator, Neith, Sobek, Apepi, Tauret dan Nu) yang dipermalukan. 

Katak

Katak-katak akan mengeriap dalam sungai Nil, lalu naik dan masuk ke dalam istanamu dan kamar tidurmu, ya sampai ke dalam tempat tidurmu, ke dalam rumah pegawai-pegawaimu, dan rakyatmu, bahkan ke dalam pembakaran rotimu serta ke dalam tempat adonanmu. Katak-katak itu akan naik memanjati engkau, memanjati rakyatmu dan segala pegawaimu." (Kel. 8:3-4). Lalu Harun mengulurkan tangannya ke atas segala air di Mesir, maka bermunculanlah katak-katak lalu menutupi tanah Mesir (Kel. 8:6)

Bagi orang Mesir kuno, tulah katak merupakan sesuatu yang sangat memalukan mereka. Ketika katak-katak jumlahnya semakin bertambah dan menutupi seluruh Mesir, maka orang-orang Mesir sangatlah tidak mungkin tidak menginjak katak-katak tersebut ke manapun mereka lari. Dengan menginjak katak-katak tersebut sama halnya dengan menghina dewi Heket, dewi yang berbadan dan berkepala katak.  Katak adalah binatang yang keramat, utamanya karena anak-anak dari katak dilindungi oleh dewi Heket. Heket memegang peranan penting dalam pertumbuhan anak-anak, termasuk anak manusia (dari embrio hingga lahirnya). Dia adalah pelindung para bidan yang membantu kelahiran bayi dan lambang dari dewi kesuburan. Sebagai istri dari Khnum, Heka membantu Khnum dalam proses penciptaan manusia dan bergaul karib dengan Hapi, yang memegang katak di tangannya sebagai sumber gizi yang keluar dari mulutnya.

Selain itu dewi Heket dihubungkan dengan banjir di sungai Nil. Jika musim air  sungai Nil surut, berjuta-juta katak malahan terus bertambah jumlahnya di sepanjang aliran sungai Nil, maka itu pertanda baik dari dewi Heket. Orang Mesir dilarang membunuh katak-katak tersebut, bahkan ada kalanya jika seseorang membunuh kataka, tanpa disengaja, maka dia akan dihukum mati.

Nyamuk

Lalu mereka berbuat demikian; Harun mengulurkan tangannya dengan tongkatnya dan memukulkannya ke debu tanah, maka nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang. Segala debu tanah menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir (Kel. 8:17)

Terjemahan Alkitab berbahasa Inggris memakai beberapa kata untuk merujuk pada kata yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ‘nyamuk’,  misalnya gnat (NIV, RASV), lice (KJV, ASV), sciniph (DRA). Mungkin LAI mengikuti terjemahan New Jerusalem Bible yang juga memakai kata ‘mosquitoes.’ 

Dalam bahasa Ibrani kata yang dipakai untuk merujuk ‘nyamuk’ ini adalah ~NIKi (kinnim). Kata ini hanya muncul sekali dalam keseluruhan PL. Filsuf Yahudi abad pertama, Philo of Alexandria, menafsirkan kinnim ini sebagai binatang yang merayap ke hidung dan telinga.

....and an abundance of lice was poured out everywhere, and it extended lika a cloud, and covered the whole of Egypt. And that little animal, eventhough it is very small, is exceedingly annoying; for not only does it spoil the appearance, creating unseemly and injurious itchings, but it also penetrates into the inmost parts, entering in at the nostril and ears? And it flies into the eyes and injures the pupils, unless one takes great care.... (On the Life of Moses I.19.107-108) 

Penjelasan Philo ini cukup mendetil namun versi-versi PL (Peshita, Targum Onkelos, Josephus dalam Antiquities Book 2.14.3) menggunakan kata ‘lice’. Sedangkan beberapa versi Yunani serta Latin lebih memilih terjemahan ‘gnat’; dari gnat itulah muncul pemilihan kata ‘mosquito’ yang jauh lebih umum. 

Tulah nyamuk membawa petaka setidaknya bagi 4 strata penting orang Mesir:

1.   Imam-imam orang Mesir. Ketika sedang mengadakan perjalanan ke Mesir, sejarawan Yunani, Herodotus, dalam tulisannya, The Histories, menggambarkan keterpukauannya dengan ritual yang dilakukan imam-imam Mesir. Menurutnya,

Priests shave every parts of their bodies every other day, to stop themselves   getting lice, or in general being at all uncleanas they minister to the gods. The priests wear only one garment made outof linen, while their shoes are papyrus; they are not allowed to wear any other kind of clothing or footwear, and they wash with cold water twice every day and twice at night too. 

Bagi seorang imam Mesir, dihinggapi 1 ekor  nyamuk saja berakibat pada statusnya sebagai orang najis, sehingga dia tidak layak melayani di kuil. Padahal tugas seorang imam adalah membawa semacam replica kuil kecil yang berisi patung-patung dewa yang diperuntukkan bagi orang awam yang tidak boleh memasuki tempat kudus. Selain itu sebagai imam, mereka bertugas untuk melayani berbagai ritual di ruang kudus (semacam ruang maha kudus di kemah suci). 

2. Firaun. Firaun digambarkan sebagai inkarnasi Horus dan anak dari dewa matahari, Ra. Tanah di Mesir adalah tanah yang kudus. Dan ketika tanah kudus milik Ra diubah menjadi nyamuk, maka itu merupakan tamparan besar bagi Firaun sebagai dewa yang berinkarnasi.

3. Ahli-ahli sihir Mesir. Pada tulah ke-3 inilah ahli-ahli sihir Mesir baru tidak dapat meniru apa yang dilakukan oleh Allah Israel melalui Musa, bahkan mereka berani berkata bahwa tulah nyamuk ini adalah tangan Allah (Kel.  8:19).

4. Dewa tanah Mesir, Geb, adalah dewa yang melindungi tanah, sedangkan Seth, dewa pemarah yang menguasai tanah pasir padang gurun. Dengan berubahnya debu tanah di seluruh Mesir, maka kedua dewa itu seakan dipermalukan atas ketidakberdayaan mereka.

--------------------------------------------------------

(Lanjutan artikel 10 Tulah di mesir bagian 4)

--------------------------------------------------------

Barah

Lalu mereka mengambil jelaga dari dapur peleburan, dan berdiri di depan Firaun, kemudian Musa menghamburkannya ke udara, maka terjadilah barah, yang memecah sebagai gelembung pada manusia dan binatang (Kel. 9:10)

Barah yang dimaksud di sini kemungkinan adalah sejenis anthrax pada kulit, yaitu sejenis bisul bernanah yang jika mengelupas membentuk gelembung-gelembung  dan menyerang seluruh lutut, paha, kaki, telapak kaki manusia bahkan kepalanya (bdg. Ul. 28:35). Mungkin karena kondisi yang sedemikian parah inilah yang menjadi alasan mengapa para ahli sihir Mesir tidak dapat menghadap Firaun (Kel. 9:11).

Selain mempermalukan para ahli sihir Mesir, kondisi ini juga menghina setidaknya kekuatan 3 orang dewa kesembuhan atau kesehatan Mesir, yaitu:

1. Serapis, dewa yang bertugas menyembuhkan sakit.

2. Thoth, dewa berkepala burung ibis yang mengurusi intelegensia yang berhubungan dengan medis

3. Imhotep, dewa obat Mesir. Selama dinasti Mesir III atau setidaknya 1000 tahun sebelum peristiwa Keluaran, ada seorang laki-laki bernama Imhotep yang melayani sebagai pegawai kepercayaan Firaun Zoser. Imhotep adalah seorang ahli teknik yang sangat pandai dan membangun bangunan-bangunan raksasa dari batu, termasuk di dalamnya  Step-Piramid di Saqquara. Dia juga memiliki kemampuan sebagai ahli sihir dan dokter. Ketika orang Mesir menderita karena 7 tahun kelaparan selama masa pemerintahan Zoser, Firaun meminta Imhotep untuk mempelajari kitab-kitab keramat. Setelah beberapa hari mempelajarinya, Imhotep muncul dan membukakan kepada Firaun tentang “keajaiban-keajaiban tersembunyi” yang tidak ditunjukkan kepada raja lain tentang masa-masa tersebut.  Zoser sangat terkesima dengan penjelasan Imhotep yang mengakibatkan Mesir dapat mengatasi kelaparan di negeri tersebut. Selanjutnya Imhotep diangkat sebagai kepala imam Kheri-heb, yaitu anak dewa Ptah. Tetapi popularitas Imhotep tidak hanya berhenti selama dia hidup. Ketika dia mati, dia diangkat, didewakan sebagai dewa penyembuh. Firaun-firaun selanjutnya membangun banyak kuil yang salah satunya ditujukan kepada Imhotep. Di kuil  Imhotep disediakan kamar-kamar pengobatan untuk orang yang sakit secara fisik dan mental. Imhotep juga mengajarkan kepada orang Mesir bahwa berbagai bentuk gejala penyakit dapat dihindarkan jika kekuatan sihir dari penyembuahn dipergunakan dengan benar. Para ahli sihir pengikut Imhotep biasa mempergunakan kristal sihir  dan jampi-jampi Isis untuk memanggil Sekhmet, dewi yang berdaulat atas berbagai penyakit.

Hujan Es

Lalu Musa mengulurkan tongkatnya ke langit, maka TUHAN mengadakan guruh dan hujan es, dan apipun menyembar ke bumi, dan TUHAN menurunkan hujan es meliputi tanah Mesir. Dan turunlah hujan es, beserta api yang berkilat-kilat di tengah-tengah hujan es itu, terlalu dahsyat, seperti yang belum pernah terjadi di seluruh negeri Mesir, sejak mereka menjadi suatu bangsa. Hujan es itu menimpa  binasa segala sesuatu yang ada di padang, di seluruh tanah Mesir, dari manusia sampai binatang; juga segala tumbuh-tumbuhan di padang ditimpa binasa oleh hujan itu dan segala pohon di padang ditumbangkannya (Kel. 9:23-25). 

Tulah hujan es, disertai kilat dan guntur, merupakan peristiwa yang sangat menakutkan bagi orang Mesir dibandingkan jika peristiwa itu terjadi di negara lainnya. Saat itu di Mesir, hujan merupakan sebuah peristiwa yang sangat jarang, guntur dan kilatpun, jika muncul, bukan merupakan jenis peristiwa alam yang membahayakan. Herodotus mengatakan, “During the reign of Psammenitus, Egypt beheld a most remarkable prodigy. There was rain at the Egyptian Thebes, a circumstance which never happened before, and which, as the Thebans themselves assert, has never occurred since. In the higher parts of Egypt it never rains; but at that period it rained in distinct drops.” Plutarch juga mengatakan hal senada, “In Egypt no moisture of the air is ever condensed into showers.”   

Dewi Nut adalah pelindung langit dan cuaca dan dalam kesenian Mesir; dia dilambangkan sebagai wanita yang merangkul bumi dengan bintang di atas punggungnya dan bumi di bawah perutnya. Dia adalah istri Osiris, penguasa atas ladang dan kesuburan sekaligus ibu bagi dewa-dewi lainnya seperti Hathor, Set, Isis dan Neptis. Petani-petani kuno Mesir menggambarkannya sebagai seorang ibu yang sangat perhatian terhadap langit. Menurut mitos kuno, Nut meninggikan dirinya setiap pagi melalui jari tangan dan kakinya untuk menyediakan suatu ruangan (semacam cakrawala)  buat dirinya dan Geb. Pada malam hari, ketika Nut berbaring, cakrawala itu menutup kembali dan kegelapan melingkupi bumi.

Bagi orang Mesir, ketika hujan es tiba-tiba turun dengan hebatnya dan langit menjadi gelap, hal ini merupakan tindakan yang mengejutkan karena menyangkut kredibilitas kemampuan dewa-dewi yang biasa mengatur keseimbangan alam, seperti Shu, dewa angin dan Horus, dewa langit Mesir Atas yang berkepala elang.  Selain itu Isis dan Set yang bertugas menjaga panen juga diragukan kredibilitasnya.  Apalagi pada tulah ini ada keterangan tentang dahsyatnya hujan es ini, bahkan belum pernah terjadi sejak Mesir berdiri menjadi sebuah bangsa.

Belalang

Lalu Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir, dan TUHAN mendatangkan angin timur melintasi negeri itu, sehari-harian dan semalam-malaman, dan setelah hari pagi, angin timur membawa belalang. Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh tanah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir  (Kel. 10:13-15)

Dengan gambaran serangan yang dipaparkan kitab Keluaran pada bagian ini, seharusnya orang Mesir  meminta bantuan kepada Sobek, dewa berkepala buaya yang menguasai binatang-binatang dan serangga. Sebagai anak dari Neith, Sobek adalah setan bawah bumi yang menguasai 4 elemen, api, bumi, air dan udara. Dengan demikian Sobek bekerjasama dengan dewa-dewa lainnya, seperti Ra (api), Geb (bumi), Osiris (air) dan Shu (Udara). Dengan menguasai 4 elemen di atas, Sobek harus mampu menguasai binatang-binatang dengan aktifitas dan habitat tertentu, seperti buaya di air, belalang di udara. Namun ternyata, Sobek tidak mampu menghadapi serangan pasukan belalang di tanah Mesir.

Selain itu dewa-dewa yang berhubungan dengan tumbuh-tumbuhan juga terdiam menghadapi serangan belalang, misalnya Nepri, dewa gandum, Ermutet dan Termutis, 2 dewa panen.

Kegelapan

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orangyang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; (Kel. 10:22-23a)

Orang Mesir menganggap Amon-Ra sebagai dewa atas segala dewa. Mereka percaya bahwa tidak ada dewa yang lebih tinggi dari Ra. Matahari terdiri dari mata Ra; terang dan hangatnya matahari tengah hari merupakan percikannya ketika dia mandi. Ra juga disebut sebagai Khepri (matahari yang terbit), Atum (matahari terbenam) sehingga seluruh posisi matahari, baik terbit hingga terbenam, merupakan bagian dari postur tubuh Ra. Dan Firaun dipandang sebagai anak Ra, yaitu perwakilan Ra di muka bumi.

Jika matahari tidak muncul atau sedang mengalami gerhana, hal itu dianggap sebagai pertanda buruk bagi Firaun. Apalagi jika kegelapan itu terjadi selama 3 hari karena angka 3 dimengerti oleh orang Ibrani dan Mesir sebagai lambang kedaulatan Allah sehingga tidak ada seorangpun yang mampu mengubahnya.  Dengan demikian tulah ini dapat dikatakan sebagai puncak dari tulah-tulah lainnya.

Selain Ra, dewa Horus dipercaya sebagai dewa terang yang memberikan kekuatan kehidupan dari dewa Ra. Ptah, dewa yang menciptakan matahari, bulan dan bumi, juga terdiam menghadapi kegelapan yang menghinggapi seluruh wilayah Mesir.

Kematian anak sulung Firaun

Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulungFiraun yang duduk di tahtanya sampai kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta  segala anak sulung hewan. Lalu bangunlah Firaun pada malam itu, bersama semua pegawainya dan semua orang Mesir; dan kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak ada kematian  (Kel. 12:29-30)

Dalam kepercayaan orang Mesir, setidaknya ada beberapa dewa yang bertugas menjaga anak-anak orang Mesir:

1. Heka, dewi katak, bertugas  mengawasi perkembangan binatang dan anak-anak manusia mulai dari embrio.

2. Isis, ibu yang mengawasi anak-anak dalam hal perkataan dan sekaligus dewi kesuburan.

3. Min, dewa kejantanan, yang bertugas untuk menganugerahkan kemampuan bereproduksi bagi pria dan sekaligus menganugerahkan kemampuan tersebut bagi Firaun

4. Horus, anak Isis dan Osiris, bertugas menjaga anak-anak Firaun.

5. Bes, pelindung dan penjaga kaum ibu dan anak-anaknya, termasuk Firaun itu sendiri

6. Firaun sendiri selaku pelindung orang Mesir dan inkarnasi dari dewa matahari, Ra dan Horus.

7. Hator, salah seorang dari 7 dewa yang hadir saat seorang anak sedang dilahirkan.

8. Meskenet, dewi yang memimpin  kelahiran anak-anak.

9. Renenutet, dewa berbentuk ular kobra yang bertugas menjaga Firaun.

Eksistensi Tulah-Tulah

Sehubungan dengan eksistensi tulah-tulah tersebut, ada beberapa pandangan:

1. Tulah-tulah itu bersifat mistik atau alegoris

Kebanyakan ahli ilmu alam dan pemikir-pemikir sekuler percaya bahwa kisah tulah-tulah hanyalah kisah mistik dan timbul karena catatan-catatan tentang bencana alam yang tidak saling berhubungan.

2.     Tulah-tulah itu dapat dibuktikan dari sisi arkeologi

Beberapa arkeolog Kristen (mis. W.F. Albright, Immanuel Velikovsky) menyatakan bahwa ada bukti arkeologi tentang tulah-tulah itu. Albright  menemukan sebuah bak air kuno di El Arish yang mengandung tanda-tanda hieroglyphic  yang merupakan tanda periode kegelapan.

Pada permulaan abad ke-19, sebuah papyrus kuno ditemukan di Mesir dan selanjutnya papyrus tersebut dibawa ke Leiden, Belanda. Pada tahun 1909 papirus tersebut diinterpretasikan oleh A.H. Gardiner dan terkenal dengan nama Papyrus Ipuwer. Hasilnya adalah sebagai berikut (diikuti dengan parallel dari kitab Keluaran):

a.    Papirus  2:10 F sungai menjadi darah (bdg. Kel. 7:20)

b. Papirus 4:14, 6:1 F pohon-pohon hancur, tidak ada buah ataupun tumbuh-tumbuhan yang diketemukan (bdg. Kel. 9:25)

c. Papirus 2:10 F pintu-pimtu gerbang, tiang-tiang dan dinding-dinding terbakar oleh api (bdg. Kel. 9:23-24)

d.    Papirus 9:11 F  tanah Mesir tidak lagi terang…..(bdg. Kel. 10:22)

e. Papirus 4:3, 5:6, 6:12 F sesungguhnya anak-anak raja berlarian kea rah dinding kota dan mereka terhalau di jalanan (bdg. Kel. 12:29)

3. Tulah-tulah itu hanyalah gejala alam dan bukan kejadian supranatural:

 

No.

Tulah

Pemicu alam

1.

Air menjadi darah

Merahnya sungai Nil terjadi karena polusi yang disebabkan oleh aktifitas gunung berapi yang berakibat pada warna endapan Lumpur sungai Nil. Hal ini pulalah yang mengakibatkan air tersebut tidak dapat diminum.

Hujan deras di sekitar daerah bertanah merah di danau Viktoria menyebabkan air berwarna merah mengalir ke arah hilir

Bunga ganggang merah beracun yang ada di sekitar sungai Nil dapat menghasilkan sejumlah racun yang dapat mematikan ikan

2.

Katak

Sejenis penyakit tumbuhan pada air yang dapat membunuh ikan, juga menyebabkan katak-katak  meninggalkan sungai (dan kemungkinan juga mati).

3 & 4.

Nyamuk dan lalat

Berkurangnya jumlah katak di sungai akan menyebabkan populasi nyamuk dan lalat berkembang dengan cepat.

5

Penyakit sampar pada ternak

Kemunculan lalat-lalat yang dapat menggigit di daerah sungai menularkan penyakit pada ternak

 

No.

Tulah

Pemicu alam

6 & 7.

Barah dan Hujan Es

Aktifitas gunung berapi  bukan hanya mengakibatkan penyebaran abu yang meluas tetapi juga belerang dan juga merubah sistem cuaca. Akibatnya hujan es bias muncul dengan tiba-tiba.

8.

Belalang

Hujan Es akan merusak hasil panen dan mengakibatkan beberapa jenis serangga  dan binatang lainnya kehilangan sumber makanan.  Akibatnya belalang mencari sumber makanan di tempat lainnya.

9.

Kegelapan

Ada beberapa kemungkinan penyebab kegelapan: gerhana matahari, badai pasir, debu gunung berapi atau karena serombongan belalang dalam jumlah yang sangat banyak Yang akhirnya dapat menutup matahari.

10.

Kematian anak sulung

Anak-anak sulung yang mendapat prioritas makan terlebih dahulu untuk pertama kalinya setelah kegelapan berlalu, akhirnya keracunan makanan yang kemungkinan diakibatkan oleh belalang

Peristiwa gunung berapi yang seringkali disebut sebagai pemicu dari berbagai rentetan kejadian tulah-tulah itu kemungkinan adalah peristiwa meletusnya gunung Thera yang terletak sektar 650 mil baratlaut Mesir. Namun peristiwa meletusnya gunung berapi ini terjadi pada 1628 SM.

Dari 10 tulah yang terjadi, tulah ke-10 dianggap sebagai tulah terberat dan seringkali dianggap ‘tidak berkemanusiaan.’ Midrash menjelaskan peristiwa tulah ke-10 tersebut dengan memberi penjelsan dalam Kel. 10:28 sebagai berikut: 

When Moses went to Pharaoh to demand of him that he let the people go, the whole event is happening in front of Pharaoh’s first born son who teases and mocks his father for allowing the Hebrew shepherd to humiliate him. Enraged by the insult and mad with pride, Pharaoh resolved to have revenge for the plagues, and told Moses that he shall deal with the Hebrews in such a manner that a great cry will be heard in Egypt, such that has never been heard before. This was an allusion to the crimes of his fatjer, who ordered the drowning of the male children of the Hebrews. Therefore, Pharaoh brought this harsh punishment upon his own people. His cruel plan was turned back upon him, so that what Pharaoh wanted to do to the Hebrews, God made to happen to him.

Bagikan artikel ini :