Apakah Orang Kristen Boleh Melakukan Demonstrasi?

Apakah Orang Kristen Boleh Melakukan Demonstrasi?

Untuk kesekian kalinya masyarakat Indonesia menonton (bahkan terlibat dalam) demonstrasi besar-besaran. Untuk kesekian kalinya juga kita menyaksikan kerusuhan selama demonstrasi dilakukan. Demonstrasi yang rapi dan terkendali hanya bisa dihitung dengan jari. Demonstrasi menjadi ajang provokasi dan penyusupan oleh orang-orang yang berkepentingan. Akibatnya demonstrasi lebih banyak menghasilkan mudarat daripada manfaat.

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi situasi ini? Apakah hasil buruk dalam demonstrasi membuat demonstrasi menjadi salah pada dirinya sendiri?

Harus diakui, sebagian orang Kristen bersikap skeptis, bahkan negatif, terhadap demonstrasi. Mereka beranggapan bahwa orang-orang Kristen dipanggil untuk memberitakan Injil, bukan terlibat dalam politik praktis. Transformasi masyarakat terjadi melalui proklamasi Injil, bukan perubahan komposisi pejabat dan birokrasi. Yang lain meyakini bahwa berdoa bagi bangsa jauh lebih efektif daripada melakukan demonstrasi di jalanan. Alasan-alasan lain tentu saja masih bisa ditambahkan di sini, namun contoh-contoh tadi sudah memadai untuk menunjukkan bahwa ada sebagian orang Kristen yang cenderung anti demonstrasi.

Sikap di atas sebenarnya tidak terlalu tepat. Hasil “negatif” dari suatu tindakan tidak boleh dijadikan ukuran kebenaran. Sebagai contoh, ketika kita mengakui kesalahan kita (sesuai yang benar), dampaknya seringkali buruk (ketidaknyamanan dan kerugian). Walaupun demikian, kejujuran tetap harus dilakukan. Seperti itu juga dengan demonstrasi. Fakta bahwa upaya ini beberapa kali (atau bahkan sering) berakhir dengan anarkhi tidak membuat usaha ini pada dirinya sendiri menjadi keliru.

Dalam tatanan demokrasi, demonstrasi harus dilihat sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pendapat. Bukan saja penyampaian pendapat, tetapi sekaligus sarana edukasi bagi banyak orang. Demonstrasi besar akan mendapatkan perhatian. Di situlah sebuah media pembelajaran sedang disiapkan dan dimaksimalkan. Masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu. Yang tidak peduli menjadi peduli.

Protes terhadap pemerintah bukan berarti ketidakpatuhan terhadap mereka. Roma 13 tidak mengajarkan loyaliats buta terhadap siapa saja yang memegang kuasa. Keadilan dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang lain harus diperjuangkan. TUHAN bahkan menentang umat-Nya yang rajin melakukan ibadah tetapi mengabaikan keadilan (Am. 5:21-24).

Sejarah juga mengajarkan bahwa banyak orang Kristen telah terjun ke jalan-jalan untuk menentang ketidakadilan. Beberapa upaya ini bahkan dilakukan bersama dengan orang-orang non-Kristen dan untuk kepentingan semua orang. Tidak sedikit dari upaya ini yang memberi hasil menggembirakan. Kekristenan telah turut menggarami dunia supaya tidak banyak kebusukan di mana-mana.

Walaupun demikian, kita juga perlu berhati-hati dalam melakukan demonstrasi. Kebenaran harus dibalut dengan kebijaksanaan. Keterbukaan harus disertai dengan kewaspadaan. Berikut ini merupakan beberapa tips praktis sebelum melakukan demonstrasi.

Pertama, pastikan substansi yang diperjuangkan memang benar. Jangan asal ikut-ikutan bersuara lantang. Ambil waktu untuk mempelajari semua pokok persoalan. Berikan telinga pada semua pandangan. Analisa dengan mata yang seobjektif mungkin. Patokannya adalah keadilan, bukan kepentingan golongan.

Kedua, gunakan sarana-sarana lain yang lebih aman. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyampaikan pendapat. Turun ke jalan hanyalah salah satu pilihan. Kita bisa mengungkapkan protes melalui tulisan dan video. Maksimalkan media sosial dan platform digital yang lain (misalnya petisi online, dsb). Gandeng para influencers supaya ide lebih cepat, luas, dan mudah tersebar.

Ketiga, minta penjelasan (hearing) dari beberapa politikus atau pejabat yang bisa dipercaya. Sebuah keputusan seringkali diambil sesudah digumulkan berbulan-bulan. Beragam aspek mungkin sudah dipertimbangkan. Cobalah untuk melihat dari perspektif orang lain. Bukankah beberapa demonstrasi berakhir manis di meja diskusi? Alangkah lebih baik jika hasil ini bisa dicapai tanpa melakukan demonstrasi.

Keempat, kenali sepak terjang inisiator, pemimpin lapangan atau organisasi yang menggagas atau mengoordinasi demonstrasi. Jangan melibatkan diri ke dalamnya jika ada track record yang negatif. Lebih baik adakan demonstrasi sendiri dalam skala yang lebih kecil.

Kelima, pastikan bahwa demonstrasi sudah mendapatkan persetujuan. Jangan sampai upaya menyuarakan kebenaran dan keadilan justru dilakukan dengan cara-cara yang tidak benar. Jika disetujui, patuhi aturan demonstrasi yang sudah ditetapkan (misalnya jangan lepas dari barisan atau melewati tali pembatas, jangan membawa senjata tajam, pembagian uang/barang, dsb).

Keenam, batalkan keterlibatan dalam demonstrasi jika jumlah yang ikut jauh melebihi kapasitas aparat keamanan. Semakin besar kumpulan orang semakin sukar dikendalikan. Semakin besar jumlah orang juga semakin rawan penyusupan.

Ketujuh, waspadai demonstran yang mencurigakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan secara khusus: senjata tajam, bahan peledak, kalimat provokatif, dsb. Laporkan kepada aparat keamanan jika ada yang mencurigakan.

Terakhir, sebisa mungkin abadikan seluruh proses dengan kamera. Jika terjadi apa-apa, rekaman kamera bisa menyelamatkan kita. Ada bukti yang memadai bahwa kita tidak melakukan tindakan anarkhis. Tidak tertutup kemungkinan, rekaman malah bisa menjadi alat bantu bagi aparat keamanan untuk menyelidiki kerusuhan. Soli Deo Gloria

Bagikan artikel ini :