Eksposisi Amos 4:1-3

Eksposisi Amos 4:1-3

Berada di bawah penindasan jelas tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan. Kita merasakan akibat dari penyalahgunaan kuasa, tetapi kita sendiri tidak mampu berbuat apa-apa. Jika keadaan tetap tidak berubah, kita bahkan seringkali memertanyakan Allah. Di mana Allah di tengah penindasan yang ada? Mengapa Dia berdiam diri saja?

Teks hari ini akan meyakinkan kita bahwa Allah tidak pernah berkompromi dengan dosa. Dia serius menanganinya. Dia tidak diam saja. Dia menyampaikan teguran sekaligus menyiapkan hukuman-Nya.

 

Teguran TUHAN (ayat 1)

Dalam terjemahan LAI:TB penerima teguran di ayat ini tidak begitu jelas. Perkataan Amos terdengar cukup umum. Namun, dalam teks Ibrani kita dapat mengetahui lebih detil siapa yang menjadi objek teguran ini.

Teguran Amos secara khusus ditujukan pada para perempuan Samaria. Hal ini terlihat dari penggunaan beberapa kata kerja feminin di bagian ini: memeras, menginjak, dan mengatakan. Kata benda “lembu” juga mengambil bentuk feminin. Di samping itu kata “tuan-tuanmu” sebaiknya dipahami sebagai rujukan pada suami-suami mereka (RSV/NASB/NIV/ESV).

Para perempuan Samaria digambarkan seperti lembu-lembu Basan yang ada di gunung Samaria. Istilah “lembu Basan” yang muncul beberapa kali dalam Alkitab ini menyiratkan kemakmuran dan kesuburan. Binatang-binatang ternak dari Basan memang terkenal sangat baik: gemuk dan sehat (Ul. 32:14; Mzm. 22:13; Yeh. 39:18). Wilayah Basan yang terletak di bagian paling utara Transyordan juga terkenal karena hutan pohon tarbantin yang besar (Yes. 2:13; Yeh. 27:6), padang rumput yang hijau dan tebal (Yer. 50:19) dan pegunungannya yang megah (Mzm. 68:16). Melalui metafora ini terlihat bahwa penerima teguran bukan hanya sembarang perempuan di Samaria, melainkan para perempuan kaya di sana.

Allah tentu saja tidak menentang semua perempuan kaya. Pada dirinya sendiri tidak ada yang salah dengan kekayaan. TUHAN tidak anti terhadap orang kaya. Persoalannya, para perempuan kaya di Samaria telah salah mendapatkan dan menggunakan kekayaan mereka.

Mereka memeroleh kekayaan dengan cara-cara yang tidak benar. Mereka memeras orang lemah dan menginjak orang miskin (ayat 1b). Kesalahan mereka bukan sekadar tidak peduli dengan mereka yang membutuhkan. Itu saja sudah cukup keterlaluan jika dilakukan. Orang-orang kaya itu bahkan secara aktif memeras pihak yang tidak berdaya. Terjemahan yang lebih tepat mungkin bukan sekadar “memeras”, tetapi “menindas” (‘āshaq). Makna yang terkandung dalam kata ‘āshaq bukan hanya memeras uang saja, namun lebih ke arah menyalahgunakan kuasa atau otoritas. Pemerasan jelas merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan tersebut, tetapi ‘āshaq tidak boleh dibatasi pada hal itu saja.

Cara lain yang digunakan untuk mendapatkan kekayaan adalah menginjak (rāşaş) orang miskin. Kata ini memang beberapa kali dikaitkan dengan penindasan (1Sam. 12:3) atau perlakuan yang keliru (Ul. 28:33). Makna hurufiah di dalam kata rāşaş adalah meremukkan sesuatu sampai berkeping-keping (2Raj. 23:12). Jadi, bukan sekadar menginjak, melainkan menghancurkan.

Dua kata di atas – menindas (‘āshaq) dan meremukkan (rāşaş) – memberi penjelasan visual yang mengerikan. Pihak yang lemah (janda, yatim piatu dan orang asing) bukan sekadar diabaikan. Bukan pula sekadar dimanfaatkan. Mereka benar-benar ditekan sampai hancur. Tidak ada belas kasihan sama sekali.

Selain salah dalam mendapatkan kekayaan, para perempuan Samaria juga salah dalam menggunakan kekayaan mereka (ayat 1c). Mereka bukan hanya berfoya-foya dan berpesta (“minum-minum”), tetapi juga bersikap otoriter terhadap orang-orang di sekitar mereka. Dominasi yang tidak sehat ini bahkan ditujukan kepada “tuan-tuan” mereka. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kata “tuan” (’ādôn) di sini lebih baik diterjemahkan “suami”. Dalam budaya kuno dulu para isteri memang terbiasa memanggil suami mereka dengan sebutan “tuan” (Kej. 18:12; Rt. 2:13).

Jika sebutan “tuan” merujuk pada “suami”, kita dapat melihat ironi dalam penggunaan kata ini. Apa yang diucapkan justru bertentangan dengan apa yang dilakukan. Para suami adalah “tuan’tuan” yang hanya diperintah oleh isteri-isteri mereka. Walaupun kita tidak tahu persis bagaimana situasi ini bisa terjadi, kita tahu bahwa relasi seperti ini bukanlah yang dikehendaki oleh Allah. Suami adalah kepala.

Apakah para perempuan Samaria berpikir bahwa uang adalah segalanya? Harta sebagai sumber kuasa? Dengan uang mereka bisa melakukan apa saja kepada siapa saja? Tampaknya memang begitu! Ketika karta dijadikan segalanya, orang tidak akan peduli dengan siapa saja.

 

Hukuman TUHAN (ayat 2-3)

Salah satu kesalahan banyak orang adalah merasa diri lebih peduli daripada Tuhan dalam masalah kebenaran. Mereka tidak cukup sadar untuk mengerti maupun cukup sadar untuk menanti intervensi Tuhan. Jika kita yang berdosa saja sudah tidak tahan melihat dosa apalagi Allah yang tanpa dosa.

Keseriusan Allah ditunjukkan melalui sumpah (ayat 2a “Tuhan ALLAH telah bersumpah demi kekudusan-Nya”). Tanpa sumpah saja semua perkataan Tuhan pasti akan terlaksana. Jika TUHAN sampai bersumpah demi sifat-Nya, Dia sedang memertaruhkan segalanya. Taruhan yang pasti dimenangkannya! Dia sangat serius dengan apa yang Dia katakan.

Secara khusus TUHAN bersumpah demi kekudusan-Nya. Dia bisa saja bersumpah demi sifat-sifat-Nya yang lain. Namun, kali ini demi kekudusan-Nya. Semua dosa yang dilakukan oleh para perempuan Samaria secara terang-terangan merupakan penghinaan terhadap kekudusan Tuhan. Dia siap menjalankan hukuman.

Hukuman TUHAN berkaitan dengan pembuangan. Mereka akan diangkat (ayat 2b, lit. “diangkut ke tempat lain”). Mereka juga akan diseret (shālak, lit. “dibuang keluar”) ke arah Hermon. Namun, fokus Amos bukan hanya pada fakta pembuangan, melainkan bagaimana pembuangan itu akan terjadi. Yang disorot adalah gambaran detil tentang peristiwa itu.

Pertama, mereka akan diangkut ke pembuangan dalam kehinaan (ayat 2). Apa yang diucapkan di bagian ini bukan hanya sekadar metafora. Seperti itulah yang terjadi pada bangsa Israel pada waktu ditawan oleh Asyur. Beberapa peninggalan arkheologis menunjukkan betapa sadisnya tentara Asyur memerlakukan para tawanan. Para tawanan diikat satu sama lain dengan menggunakan tali panjang; tali-tali itu dilekatkan di hidung atau bibir mereka melalui kail (logam tipis yang tajam). Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka diperlakukan seperti binatang (ikan). Mereka merasakan kesakitan dan kehinaan.

Kedua, mereka akan dihancurkan oleh musuh (ayat 3). Sikap arogan para perempuan kaya Samaria yang suka menindas dan meremukkan pihak yang miskin dan lemah akan menuai akibat yang sama. Mereka akan dihancurkan oleh musuh yang tidak mengenal belas kasihan. Gambaran di ayat ini sangat mirip dengan kehancuran Yerikho. Pada waktu tembok kota hancur, semua dengan leluasa bergerak langsung atau lurus ke depan (Yos. 6:5, 20). Itulah yang akan terjadi pada tembok Samaria. Bangsa Asyur akan meruntuhkan tembok kota dan dengan leluasa berderap maju untuk menghancurkan seisi kota.

Kata dasar “seret” (shālak, lit. “dibuang keluar”) bisa merujuk pada pembuangan tawanan perang (Yer. 22:28) atau pembuangan mayat (Yes. 34:3; Yeh. 16:5; Yer. 14:16). Kita mengalami kesulitan untuk menentukan arti mana yang paling tepat. Jika mereka dibuang sebagai tawanan perang, mengapa hanya sampai ke Hermon (terlalu dekat)? Jika mayat mereka yang dibuang, mengapa sampai ke Hermon (terlalu jauh)? Manapun arti yang benar, inti pesan Amos sudah jelas: Samaria akan benar-benar dihancurkan oleh TUHAN. Para perempuan Samaria yang merasa sok hebat dan berkuasa akan menjadi kumpulan orang atau mayat yang tidak berdaya. Mereka yang tidak berbelaskasihan akan diperlakukan dengan cara yang sama.

Dosa selalu mendatangkan sengsara. Ujungnya adalah kehancuran dan penyesalan. Betapa hebatnya hukuman Allah atas Samaria seharusnya mengingatkan kita tentang betapa hebatnya dosa. Syukur kepada Allah! Semua akibat dosa sudah ditanggung oleh Kristus di atas kayu salib. Keseriusan dosa dan akibatnya telah dijumpai dengan keseriusan kasih Allah kepada kita. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :