Apakah Perkataan Iblis Dalam Alkitab Adalah Firman Tuhan?

Apakah Perkataan Iblis Dalam Alkitab Adalah Firman Tuhan?

Sebagaimana kita ketahui, Alkitab mencatat beberapa perkataan Iblis. Ular tua memperdayai Hawa (Kej. 3:1-6). Iblis mencobai Yesus di padang gurun (Mat. 4:11). Roh-roh jahat mengakui Yesus sebagai Anak Allah (Mat. 8:29; Mrk. 5:7).

Pertanyaannya, apakah perkataan-perkataan itu merupakan firman Allah? Jika iya, bagaimana bisa perkataan Iblis menjadi firman Allah? Jika tidak, bagaimana kita menerangkan bahwa setiap kata dalam Alkitab merupakan firman Tuhan?

Untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik kita perlu memahami bahwa tidak semua perkataan dan tindakan seseorang atau malaikat pada dirinya sendiri adalah firman Tuhan. Sebagai contoh, perzinahan Daud dengan Betsyeba (2Sam. 11-12) jelas bukanlah tindakan yang terpuji. Begitu pula dengan poligami yang dilakukan oleh Salomo (1Raj. 11:1-4). Kita masih bisa menambahkan banyak contoh di sini, misalnya kemunafikan Petrus dan Barnabas (Gal. 2:11-14). Pada dirinya sendiri perkataan dan tindakan tokoh-tokoh Alkitab ini bukan firman Tuhan. Mereka bukan orang yang sempurna dalam perkataan maupun tindakan.

Perkataan atau tindakan mereka baru disebut firman Tuhan kalau perkataan dan tindakan itu memang berasal dari TUHAN. Sebagai contoh, pernikahan Hosea dengan perempuan yang cenderung bersundal merupakan tindakan yang simbolis (firman TUHAN yang visual). Beberapa tindakan simbolis yang dilakukan Yeremia sebagai peringatan kepada bangsa Yehuda. Begitu pula dengan nubuat para nabi. Petrus mengatakan bahwa para nabi berbicara atas nama TUHAN oleh dorongan Roh Kudus (2Pet. 1:20-21).   

Selain perkataan dan tindakan para tokoh Alkitab yang memang berasal dari TUHAN, yang disebutkan firman Tuhan adalah tulisan mereka. Paulus menandaskan bahwa segala tulisan (baca: kitab suci/Perjanjian Lama) adalah diilhamkan oleh Allah (2Tim. 3:16). Ketika suatu perkataan atau tindakan dicantumkan ke dalam kitab suci, maka perkataan atau tindakan itu menjadi firman Tuhan. Tujuannya tentu saja bukan serta-merta untuk ditiru. Beberapa perkataan atau tindakan yang keliru sengaja dituliskan di dalam Alkitab sebagai teguran atau peringatan (1Kor. 10:6).

Hal yang sama berlaku pada perkataan Iblis yang dituliskan di dalam Alkitab. Pada dirinya sendiri dan secara faktualnya dulu, perkataan-perkataan itu jelas bukan firman Allah. Perkataan itu bersifat menipu. Walaupun demikian, dalam pimpinan Roh Kudus para penulis Alkitab mencantumkan perkataan-perkataan itu ke dalam kitab suci dengan tujuan yang positif (mengajar, menegur, memperingatkan, dsb). Jadi, sekarang perkataan-perkataan itu tidak boleh dicuplik sembarangan dan ditafsirkan secara terpisah dari konteks keseluruhan ayat, perikop atau pasal. Maksud asli perkataan itu (yang diucapkan Iblis dalam sejarah) sudah berbeda dengan maksud penulisan perkataan tersebut di dalam Alkitab (yang dipikirkan oleh penulis Alkitab). Dengan demikian kita bisa menarik kesimpulan bahwa setiap kata dalam Alkitab merupakan firman Tuhan. Bahkan perkataan yang tidak baik telah dituliskan dengan maksud yang baik. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :