Misi Dimulai Dari Hati (Matius 9:36-38)

Misi Dimulai Dari Hati (Matius 9:36-38)

Berbagai riset yang dilakukan menunjukkan bahwa keterlibatan gereja-gereja dalam misi sangat kecil sekali. Banyak pemimpin gereja hanya berfokus pada pertumbuhan gereja, tetapi bukan perluasan kerajaan Allah. Makna “gereja” pun hanya dibatasi pada gereja lokal, bukan gereja secara universal. Tidak heran, pekerjaan misi selalu kekurangan berbagai sumber daya.

Mengapa situasi ini bisa terjadi? Apa yang harus dilakukan untuk menggerakkan sebanyak mungkin gereja dalam pekerjaan misi?

Teks kita hari ini merupakan salah satu tanggapan Yesus Kristus setelah Dia melayani di Galilea. Dari 4:23 sampai 9:35 Dia sudah mengunjungi berbagai kota dan desa di propinsi Galilea. Yang Dia lakukan selalu sama: memberitakan Injil kerajaan Allah, mengajar di rumah-rumah ibadat Yahudi dan menolong orang-orang yang sakit dan dirasuk roh-roh jahat. Kini waktunya tiba untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan memikirkan langkah ke depan (9:36-10:42).

Pengamatan terhadap keadaan bersumber dari pengalaman, bukan hanya dari kata orang. Yesus dan murid-murid-Nya memang berkeliling ke mana-mana dan melihat langsung apa yang sedang terjadi di lapangan (ayat 36 “melihat orang banyak itu…”). Pengalaman langsung ini semakin meyakinkan mereka bahwa pekerjaan misi masih jauh dari selesai. Keadaan di lapangan sangat memprihatinkan. Banyak orang dalam situasi yang mengenaskan.

 

Keadaan yang sangat memprihatinkan

Keadaan orang Yahudi digambarkan seperti domba tanpa gembala (ayat 36). Istilah “gembala” di sini pasti merujuk pada para pemimpin Yahudi, terutama para pemimpin religius. Mereka bukan hanya gagal memberikan makanan, perlindungan dan kelepasan bagi para domba. Mereka juga bersikap negatif ketika para domba tersebut ditolong oleh orang lain. Mereka menuduh Yesus mengusir roh-roh jahat dengan kuasa Belzebul (9:33-34).

Keadaan yang tanpa gembala ini jelas sangat membahayakan domba. Sebagaimana kita ketahui, domba merupakan binatang yang sangat rentan terhadap bahaya. Mereka tidak memiliki senjata tertentu, baik untuk melarikan diri maupun melawan musuh yang datang. Mereka terlihat lugu dan lemah. Keselamatan mereka sangat bergantung pada gembala.

Ketika domba-domba itu dibiarkan berjalan sendirian, mereka menjadi “lelah” (eskylmenoi) dan “terlantar” (errimmenoi). Kata dasar skyllō (LAI:TB “lelah”) muncul beberapa kali di kitab-kitab Injil dengan arti “mengganggu” atau “menyusahkan” (Mrk. 5:35; Luk. 7:6; 8:49). Bentuk pasif eskylmenoi di Matius 9:36 menyiratkan bahwa domba-domba itu berada dalam keadaan terganggu atau susah.

Seberapa susahkah keadaan mereka? Seberapa terganggungkah mereka? Jawaban terhadap pertanyaan ini sukar untuk ditentukan. Kata Yunani yang digunakan memiliki cakupan yang cukup luas. Versi Inggris menerjemahkan kata ini dengan “tertekan” (harassed, RSV/NIV/ESV), “kesakitan/kesedihan yang luar bisa” (distressed, NASB) atau “hampir kehilangan kesadaran” (fainted, KJV). Apapun terjemahan yang diambil, gambaran yang disampaikan cukup jelas: domba-domba itu sedang menghadapi persoalan yang besar. Ada bahaya yang mengintai mereka dan mereka tidak berdaya.

Kata “terlantar” (errimmenoi) memberikan gambaran yang lebih spesifik. Kata dasar riptō muncul berkali-kali dalam Alkitab dengan arti yang cukup konsisten, yaitu melemparkan seseorang atau sesuatu ke bawah (Yeh. 19:12; 28; Mat. 27:5; Luk. 4:35; 17:2; Kis. 22:23; 27:29). Bentuk pasif errimmenoi di Matius 9:36 menunjukkan bahwa domba-domba itu seperti dibanting ke bawah. Mereka tidak berdaya di tengah kuasa lain yang jauh lebih besar.

 

Respons terhadap keadaan yang memprihatinkan

Terjun langsung ke lapangan memampukan seseorang untuk melihat keadaan yang sesungguhnya. Seperti menonton film 3D atau 4D, kita bisa memahami persoalan yang terjadi dari perspektif orang-orang yang mengalami. Kita bukan penonton dari luar yang hanya berdiri menyaksikan.

Apa yang harus dilakukan ketika melihat keadaan banyak orang yang sangat memprihatinkan? Pertama, berbelaskasihan (splanchnizomai, ayat 36). Sikap ini sangat diperlukan dalam pelayanan. Kitab-kitab Injil berkali-kali mencatat bahwa Yesus berbelas kasihan terhadap banyak orang (9:36; 14:14; 15:32; 18:27; 20:34; Mrk. 1:41; 6:34; 8:2; Luk. 7:13; 10:33; 15:20).

Walaupun belas kasihan berbicara tentang hati, makna yang terkandung di dalamnya bukan terbatas pada perasaan saja. Pemunculan kata ini di Injil Matius menyiratkan bukan hanya simpati terhadap kebutuhan seseorang, tetapi juga bantuan praktis untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Meminjam ungkapan seseorang, belas kasihan merupakan “emosi yang melahirkan tindakan yang penuh perhatian dan kasih sayang” (R. T. France, The Gospel of Matthew, 373). Jadi, misi harus dimulai dari hati, tetapi tidak boleh berhenti pada hati. Perasaan belas-kasihan harus diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Kedua, berdoa (ayat 37-38). Keadaan yang memprihatinkan tidak boleh membuat kita berlarut-larut dalam kesedihan dan kehilangan pengharapan. Dari perspektif ilahi kita justru menemukan peluang yang patut disyukuri. Di mata Allah, panen sudah banyak dan siap untuk dituai. Ada kesempatan yang besar di tengah situasi yang terjepit. 

Itulah gambaran dari kehidupan kita secara umum. Keadaan yang buruk seringkali menjadi jembatan yang baik untuk berjumpa dengan Allah. Jalan buntu yang mengecewakan seringkali menjadi petunjuk putar balik yang menggembirakan.

Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk meminta kepada Allah supaya Sang Empunya tuaian mengirimkan lebih banyak pekerja. Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Kata “sedikit” di sini mungkin harus dipahami sebagai “nyaris tidak ada”. Bagaimana tidak? Yang benar-benar ingin melayani bangsa Yahudi seperti gembala hanyalah Yohanes Pembaptis dan Yesus. Pada saat Yesus mengucapkan perintah tadi, Yohanes Pembaptis sedang berada dalam penjara (4:12; 11:2). Tidak lama kemudian dia dipenggal kepalanya oleh Herodes (14:10-12). Jadi, yang tersisa sebenarnya hanyalah Yesus.

Figur Yesus sebagai gembala sebenarnya tidak terlalu mengagetkan. Dalam kisah kelahiran-Nya sudah disinggung bahwa Dia akan menjadi pemimpin yang akan menggembalakan umat Israel (2:6). Dia diutus terutama kepada domba-domba yang hilang dari antara Israel (10:6). Jikalau ada satu domba saja yang terhilang, Dia pasti akan mencarinya (18:12-14). Jika satu saja dicari sedemikian rupa, masakan Dia hanya berdiam diri saja ketika banyak domba lelah dan terlantar?

Yesus adalah gembala yang menggenapi janji Allah di Perjanjian Lama. Ketika umat Allah tidak diperhatikan dengan baik oleh para pemimpin mereka, TUHAN berjanji akan mengutus seorang gembala dari keturunan Daud (Yeh. 34:1-16). Sang Mesias akan datang untuk mencari dan merawat domba-domba Israel.

Itulah yang dilakukan oleh Yesus. Dia memberikan tawaran kelegaan kepada “barangsiapa yang letih lesu dan berbeban berat” (11:28). Para pemimpin religius Yahudi pada waktu itu hanya memberi beban legalisme yang berat kepada bangsa Yahudi (23:4). Rakyat menjadi letih lesu dan berbeban berat. Para pemimpin bukan hanya gagal menjadi teladan; mereka bahkan menunjukkan kemunafikan yang sangat memprihatinkan (23:3, 13-36). Yang dikejar hanyalah kedudukan dan pujian, bukan keselamatan domba-domba.

Di tengah situasi seperti ini kita tidak boleh berputus asa. Menyalahkan keadaan bukanlah pilihan. Menyerah dan marah bukanlah tindakan yang tepat arah. Kita masih bisa berdoa. Ketika para pemimpin sudah tidak bisa dipercaya, kita masih bisa menyampaikan keluk-kesah kita pada Allah, Sang Pemimpin Ultimat. Ketika orang yang benar-benar terbeban dalam pelayanan sangat kurang, kita masih bisa meminta bantuan kepada Allah, Sang Empunya Tuaian. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :