Eksposisi Filipi 2:5-8

Eksposisi Filipi 2:5-8

Teologi seharusnya menguasai hati dan menentukan aksi. Tanpa teologi, kesalehan hanyalah kepatuhan moral atau sekadar kebiasaan. Kita terjebak pada moralisme dan tradisi.

Prinsip yang sama berlaku dalam relasi dengan sesama. Relasi yang benar perlu dilandaskan pada teologi yang benar. Apa yang kita pikirkan akan mengontrol apa yang kita rasakan, yang pada akhirnya akan menentukan apa yang kita lakukan. Tanpa teologi yang benar, kita akan menjadi orang yang mudah terbawa perasaan dan keadaan.

Seberapa pentingkah teologi bagi relasi? Konsep seperti apa yang kita perlu pahami sebagai fondasi untuk bersikap rendah hati? Mari kita belajar dari nasihat Paulus kepada jemaat Filipi di 2:5-8.

 

Inti nasihat: berpikir sebagai orang yang berada di dalam Kristus (ayat 5)

Dari sisi struktur kalimat Yunani, bagian ini cukup sulit untuk dipahami dan diterjemahkan. Penerjemah LAI:TB mencoba mengurai kerumitan ini dengan cara menyediakan terjemahan yang agak bebas: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Beberapa kata yang muncul dalam terjemahan ini tidak ada di teks Yunaninya: dalam hidupmu bersama, menaruh, dan perasaan.

Secara hurufiah bagian ini berbunyi: “Pikirkanlah ini di antara kalian, yang juga di dalam Kristus Yesus” (touto phroneite en hymin ho kai en christō Iēsou). Yang tidak terlalu jelas adalah frasa yang kedua. Apakah yang dimaksud dengan “yang juga di dalam Kristus Yesus”?

Untuk memudahkan pemahaman, bagian ini bisa dipahami dalam dua cara: secara etis dan teologis. Secara etis, Paulus menampilkan Kristus Yesus sebagai teladan. Kita dinasihati untuk memiliki pikiran yang sama dengan pikiran Kristus (LAI:TB, NASB/NIV “attitude”). Secara teologis, Paulus lebih menyoroti posisi kita di dalam Kristus. Sebagai orang yang sudah di dalam Kristus, kita perlu mencerminkan kehidupan Kristus.

Di antara dua opsi ini mana yang lebih disorot oleh Paulus: Kristus sebagai teladan atau posisi kita di dalam Kristus? Jawaban pasti susah didapatkan. Dua opsi tadi saling berkaitan, hanya beda penekanan. Konteks 2:1-8 juga bisa ditafsirkan sebagai dukungan bagi dua opsi tersebut.

Walaupun demikian, berdasarkan kemiripan nasihat dengan Filipi 4:2, aspek teologis dalam nasihat Paulus tampaknya lebih dominan. Baik 2:5 maupun 4:2 sama-sama berbicara tentang potensi keretakan relasi dalam jemaat. Di 4:2  Paulus menasihati Euodia dan Sintikhe supaya “sehati sepikir dalam Tuhan” (lit. “memikirkan yang sama di dalam Tuhan”; to auto phronein en kuriō). Penekanan dalam nasihat ini bukan pada “memikirkan apa yang Kristus pikirkan,” tetapi lebih ke arah “memikirkan sesuatu dalam posisi sebagai orang yang sudah di dalam Kristus.” Posisi di dalam Kristus memberi perspektif yang baru dalam memandang  segala sesuatu. Dengan kata lain, perubahan posisi melibatkan perubahan akal budi.

Apakah penjelasan ini berarti bahwa keteladanan Kristus menjadi kurang penting? Tidak juga. Di 2:6-8 Paulus bahkan menjelaskan bagaimana Kristus telah memberikan teladan kerendahhatian yang luar biasa. Namun, penekanan Paulus tidak berhenti sampai di situ saja. Kristus bukan sekadar teladan perilaku. Bisa saja seseorang meneladani Kristus tetapi dalam proses itu dia tetap tidak mengandalkan Kristus. Ini legalisme. Yang lebih disorot oleh Paulus adalah posisi kita di dalam Kristus. Kita bukan hanya meneladani Dia, tetapi berada di dalam Dia. Anugerah-Nya yang akan selalu menopang dan memampukan kita untuk terus berproses menjadi seperti Dia.

Nah, pikiran kita harus selalu dipenuhi dengan pemahaman tentang hal ini. Posisi di dalam Kristus harus mempengaruhi relasi dengan sesama anggota tubuh Kristus. Apapun perbedaan yang ada tidak mungkin bisa mengeluarkan salah satu anggota dari posisi “di dalam Kristus”.

 

Perendahan diri Kristus (ayat 6-8)

Bagian ini termasuk salah satu teks yang paling banyak diperdebatkan. Secara lingustik, beberapa bagian terlihat ambigu, baik dari sisi arti kata maupun posisi kata dalam kalimat. Secara teologis, beberapa bagian ditafsirkan sebagai dukungan maupun bantahan terhadap pra-eksistensi dan keilahian Kristus.

Kerumitan di atas dalam banyak hal disebabkan oleh pengabaian terhadap jenis sastra ayat 6-8. Seperti yang kerap kali diungkapkan oleh banyak penafsir Alkitab, bagian ini kemungkinan besar adalah sebuah himne kuno. Hal ini terlihat dari beragam paralelisme yang cukup jelas dalam bagian ini, baik dari sisi struktur kalimat maupun kosa kata. Beberapa kosa kata juga bukan tipikal Paulus. Karena bagian ini merupakan sebuah himne yang sedikit puitis, kita tidak boleh terjebak pada penafsiran partikularis, yaitu terlalu berfokus pada arti satu kata atau poin gramatikal sampai mengabaikan keseluruhan himne. Ada beragam paralelisme yang seharusnya menjadi patokan dalam penafsiran.

Dengan pengertian seperti ini, marilah kita menyelidiki perendahan diri Kristus dalam bagian ini. Perendahan diri ini dinyatakan secara negatif (apa yang tidak dilakukan, ayat 6) maupun positif (apa yang dilakukan, ayat 7-8).

Pertama, tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah (ayat 6). Ke-Allahan Kristus dalam bagian ini dinyatakan dengan kalimat “yang walaupun berada dalam rupa Allah” (hos en morphē theou hyparchōn). Kata “berada” (hyparchōn) dalam konteks ini sebaiknya diterjemahkan “terus-menerus berada”.

Beberapa orang mencoba menyanggah ke-Allahan Kristus dengan menyoal tentang kata morphē. Menurut mereka, kata ini hanya merujuk pada penampilan luar dan tidak berkaitan dengan hakikat dari sesuatu. Sanggahan seperti ini sudah lama dan berkali-kali dinyatakan keliru oleh banyak teolog. Dalam tulisan-tulisan Yunani Koine kuno di luar Alkitab, istilah “rupa Allah” (morphē theou) dan “hakikat Allah” (isotheos physis) adalah paralel, bahkan sinonim. Tidak ada perbedaan makna di antara keduanya. Lagipula, “dalam rupa Allah” (ayat 6a) diterangkan dengan “kesetaraan dengan Allah” (ayat 6b). Di samping itu, kata morphē juga muncul di frasa “rupa hamba” (morphē doulou, ayat 7) yang diparalelkan dengan “menjadi sama dengan manusia” (en homoiōmati anthrōpōn, ayat 7). Jika Kristus benar-benar hamba dan manusia yang melayani orang berdosa melalui kematian-Nya, tidak ada alasan untuk membantah bahwa “dalam rupa Allah” berarti benar-benar Allah.

Walaupun Kristus adalah Allah dan (karena itu) setara dengan Allah, Dia tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Beberapa orang mencoba mempersoalkan kata harpagmos (lit. “sesuatu yang dipertahankan atau dirampas”). Kata ini memang memiliki jangkauan arti cukup luas. Mereka yang menolak ke-Allahan Yesus berusaha mengambil arti “sesuatu yan dirampas,” dengan demikian memberi kesan bahwa kesetaraan dengan Allah belum dimiliki oleh Yesus. Penafsiran seperti ini, sekali lagi, terlalu partikularis dan mengabaikan jenis sastra himne dari ayat 6-8. Jika Kristus belum memiliki kesetaraan dengan Allah, lalu untuk apa dituliskan bahwa Dia mengosongkan diri-Nya (ayat 7a)? Dia tidak mungkin mengosongkan apa yang Dia dari awal memang tidak miliki. Selain itu, jika Dia sekadar tidak mau merampas sesuatu yang memang bukan menjadi milik-Nya, bagaimana Dia bisa dijadikan teladan kerendahhatian?

Kedua, mengosongkan diri-Nya (ayat 7). Sebagian orang telah memunculkan spekulasi teologis sehubungan dengan kata frasa “telah mengosongkan diri-Nya” (heauton ekenōsen) ini. Ada yang beranggap bahwa ketika berada di dunia Kristus hanyalah manusia belaka. Dia sama sekali tidak memiliki kuasa ilahi.

Spekulasi di atas jelas tidak tepat dan tidak bermanfaat. Spekulasi ini muncul – sekali lagi – dari penafsiran partikularis yang tidak mengindahkan jenis sastra himne di ayat 6-8. Kata kerja indikatif “mengosongkan diri” (ekenōsen) di sini tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah (seolah-olah tidak ada sisa sama sekali) dan terpisah dari konteksnya (seolah-olah dari satu kata kita bisa membangun sebuah teologi). Dari sisi struktur kalimat sendiri, “mengosongkan diri” (ekenōsen) diterangkan dengan dua anak kalimat partisip: mengambil rupa seorang hamba (morphēn doulou labōn) dan menjadi sama dengan manusia (en homoiōmati anthrōpōn genomenos). Jadi, pengertian “mengosongkan diri” di sini sebenarnya sederhana: Kristus menjadi hamba dan manusia. Bukan hanya manusia, tetapi hamba.

Apakah Kristus adalah Allah selama inkarnasi-Nya di dunia? Tentu saja! Dia mengampuni dosa (Mrk. 2:7-12), mengklaim diri sebagai Allah (Yoh. 10:30), menerima sembah (Yoh. 20:28), dsb. Dia juga menunjukkan sifat-sifat ilahi-Nya, misalnya maha tahu (Yoh. 2:23-25) dan maha kuasa (Mat. 8:26-27).

Ketiga, merendahkan diri serendah-rendahnya (ayat 8). Bagian ini merupakan penjelasan tambahan bagi ayat sebelumnya. Frasa “menjadi sama dengan manusia” di akhir ayat 7 diulang lagi dalam frasa “dan dalam keadaan sebagai manusia” di awal ayat 8.

Pengulangan di atas dimaksudkan sebagai pemisahan sekaligus penekanan. Kristus tidak hanya berhenti sampai menjadi manusia dan hamba (ayat 7). Dia turun lebih rendah lagi. Dia merengkuh kematian yang paling hina dan menyakitkan, yaitu kematian di atas kayu salib (ayat 8).

Orang-orang yang hidup dalam budaya Yunani-Romawi pada waktu itu pasti memahami betapa mengerikan kematian di atas kayu salib. Anak-anak kecil dilarang untuk membicarakan tentang hal ini karena dianggap tabu dan tidak pantas (dalam padanan sekarang mungkin tergolong film kekerasan yang masuk kategori R). Ada sadisme yang berlebihan dan kesakitan yang tak terkatakan dalam penyaliban.

 Perjalanan Kristus menuju kayu salib jelas tidak mudah. Kematian itu merupakan hasil ketaatan (ayat 8). Kristus telah belajar untuk taat (Ibr. 5:8). Dalam anugerah Allah, ketaatan Kristus diperhitungkan menjadi ketaatan kita (Rm. 5:18-19).

Sikap Kristus yang tidak mau mempertahankan semua keistimewaan-Nya sebagai Allah merupakan wujud kerendahhatian yang luar biasa. Secara sukarela Dia memutuskan untuk tidak menggunakan apa yang Dia berhak gunakan. Dengan kata lain, Dia melepaskan hak-hak prerogatif-Nya sebagai Allah. Dia menjadikan diri-Nya terbatas dalam banyak hal. Dia menjadikan diri-Nya bergantung total pada Bapa walaupun Dia sendiri sebenarnya sempurna dan tidak membutuhkan apa-apa di luar diri-Nya. Tidak sampai di situ saja. Dia bahkan rela menjadi hamba yang merengkuh kematian paling merendahkan dan menyakitkan. Semua ini Dia lakukan demi kita, orang-orang yang hina dan berdosa. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :