Eksposisi Filipi 2:1-4

Eksposisi Filipi 2:1-4

Kesatuan sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan. Dalam kesatuan ada kebersamaan dan dorongan. Persoalan menjadi tidak sesukar yang dibayangkan.

Sayangnya, justru menjaga kesatuanlah yang sering menjadi masalah dalam sebuah gereja. Perbedaan pendapat disamakan dengan pertikaian. Perbedaan pilihan menjadi sumber perpecahan. Banyak orang tanmpaknya memahami kesatuan sebagai keseragaman. Mereka belum terbiasa dengan kesatuan yang diwarnai keragaman.

Bagaimana memelihara kesatuan dalam gereja? Atas dasar apa kita memeliharanya? Dua pertanyaan ini akan dijawab melalui teks hari ini.

Struktur teks dan alur pemikiran Paulus di 2:1-4 tidak terlalu sulit untuk diikuti. Kata kerja perintah muncul di ayat 2a: “karena itu sempurnakanlah sukacitaku”. Bagian sebelumnya (2:1) menerangkan alasan atau dasar bagi perintah tersebut. Bagian selanjutnya (2:3-4) menjelaskan bagaimana perintah itu direalisasikan. Untuk memudahkan pemahaman, kita akan mengupas inti perintahnya terlebih dahulu, setelah itu baru alasan dan realisasinya.

 

Perintah: sempurnakanlah sukacita dengan kesatuan (ayat 2)

Topik tentang kesatuan sudah disinggung oleh Paulus di akhir pasal 1. Dia menasihati jemaat Filipi untuk teguh berdiri dalam satu roh dan bersama-sama berjuang bagi Injil (1:27). Di tengah ancaman yang datang dari luar berupa penganiayan (1:28-30) jemaat Filipi perlu saling menguatkan melalui kesatuan.

Kesatuan juga diperlukan ketika menghadapi bahaya dari dalam. Pertikaian selalu siap menghadang. Para pemimpin juga tidak kebal terhadap bahaya pertengkarang. Situasi ini mungkin sudah mulai muncul di antara jemaat Filipi, sehingga Paulus perlu mengingatkan beberapa pemimpin di sana untuk bersatu (4:2). Pasal 2:1-11 menerangkan bagaimana kesatuan seharusnya dipertahankan.

Kesatuan yang dimaksud bersifat holistik (ayat 2b). Bukan hanya eksternal, tetapi internal. Bukan hanya mencakup hati dan jiwa, tetapi juga pemikiran dan tujuan. Bukan sekadar ikatan emosional, tetapi juga kesadaran intelektual. Bukan hanya karena kebiasaan dan kebersamaan, tetapi karena disatukan oleh tujuan.

Yang menarik, Paulus mengaitkan ini dengan dirinya; secara khusus dengan sukacitanya (ayat 2a). Ungkapan ini tidak boleh ditafsirkan seolah-olah Paulus egosentris dan egois. Sama sekali tidak! Kita perlu memahaminya dalam konteks keintiman hubungan antara Paulus dan jemaat Filipi. Jemaat Filipi selalu mengambil bagian dalam pelayanan Paulus (1:5; 2:25; 4:10, 14-16). Paulus sendiri selalu memikirkan jemaat Filipi dan bersukacita karena mereka (1:4). Dia berharap bisa dibebaskan dari penjara dan bersama-sama dengan jemaat Filipi lagi sehingga mereka bisa bertambah maju dalam iman dan sukacita (1:25). Kedekatan inilah yang sedang dimaksimalkan oleh Paulus. Dia sedang menambahkan muatan personal yang emosional dalam nasihatnya. Jika kedekatan bisa memuliakan Tuhan, mengapa hal itu tidak dimanfaatkan dan dimaksimalkan? Bukankah kita juga lebih mudah menaati nasihat dari orang lain yang kita percayai atau dekat dengan kita?

Walaupun demikian, Paulus tetap tidak mau menyandarkan sukacitanya pada kedekatan dengan jemaat. Dia tidak berkata: “buatlah aku bersukacita”. Dia hanya berkata: “sempurnakanlah sukacitaku”. Kalimat ini menyiratkan bahwa Paulus sudah memiliki sukacita. Di situasi seperti apapun dia tetap bersukacita. Hanya saja, sukacita itu akan menjadi genap apabila dia melihat orang-orang yang dia kasihi semuanya berada dalam kesatuan.

 

Alasan bagi kesatuan (ayat 1)

Nasihat Paulus tidak berhenti pada kedekatan personal. Jika itu yang terjadi, nasihat Paulus akan tampak sangat humanis. Paulus akan menempatkan dirinya sebagai simpul yang mengikat semua jemaat di Filipi. Hal ini tentu saja tidak benar dan sangat berbahaya.

Dasar kesatuan bukan pimpinan, melainkan Tuhan; bukan kedekatan, melainkan karya penebusan. Imperatif di ayat 2a didasarkan pada indikatif di ayat 1. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh Kristus menjadi alasan bagi apa yang kita seharusnya lakukan. Teologi melandasi budi pekerti. Ortodoksi mendasari ortopraksi.

Paulus mengatakan: “jadi karena di dalam Kristus ada nasihat…dst” (LAI:TB). Dalam teks Yunani bagian ini tidak memiliki kata kerja sama sekali. Para penerjemah mencoba menyisipkan kata kerja dalam terjemahan mereka supaya arti bagian ini lebih jelas. Mayoritas versi memilih untuk menambahkan kata “ada” (RSV/NASB/ESV “there is”). Makna yang disiratkan dalam terjemahan ini adalah sesuatu yang objektif. Di dalam Kristus memang ada penghiburan, dsb.

Penerjemah NIV menyediakan opsi terjemahan yang lebih bebas, namun lebih tepat: “karena kalian memiliki penghiburan melalui persekutuan dengan Kristus” (if you have any encouragement from being united with Christ). Makna yang ditekankan di sini lebih subjektif: pada apa yang sudah dialami oleh orang-orang percaya di dalam Kristus. Semua kebaikan di ayat 1 bukan hanya ditawarkan atau disediakan di dalam Kristus, tetapi memang sudah diterima oleh semua orang percaya. Semua itu sudah kita miliki di dalam Kristus.

Ada banyak hal yang kita miliki di dalam Kristus. Dalam kaitan dengan kesatuan jemaat, kita memiliki “nasihat, penghiburan, persekutuan roh, kasih mesra dan belas-kasihan” (paraklēsis, paramythion agapēs, koinōnia pneumatos, splanchna dan oiktirmoi). Membedakan arti kata-kata secara tajam sangat sukar untuk dilakukan. Kata-kata ini memiliki jangkauan arti yang cukup luas. Beberapa jangkuan itu bahkan tumpang-tindih dengan kata yang lain. Itulah sebabnya para ahli Alkitab memberikan terjemahan yang berlainan.

Secara umum kita dapat menafsirkan sebagai berikut. Kata paraklēsis (LAI:TB “nasihat”) mungkin lebih mengarah pada “dorongan” (mayoritas versi “encouragement”). Jika paraklēsis sudah diambil sebagai “dorongan”, kata paramythion sebaiknya diterjemahkan “penghiburan” (mayoritas versi). Kata koinōnia (LAI:TB “persekutuan”) lebih mengarah pada partisipasi (mayoritas versi, lihat 1:5). Dua kata terakhir, yaitu splanchna dan oiktirmoi memiliki arti yang sangat mirip dan bisa tumpang-tindih. Sebagian penafsir Alkitab bahkan menganggap pemunculan dua kata ini hanya sebagai sebuah penekanan belaka tetapi artinya sama. Mayoritas ahli, bagaimanapun, mencoba membedakan dua kata ini: yang pertama lebih kepada kedalaman perasaan (afeksi/kasih mesra), sedangkan yang kedua ke arah kerendahan dari penerimanya (belas kasihan/kemurahan).

Terlepas dari bagaimana seseorang membedakan arti dari lima kata di atas, maksud Paulus sudah cukup jelas: semua yang kita perlukan untuk membangun kesatuan sudah kita terima di dalam Kristus. Meminjam ungkapan Paulus sebelumnya di 1:27 tugas kita hanyalah berdiri teguh di atas kesatuan roh. Kesatuan itu sudah ada. Kita semua bahkan sudah diletakkan ke dalam kesatuan itu. Tugas kita adalah tetap berada di sana. Di suratnya yang lain Paulus menyebutkan minimal 7 kesatuan: satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa (Ef. 4:4-6).

 

Bentuk kesatuan (ayat 3-4)

Bentuk kesatuan yang diinginkan oleh Paulus dapat diringkas ke dalam satu kalimat: mengedepankan orang lain. Kita harus memandang orang lain lebih utama daripada diri sendiri (ayat 3b). Kita harus memperhatikan kepentingan orang lain (ayat 4b).

Nah, si situlah persoalannya. Natur berdosa dalam diri manusia tidak mencondongkan hati mereka pada keutamaan dan kepentingan orang lain. Ke-AKU-an lebih ditonjolkan. Diri sendiri selalu dijadikan pusat sorotan. 

Bukan kebetulan kalau Paulus menempatkan perintah untuk mengedepankan orang lain (ayat 3b dan 4b) sesudah dia memberikan larangan untuk menghindari keegoisan (ayat 3a dan 4a).  Yang harus dilihat lebih dahulu adalah diri sendiri. Yang perlu diperangi dan dibenahi adalah diri sendiri. Pengalaman sehari-hari membuktikan bahwa persoalan terbesar dalam hubungan adalah diri sendiri. Anehnya, banyak orang justru sering menyalahkan orang lain.

Bagaimana kita bisa menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri (ayat 3b)? Jawabannya adalah kerendahhatian (tapeinophrosynē, LAI:TB “dengan rendah hati”). Terjemahan ini sebenarnya masih kurang jelas. Kata Yunani digunakan lebih berkaitan dengan pikiran daripada hati. Sebagian versi dengan tepat mengambil terjemahan: “kerendahan pikiran” (KJV “lowliness of mind”; NASB “humility of mind”). Makna ini selaras dengan kata “menganggap” (LAI:TB, hēgeomai) yang secara hurufiah berarti “mempertimbangkan” (RSV/NIV/ESV). Jadi, pertempuran terbesar terletak pada diri sendiri dan terjadi di dalam pikiran.

Kebenaran ini bertabrakan dengan sifat alamiah manusia yang sudah tercemar oleh dosa. Kita biasanya baru bisa menghargai orang lain kalau orang lain memiliki sesuatu yang melebihi kita. Kita lebih mudah merendahkan diri di depan mereka yang memiliki keutamaan. Tidak heran, kita sukar untuk bersikap rendah hati di depan smeua orang.

Prinsip Alkitab tidak seperti itu. Keutamaan orang lain dimulai dari perendahan diri kita sendiri. Secara lebih khusus, kita benar-benar menyadari kerendahan kita. Semua yang kita miliki kita terima dari Tuhan. Semua adalah anugerah. Tidak ada yang perlu dibanggakan.

Pikiran seperti ini akan menghindarkan kita dari pencarian kepentingan diri sendiri atau pujian yang sia-sia (LAI:TB, ayat 3a). Kata “kepentingan diri sendiri” (eritheia) lebih mengarah pada ambisi (NIV) atau persaingan (ESV). Kata “pujian yang sia-sia” (kenodoxian) mengandung arti “kehormatan yang kosong” (KJV). Dua hal ini harus terus-menerus diperangi dengan kerendahan pikiran; pikiran yang selalu dikuasai oleh kasih karunia. Tidak ada ruang bagi persaingan dan pencarian pujian di dalam hati yang sudah dirembesi oleh kasih karunia ilahi.

Bagaimana kita bisa memperhatikan kepentingan orang lain (ayat 4b)? Dengan menghindari kebalikannya. Kita tidak boleh hanya memperhatikan kepentingan sendiri (ayat 4a, mayoritas versi). Maksud Paulus, kita tidak boleh terus-menerus memperhatikan (skopountes) kepentingan diri sendiri. 

Kata “memperhatikan” (skopeō) di sini bukan sekadar melihat sesuatu. Memperhatikan berarti mengamati (3:17) atau berfokus pada sesuatu (2Kor. 4:18). Pada saat kita mencermati suatu objek, kita tidak akan bisa melihat objek-objek yang lain. Demikian pula jika kita selalu mencermati kepentingan diri sendiri, kita tidak akan mampu melihat kepentingan orang lain. Jadi, kita tidak dilarang untuk melihat kepentingan diri sendiri, tetapi jangan jadikan itu sebagai fokus yang terus-menerus. Kata kunci di sini adalah “fokus” dan “terus-menerus”. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :