Eksposisi Filipi 1:18b-20

Eksposisi Filipi 1:18b-20

Situasi yang sama bisa disikapi secara berbeda oleh orang yang berbeda. Faktanya sama, pemberian maknanya berbeda. Cara pandang menentukan tindakan.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam beberapa khotbah sebelumnya, Paulus sedang berada dalam penjara (kemungkinan besar di Roma). Keadaan ini diperparah dengan orang-orang Kristen tertentu yang bermaksud menambah beban Paulus dalam penjara dengan cara memberitakan Injil secara tidak tulus (1:15-18a). Walaupun demikian, Paulus tidak kehilangan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Injil bisa dikenal oleh para tentara dan penghuni istana (1:12-13). Sebagian orang Kristen bertambah berani memberitakan Injil (1:14). Terlepas dari motivasi tiap orang, sejauh yang diberitakan adalah Injil yang benar, Paulus tetap bersukacita dan mensyukurinya (1:15-18a).

Teks hari ini menerangkan alasan tambahan di balik sukacita Paulus. Alasan tambahan ini disiratkan melalui frasa “dan aku akan tetap bersukacita” di akhir ayat 18. Frasa ini merupakan pendahuluan bagi bagian selanjutnya (ayat 19-20), bukan pengulangan bagi ayat 18a. Beberapa versi Inggris sengaja memindahkan frasa ini di awal 19 untuk mengungkapkan poin tersebut. Jadi, Paulus tetap bersukacita karena akhir dari semua proses ini adalah keselamatannya.

Apa yang dimaksud dengan “keselamatan” (sōtēria) dalam konteks ini? Bagaimana Paulus bisa meyakini hal tersebut?

 

Apakah arti sōtēria di sini?

Kata ini bisa berarti “keselamatan” atau “kelepasan/pembebasan”. Beberapa versi Inggris memilih arti pertama (KJV “salvation”), sedangkan mayoritas versi lebih memilih arti kedua (RSV/NASB/NIV/ESV “deliverance”). Pilihan pertama lebih dikaitkan dengan keselamatan rohani, sedangkan yang kedua keselamatan dari penjara.

Memilih salah satu dari dua opsi ini memang tidak mudah. Konteks pembicaraan dari 1:12-25 memang pemenjaraan Paulus. Ayat 24-25 secara khusus menyiratkan keyakinan Paulus bahwa dia kemungkinan besar akan dibebaskan dari ancaman hukuman mati, bahkan dibebaskan dari penjara. Sangat masuk akal jika sōtēria di ayat 19a dipahami sebagai kelepasan/pembebasan dari penjara (baca: keselamatan secara jasmani).

Pembacaan yang lebih teliti ternyata menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Kata sōtēria di sini lebih tepat dilihat sebagai rujukan untuk keselamatan rohani, terutama di akhir zaman. Maksudnya, pemenjaraan dan permusuhan yang muncul berperan penting dalam proses pengudusan Paulus. Situasi buruk ini bukan hanya tidak akan menggoyahkan, tetapi justru menguatkan keselamatan.

Ada beberapa alasan untuk opsi ini. Pertama, kata “ini” (touto) di ayat 19 (“kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku”) lebih mengacu pada aktivitas musuh-musuh Paulus (ayat 15-18a), bukan sekadar pemenjaraannya secara umum (ayat 12-14). Jika ini benar, permusuhan yang disulut oleh mereka pada akhirnya menghasilkan sōtēria bagi Paulus. Jika dipahami sebagai kelepasan dari penjara, sukar dijelaskan bagaimana musuh-musuh itu berkontribusi bagi kelepasan Paulus.

Kedua, sōtēria ini bagaimanapun akan terjadi, entah melalui kehidupan maupun kematian Paulus (ayat 20 “baik oleh hidupku maupun oleh matiku”). Seandainya sōtēria merujuk pada kelepasan dari penjara, lebih masuk akal bila Paulus tidak usah menyebutkan kematiannya. Jadi, yang sedang dibicarakan bukan tentang keselamatan secara jasmani.

Ketiga, beberapa istilah yang muncul di ayat 20 biasanya muncul dalam konteks keselamatan secara rohani. Frasa “yang sangat kurindukan dan kuharapkan” (kata tēn apokaradokian kai elpida mou, lit. “menurut kerinduan yang besar dan pengharapanku”) mengandung dua kata yang sering muncul dalam tulisan Paulus pada saat dia membicarakan tentang keselamatan, terutama di akhir zaman. Kata apokaradokia hanya muncul di sini dan Roma 8:19, 22. Semuanya merujuk pada kerinduan terhadap penebusan final seluruh ciptaan di akhir zaman. Kata elpis merupakan istilah standar untuk pengharapan yang pasti di akhir zaman (Rm. 8:24-25).

Bagian terakhir ayat 20 juga memuat dua kata lain yang sangat lekat dengan keselamatan di akhir zaman, yaitu “tidak malu” (en oudeni aischunthēsomai) dan “dengan nyata” (en pasē parrēsia). Sayangnya, terjemahan LAI:TB “dengan nyata” kurang mengungkapkan makna di atas dengan baik. Frasa en pasē parrēsia seharusnya diterjemahkan “dengan segala keberanian” (mayoritas versi Inggris “with all courage/boldness”). Dua kata kunci dalam dua frasa di atas – yaitu aischunomai dan parrēsia – muncul bersamaan di 1 Yohanes 2:28 dalam konteks keselamatan di akhir zaman: “Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian (parrēsia) percaya dan tidak usah malu (aischunomai) terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya”.

Jika sōtēria di ayat 19 memang merujuk pada keselamatan rohani di akhir zaman – seperti telah dibuktikan di atas – kita sekarang bisa memahami apa maksud Paulus di ayat 19-20 dengan lebih baik. Pemenjaraan karena Injil maupun permusuhan dari orang-orang tertentu justru semakin menguatkan pengharapan Paulus. Penderitaan tidak melemahkan, bahkan semakin menguatkan pengharapan itu. Maksud Paulus sama dengan ucapannya di Roma 5:3-4 “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan”. Keadaan buruk tidak menyebabkan iman yang buruk. Iman yang buruk tidak akan bertahan dalam keadaan yang buruk. Tekanan tidak menghancurkan iman, hanya mengungkapkan kualitas iman itu yang sebenarnya.

 

Bagaimana penderitaan dapat berperan dalam pengudusan?

Apa yang memengaruhi sikap seseorang terhadap suatu keadaan? Mengapa keadaan yang sama bisa membawa hasil yang berbeda untuk orang yang berbeda? Lebih spesifik lagi, mengapa Paulus bisa yakin bahwa tekanan hanya akan menguatkan keselamatannya? Bukankah “iman” sebagian orang justru gugur pada saat diterjang hantaman yang keras? Apa rahasinya?

Pertama, doa syafaat komunitas orang percaya (ayat 19, dia tēs hymōn deēseō, lit. “melalui doa-doa kalian”). Keyakinan Paulus tidak muncul dari kesombongan. Dia benar-benar menyadari bahwa dia tidak mungkin bisa bertumbuh sendirian. Dia membutuhkan dukungan.

Poin ini sangat penting untuk digarisbawahi. Pertumbuhan rohani memang bersifat personal, tetapi prosesnya selalu komunal. Seorang pemimpin rohani ditumbuhkan melalui dukungan orang-orang yang dia pimpin. Diperlukan seluruh tubuh untuk menopang sebuah kepala.

Kedua, pertolongan Roh Yesus Kristus (ayat 19, epichorēgias tou penumatos Iēsou Christou). Kata benda epichorēgia merujuk pada sesuatu yang disediakan. Yang disediakan bisa pertolongan, bisa pula pemeliharaan. 

Frasa epichorēgias tou penumatos Iēsou Christou bisa dipahami dalam dua cara: (a) pertolongan yang disediakan oleh Roh Kudus atau (b) pertolongan, yaitu Roh Kudus. Pemunculan frasa yang hampir sama di Galatia 3:5 mengarah pada opsi terakhir (ho oun epichorēgōn hymin to pneuma, LAI:TB “Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu”, lit. “Ia yang menyediakan Roh kepada kamu”).

Pertumbuhan rohani Paulus bukan hanya dipengaruhi oleh doa-doa jemaat, tetapi – lebih daripada itu – oleh kehadiran Roh Kudus. Allah selalu menyediakan Roh-Nya sebagai Penolong. Tidak ada anak Tuhan yang sendirian, apalagi di tengah tekanan.

Ungkapan “Roh Yesus Kristus” bukan berarti Roh Kudus identik dengan Yesus Kristus. Sesuai konteks yang ada, “Roh Yesus Kristus” sangat mungkin merujuk pada Roh Kudus yang selalu mengarahkan kehidupan Paulus pada Yesus Kristus. Yang selalu dipikirkan dan diutamakan oleh Paulus adalah kemuliaan Kristus. Melalui karya Roh Kudus dalam hidupnya, Paulus mampu untuk selalu memuliakan Kristus dalam keadaan apapun, baik dalam kehidupan maupun kematian.

Natur manusia yang berdosa akan selalu mengarahkan setiap orang pada kesenangan dan kenyamanan dirinya sendiri. Kepentingan diri sendiri menjadi pusat sorotan. Hanya melalui Roh Kudus hati kita dapat dicondongkan pada kepentingan Kristus. Apapun yang terjadi akan diandang dari perspektif Kristus. Apa saja yang membawa kemuliaan lebih besar bagi Kristus Tuhan akan selalu menjadi pilihan dan tujuan.

Tidak gampang memang, tapi juga tidak mustahil. Ada orang-orang percaya lain yang siap menopang dalam doa-doa mereka. Ada Roh Kudus yang siap mencodongkan pikiran kita kepada Kristus. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :